
Rasa menggelitik seperti kupu-kupu beterbangan dialami Mia untuk kesekian kalinya. Semua itu tidak lain tidak bukan karena ulah si Om ganteng. Pria dewasa itu pula yang telah merebut ciuman pertamanya.
Dasar pencuri!
Kini ia di sini, duduk memangku kepala orang yang selalu membuat jantungnya berdebar. Pangutan itu cukup lama terjalin hingga Mia hampir kehabisan nafas, Angga seolah menghisap semua saliva di rongga mulut gadis itu.
“Hhmmmpp…”
Seringai terulas di bibir Angga saat melepas ciuman yang tadinya lembut menjadi menuntut. Oh, ia sangat sulit menahan diri. Apakah mungkin karena terlalu lama melajang? Tidak juga, karena semua itu terjadi jika dirinya di dekat Mia.
Mia mengusap bibirnya yang basah, matanya mendelik dengan wajah merah merona. “Om mau bikin aku mati ya?”
“Tidak, karena kita akan menua bersama,” ucap Angga lembut seraya memainkan jari Mia dan mengecupnya. Pria ini benar-benar membuat Mia tidak dapat berkutik.
“Hentikan Om,” ucap Mia lirih.
“Berhenti apa?”
“Hentikan bersikap manis... aku takut jantungku tidak kuat menerima semua sikapmu ini,” Mia memalingkan wajahnya karena malu. Gadis itu belum terbiasa dengan sikap Angga yang menurutnya sangat romantis hingga membuatnya meleleh.
Gelak tawa terdengar menghiasi ruangan, baru kali ini Mia melihat Angga tertawa lepas. Menambah ketampanannya berkali-kali lipat, Mia sampai terpesona dibuatnya. Tawa itu terhenti digantikan tatapan dalam pada Mia.
“Aku hanya mengungkapkan perasaanku padamu,” Angga bangkit dari pangkuan Mia, ia menarik dagu gadis itu menghadapnya. “Rasa ini terlalu dalam, hingga membuatku tidak bisa jauh. Sesak saat melihatmu bersama pria lain, apa yang kau lakukan padaku, Mia?”
Mata abu-abu itu mengerjap, mencari adakah kebohongan dari semua kata pria idamannya? Tapi tidak ia temukan, hanya ada tatapan penuh cinta dan penyesalan di sana. Mia mengusap wajah Angga hingga pria itu memejamkan mata, meresapi setiap sentuhan Mia.
"Jangan pergi lagi... jangan lari lagi... jangan," suara Angga terdengar penuh kesakitan hingga membuat Mia merengkuhnya dalam pelukan.
Hatinya ngilu, cukup lah Angga menderita oleh penyesalan. Gadis itu tidak mau lagi menjadi egois dan terbutakan amarah sesaat.
"Aku di sini Om, bersamamu."
Angga mengeratkan pelukan, perkataan Mia bagai angin di tengah gurun sahara. Menyejukkan hati.
"Terima kasih."
🌷🌷🌷
Mia berjalan melamun nengikuti kemana kakinya melangkah. Jiwa dan raganya seolah terpisah sejak ia keluar dari ruangan Angga. Pipinya memanas jika kembali mengingat perkataan Angga sebelum ia pergi.
__ADS_1
Flashback On
"Aku ingin meminta sesuatu, ini sebagai bukti jika kau benar-benar memaafkanku," ucap Angga. Mereka berdua sudah berdiri di depan pintu ruangannya.
"Om minta apa?" tanya Mia penasaran.
"Berikan aku satu ciuman setiap hari!" senyuman menggoda mengiringi setiap kata yang terlontar dari bibirnya.
"A-apa?" Mia membulatkan mata tidak percaya.
"Tidak ada penolakan, dan jangan sampai terlewat 1 hari pun!" Angga mendorong Mia keluar ruangan, pria itu tidak memberikan kesempatan pada Mia untuk menolak.
"Ta-" Mia hendak protes, namun pintu sudah tertutup. Pria licik itu pandai menganbil kesempatan.
Ya ampun, dasar mesum!
Mia menghentakkan kakinya gemas. Dengan menahan gejolak di hati ia memilih berbalik badan untuk meninggalkan tempat itu. Baru beberapa langkah Mia berjalan, ia mendengar pintu ruangan Angga terbuka, pria itu berseru dengan lantang.
"Jika terlewat hingga matahari terbenam, aku akan mengambilnya sendiri!" Angga kembali menutup pintu meninggalkan Mia yang ternganga.
Mengambilnya sendiri? Ia akan menciumku di mana saja? Dasar pemaksa, mesum! Tapi aku cinta... aaakkhhh...
Mia menyugar rambutnya. Ia memilih pergi dengan perasaan tidak menentu.
Sesampainya di kamar asrama, Mia memilih membersihkan diri. Berendam sepertinya menyenangkan. Menaruh asal ransel hingga ponselnya terjatuh ke samping ranjang. Mia tidak menyadari itu, ia melenggang pergi memasuki kamar mandi.
Samantha baru saja memasuki kamar dan terusik oleh suara dering ponsel Mia yang tidak kunjung berhenti. Untungnya ponsel itu memakai sandi sehingga orang lain tidak dapat membukanya begitu saja. Samantha mengambil ponsel itu dan melihat siapa yang menelpon.
'Om Ganteng'
Dahinya mengeryit, saat ingin menekan tombol hijau panggilan terhenti. Terdapat 3 pesan masuk di sana, namun hanya sekilas dapat terlihat dan lagi beruntung karena yang mengirim pesan menggunakan bahasa yang Samantha tidak mengerti.
Tidak mau ambil pusing, gadis itu pun menaruh ponsel Mia di meja belajarnya. Samantha memilih membaca majalah fashion terbaru di atas ranjang.
30 menit kemudian Mia keluar dari kamar mandi dengan handuk kimono, berendam membuat tubuhnya kembali segar. Ia mengeringkan rambut dengan handuk kecil, mengusapnya perlahan. Pergerakan Mia memecah atensi Samantha pada majalah. Ia pun merubah duduk di sisi ranjang.
"Mia, someone called you earlier. Your cell phone is under the bed, so I moved it," (Mia, tadi ada yang menelponmu. Ponselmu di bawah ranjang, jadi aku memindahkannya) jelas Samantha.
"Oh, yes? thanks. I'm reckless sometimes," (Oh, ya? Terima kasih. Aku kadang ceroboh) Mia meringis mengambil ponselnya, berharap tidak ada retak di sana.
__ADS_1
Helaan nafas lega ia hembuskan, karena ponselnya masih mulus seperti semula. Samatha seolah penasaran, ia memperhatikan Mia yang sedang mengutak atik ponselnya.
[Baru sebentar kau pergi aku sudah rindu...]
[Sayang... lagi apa?]
[Apakah temanmu ada? Jika tidak, aku akan melompat ke kamarmu dan memelukmu semalaman!]
Mata Mia membola membentuk lingkaran 360°. Omnya itu bertingkah layaknya anak SMA yang sedang kasmaran. Melontarkan rayuan maut hingga membuat Mia merinding. Gurat merah pun menghiasi pipinya.
Samantha tidak dapat menahan diri lagi untuk melontarnya tanya. "Who? Is it from your boyfriend? Your face is flushed red," (Siapa? Apakah dari pacarmu? Wajahmu memerah) ucapnya menggoda.
Mia terkesiap, memalingkan wajahnya yang sudah merah padam. Seperti habis mandi sauna. "Um, that ... I better sleep!" (Ehm, itu... sebaiknya aku tidur!) Mia langsung menaiki ranjang tanpa berpakaian terlebih dahulu. Ia masih mengenakan handuk kimononya.
"Hey, don't be embarrassed! Tell me who is your boyfriend? You are 1 country? Sorry I peeked at your message but unfortunately I don't understand," (Hei, tidak usah malu! Katakan siapa pacarmu? Kalian 1 negara? Maaf aku mengintip pesanmu tapi sayangnya aku tidak mengerti) Samantha menyusul Mia ke atas ranjang, gadis itu sangat ingin tau siapa yang menelpon dan mengirim pesan pada Mia.
"Goodnight, Sam!" (Selamat malam, Sam!)Mia memilih memejamkan mata menghindari introgasi teman sekamarnya. Samantha tersenyum kecut karena tidak berhasil mendesak Mia, ia beranjak dari ranjang Mia menuju ranjangnya.
Suara notifikasi pesan masuk kembali terdengar, dengan perlahan Mia mengintip ke arah ranjang Samantha. Terlihat temannya sedang asik mendengarkan lagu dengan earphone. Mia Diam-diam membuka pesan, senyuman kecil tersungging di bibirnya sebelum ia kembali memejamkan mata.
[Mimpikan aku, my love.]
(Oh tenang saja Om, author pasti mimpiin Om!)
🌷🌷🌷
Pagi ini cukup menguras energi, ada rasa penyesalan saat ia memberikan no. ponsel pada Angga. Pria itu terus mengirim pesan, dan akan berhenti jika Mia membalasnya.
[Cepat bangun, mandi! Jangan lupa ciumanku!]
Mia memijat pelipisnya, sebenarnya yang masih remaja itu siapa? Ia tidak pernah tau Angga memiliki sisi seperti ini.
[Bisa minta diskon gak, Om? Seminggu sekali, gimana?]
[Gak!]
Gadis itu mengeratkan genggaman pada ponselnya. Bagaimana caranya bernegosiasi pada Angga yang keras kepala?
Please rate, vote dan likenya yach!
__ADS_1
Sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!
Aku hutang 1 part, lagi ngejar. huhuhu.