
Le Rosey
Hari berganti hari, bulan berganti bulan waktu berputar sangat cepat bagi yang tidak menunggu namun sangat lambat untuk mereka yang saling menanti.
Tumpukan surat tertata rapi di meja belajar Mia. Setiap bulan Angga mengirimkannya pada gadis itu, sulitnya komunikasi hingga hanya bisa mengabari Mia lewat selebar kertas. Pesan rindu serta dukungan dari Angga membuat Mia semakin semangat menjalani hari namun, sudah 2 bulan surat itu tidak kunjung bertambah. Tepat hari ini satu tahun sudah Angga pergi dan hari ini pula upacara kelulusan dilaksanakan, esok Mia sudah bukan pelajar lagi. Gadis itu menghela nafas lelah.
"He must be fine," (Dia pasti baik-baik saja) Samantha mengusap bahu Mia memberikan rasa menenangkan pada gadis gendut itu.
Mia menoleh dengan senyum simpul. "I'm sure he's fine, it's just weird not reading the letter in these 2 months." (Aku yakin ia baik-baik saja, hanya aneh rasanya jika tidak membaca surat selama 2 bulan ini)
"Miss him? Hug me, imagine I am him," (Rindu ya? Peluk aku, bayangkan aku adalah dia) ucap Samantha sambil merentangkan tangan dan menaikkan alisnya. Mia malah tergelak geli melihat tingkah sahabatnya itu.
"No, you are too slim. I need a muscular body," (Tidak, kau terlalu ramping. Aku butuh tubuh yang kekar) ledek Mia.
"Oohh, don't tell me you're after my Louis. I won't allow it!" (Oohh, jangan bilang kau mengincar Louisku. Tidak akan ku ijinkan!) ketus Samantha memalingkan muka. Sekilas info saja, jika Samantha dan Louis kini berpacaran. Semenjak Louis ditolak Mia, Samantha gencar menebar pesona pada pria itu.
Gelak tawa Mia semakin terdengar, ia senang sekali mengerjai sahabatnya ini. Membuat cemburu hanya dengan ucapan, Samantha tau Louis menyukai Mia dan entah masihkah rasa itu ada? Samantha tidak memikirkannya. Ia hanya berfikir, tak kenal maka tak sayang, karena itu ia terus mendekati Louis hingga membuat pria itu terbiasa olehnya dan benih cinta pun akan timbul dengan sendirinya.
"Louis's body is too strong, I can be crushed if he hugged him." (Tubuh Louis terlalu kekar, aku bisa remuk jika dipeluknya)
Mata Samantha menajam. "Have you ever hugged him?" (Kau pernah dipeluk dia?)
Mia memilih pergi dengan seribu kaki meninggalkan Samantha dengan rasa cemburunya. Samantha tidak mau melepas Mia kemudian ikut mengejarnya. "Don't go away, explain to me, Mia!" (Jangan pergi kau, jelaskan padaku, Mia!)
"Geez Sam, I'm just talking." (Ampun Sam, aku hanya asal bicara) ucap Mia sambil berlari. Mia memegang toganya agar tidak terjatuh.
Mereka berdua saling mengejar membuat koridor ramai dengan gema langkah kaki mereka.
Sampailah di depan Aula dengan nafas terengah-engah. Samantha menepuk pundak Mia gemas, tidak percaya jika ia kalah cepat dengan gadis yang berbobot 90kg.
"How could ... hah ... you ... hah ... run that fast ... hah ... tired!" (Bagaimana bisa... hah... kau... hah... berlari secepat itu... hah... capek!) keluhnya dan menyenderkan tubuh pada Mia.
"Secret..." (Rahasia...) celetuk Mia semakin membuat Samantha bersungut-sungut.
"Stingy," (Pelit) Mia hanya menjulurkan lidah meledek Samantha.
"I still can't believe if you are dating Mr. Angga, didn't you say he is not your type?" (Aku masih tidak percaya jika kau berpacaran dengan Pak Angga, bukankah kau bilang ia bukan tipe mu?) ujar Samantha asal, ia berkata hal yang lain dari yang di bahas tadi.
Mia baru saja ingin menjawab namun kemudian tubuhnya membeku saat suara familiar terdengar.
"So, I'm not your type Mia?" (Jadi, aku bukan tipemu Mia?)
Dua gadis yang membelakangi suara itu terdiam sesaat hingga akhirnya Mia menoleh ke belakang dengan cepat. Siluet seseorang tampak samar karena terpaan sinar matahari pada tubuhnya, mata Mia melebar kemudian saat penampakan itu semakin jelas.
Angga berdiri gagah dengan pakaian casualnya menambah kadar ketampanan yang semakin matang hanya saja kulitnya sedikit gelap, mungkin karena di sana ia selalu berada di bawah sinar matahari langsung. Di tangan kanannya terdapat bucket bunga mawar merah terangkai cantik. Mia masih tidak bergeming, apakah ini benar kenyataan atau kah hanya mimpi di pagi hari.
__ADS_1
"Om... kaukah itu?" Mia berjalan mendekat. Angga tidak menyahut, ia hanya mengulum senyum yang selalu membuat Mia rindu.
"Selamat atas kelulusanmu, cum laude menjadi kado untuk orang tuamu," ucapnya menyadarkan Mia jika benar ia adalah Angga.
Gadis itu menghambur memeluknya, hari ini merupakan hari yang sangat bersejarah bagi hidupnya. Menghadiri upacara kelulusan didampingi oleh orang yang dicinta.
Tidak lama Keluarga Adinata datang, mereka telah duduk di kursi yang telah disiapkan pihak penyelenggara upacara kelulusan. Jack dan Maya duduk bersebrangan dengan Mia dan Angga, Maya melambaikan tangan pada Mia yang disambut oleh senyum merekah gadis itu.
Tiba saat Mia menaiki panggung dan mengutarakan pidatonya, diakhir kata ia mengucapkan syukur atas semua kebahagiaan yang telah tuhan berikan. Tidak lupa ia menyematkan nama Angga dan juga ke-dua orangtuanya.
Acara pun usai, Mia berpamitan dengan Louis dan Samantha.
"We'll miss you, Mia." (Kami akan merindukanmu, Mia) Samantha berkata dengan sedih, baru kali ini ia memiliki sahabat seperti Mia.
"I'll miss you too," (Aku juga akan merindukanmu) Mia memeluk Samantha, mengusap punggung gadis itu lembut.
"Come to our country, because soon we will get married," (Berkunjunglah ke negara kami, karena sebentar lagi kami akan menikah) sahut Angga yang di balas oleh tatapan malas Louis.
"You're getting married so fast?" (Kalian akan menikah secepat itu?) Mata Samantha berbinar, dengan begitu ia akan bertemu lagi dengan Mia.
Mia hanya menunduk malu, Angga menyeringai melihat hal itu.
"Take care of yourself, we will be there when the good news arrives," (Jaga dirimu baik-baik, kami akan ke sana saat kabar baik itu tiba) ujar Louis. Pria itu telah merelakan cintanya yang bertepuk sebelah tangan. Kini sudah ada gadis lain yang mencintainya, ia akan mencoba membuka hati.
Apartement Jack Adinata
Mia bersama keluarganya akhirnya kembali ke Apartement Jack, Angga menyusul ke sana.
Semua anggota keluarga berkumpul di ruang tamu, Angga duduk bersama Mia sambil berpegangan tangan sedangkan yang lain seperti seorang hakim berada di hadapan mereka. Keadaan yang berhasil membuat seorang Sastroadji gugup bukan main.
"Kau sudah berhasil memenuhi syaratku, Angga. Aku ucapkan selamat," Maya mengulurkan tangannya.
Angga tampak tidak bergeming, ia masih tidak menyangka jika akan diberikan kata selamat dan di sambut dengan hangat oleh keluarga Jack.
"Om..." Mia membuyarkan atensinya.
Angga pun menyambut uluran itu namun, detik kemudian uluran itu ditarik Jack. Pria itu dengan segala keposesifannya.
"Tidak perlu berjabat tangan segala, cukup ucapan selamat saja." Jack berkata dengan ketus. Angga hanya tersenyum menanggapi sikap Jack yang tidak pernah berubah.
"Daddy apaan seh, gak sopan!" Maya memekik karena tingkah suaminya yang kekanak-kanakan.
Pria itu melengos dan menyesap kopinya dengan santai. Catherine yang sedang menggendong Noah memanggil Mia untuk pergi bersamanya.
"Mia, bisa temani tante sebentar?" pinta Catherine. Mia menatap Angga yang seolah melarangnya untuk pergi, gadis itu tersenyum. Sepertinya akan ada pembicaraan serius antara Angga dan orang tuanya. Mia pun memilih ikut menemani Catherine, sebelum pergi ia berbisik pada Angga.
__ADS_1
"Aku akan segera kembali, Om!"
Angga dengan tampang memelas hanya bisa pasrah ditinggal Mia. Ia menelan saliva kasar saat melihat raut wajah Jack yang menjadi serius.
"Apa langkahmu selanjutnya, Angga?" tanya Jack serius.
"Aku ingin segera menikahi Mia," jawab Angga mantap.
"Kau yakin? Usia Mia masih sangat muda, apa kau sanggup mengimbanginya?" ujar Angga.
"Mia memiliki pemikiran yang dewasa meski usianya masih muda, dan jangan ragukan keperkasaanku, Jack!"
Jack tersedak kopinya mendengar penuturan Angga yang melenceng dari pertanyaannya sedangkan Maya memalingkan wajah karena malu.
"Aku tidak bahas itu, kau... dasar mesum! Bagaimana bisa kau bicara seperti itu di depan Maya? Kau mau menggodanya?" cecar Jack dengan emosi.
"Aku tidak menggoda Maya, aku sudah punya Mia!" Angga berusaha membela diri.
"Akan ku pikir ulang masalah lamaranmu itu," Angga melonjak kaget mendengar penolakan Jack.
"Tidak bisa, jika kau menolak. Aku akan membawa Mia pergi!" ancam Angga tersulut emosi, Jack sampai melebarkan matanya. Maya berusaha melerai mereka.
"Maaf Angga, Jack hanya belum siap kehilangan putrinya. Mohon kamu mengerti," bujuk Maya.
"Bagaimana denganku? Aku tidak bisa hidup tanpanya, aku ingin segera menikahinya karena aku menghargainya. Aku minta kalian mengerti akan hal itu," sanggah Angga frustasi.
Jack menatap Angga yang terlihat kacau, ia hanya ingin menguji Angga sekali lagi namun sepertinya tidak perlu. Ia tau jika Angga benar-benar mencintai Mia, ia menghela nafas kemudian berkata.
"Nikahi Mia minggu ini! Lewat dari itu restuku akan ku tarik," Jack beranjak dari sofa dan melenggang pergi setelah mengucapkan kata yang berhasil membuat hati Angga terbalik dari putus asa menjadi penuh harapan.
"Tolong jaga Mia," ucap Maya tulus.
"Terima kasih Maya, TERIMA KASIH DADDY!" teriak Angga sebelum ia diusir oleh Jack karena panggilan itu.
"SIALAN! AKU BUKAN DADDYMU!!!"
Please rate, vote dan like yach!
Sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!
Akan segera berlabuh kapal Mia dan Angga... aseeeekk
bye bye Louis and Sam... see you!
__ADS_1