
Cukup lama Angga pergi, Mia menunggu dengan setia di tempat tadi agar Angga tidak sulit mencarinya. Yanti mendekat dan mengajaknya bicara agar gadis itu tidak bosan.
"Tuan masih belum kembali?" tanya Yanti.
Mia menoleh, ia tersenyum tipis dan mengedikan bahunya. "Belum, mungkin ada panggilan masalah kerjaan," jawab Mia.
Yanti mengangguk mengerti. "Hm... aku mau tanya sesuatu, boleh?" suaranya pelan namun masih terdengar.
Alis Mia mengkerut ingin tau. "Tanya apa Kak?" sahutnya.
"Itu... anu... hm... gimana rasanya... malam pertama?" ucap Yanti lirih.
Mendapat pertanyaan seperti itu sontak membuat Mia membelalakan mata. Pipinya langsung merona. Iya mengusap tengkuknya yang tidak gatal.
"Hmm... aduh, rasanya ya?" Mia mengedarkan pandangan menahan gugup. Apa yang harus ia jawab? Ia juga bingung. Rasanya ya enak, apalagi dilakukan bersama orang yang dicintai, rasanya sulit untuk dijabarkan. Bulu romanya merinding, karena bayangan Angga yang mencumbunya jadi berseliweran memenuhi kepala.
"Hm, Kak. Aku ke toilet dulu ya, kebelet!" Mia berusaha menghindar. Ia segera pergi ke toilet meninggalkan Yanti yang dipenuhi rasa penasaran.
"Yah, kok pergi seh?" ucapnya kecewa.
🌷🌷🌷
Mia bernafas lega akhirnya bisa terlepas dari pertanyaan yang menurutnya absurd. Kepalang tanggung Mia pun memilih memasuki toilet meski ia tidak ingin. Di balik pilar terdengar suara Angga hingga membuatnya urung untuk memasuki toilet.
[Ah yang benar? 3 bulan lagi acara reuni fakultas kita?]
[...]
[Aku pasti dateng klo kamu dateng, Tania,]
[...]
[Ahahahhaha... emang dia orangnya gokil banget.] tawa Angga terdengar renyah sekali.
__ADS_1
Mia masih berdiri di balik pilar sambil meremas gaunnya merasakan perasaan nyeri yang aneh, siapa Tania? Kenapa suaminya sangat ingin pergi jika orang itu datang? Lama kelamaan suara itu samar karena Angga berjalan menjauhi lokasi Mia berada.
Apa suaminya menyukai wanita lain? Bahkan pernikahan mereka belum 1 bulan. Mia menggeleng, mungkin itu hanya temannya. Ia harus berfikir positif dan mempercayai Angga sebagai suaminya. Mia memilih memasuki toilet, ia ingin membasuh muka dengan air agar hatinya yang sempat panas ikut menjadi mereda.
Om sangat mencintaiku, perjuangannya selama ini untuk bersamaku tidak lah mudah. Ini pasti hanya salah paham. Batinnya.
Mia kembali ke tempat tadi ia menunggu Angga, tanpa disangka ternyata Angga sudah ada di sana. Ia menoleh saat Yanti menunjuk ke arah Mia. Angga segera menghampiri gadis itu lalu memeluknya.
"Kamu ke mana aja, sayang? Aku cariin kamu dari tadi," ucap Angga masih mendekap Mia.
Mia tersenyum, benar apa kata hatinya. Jika suaminya sangat mencintainya, jadi tidak mungkin pria itu menyukai wanita lain. Mendadak hati Mia menghangat. "Aku ke toilet kok," ia mendongak menatap suaminya. "Yang lama itu kamu, sayang."
Sudut bibir Angga tertarik membentuk senyum, akhirnya Mia mau memanggilnya sayang tanpa malu dan kikuk lagi. Pria itu mengeratkan pelukan. "Iya aku yang salah, harusnya gak ninggalin kamu. Tadi aku telponan sama sahabat aku sampe lupa waktu, maafin aku ya," tambahnya.
Bibir Mia mengerucut. "Sampe lupa punya aku juga?"
Angga melepas peluk dan memegang kedua bahu Mia. "Gak mungkin dan gak akan pernah aku lupa sama kamu, sayang. Ingat itu ya!"
Angga kembali membawa istrinya ke dalam pelukan. Ia merutuki sikapnya yang tadi asik sendiri. Jika sampai Mia menghilang dan dibawa pria lain, ia pasti mati berdiri. "Gak akan ada yang bisa culik kamu, soalnya cuma aku yang sanggup gendong kamu." jawabnya setengah geli.
Mia mencubit perut Angga hingga pria itu mengaduh, namun masih tetap memeluk. Angga tergelak, Mia tersenyum. Ternyata Angga bisa tertawa lepas seperti tadi dengan bersamanya. Segala prasangka itu kini memudar hilang terbawa angin.
Yanti menatap iri pasangan pengantin baru tersebut. Ia melirik Bara yang hanya diam saja dari tadi. "Mas, lihat tuh Tuan Angga. Mesra sekali ya sama Nona Mia, aku jadi iri,"
"Nanti mesra-mesraannya kalo udah di kamar," ucap Bara asal. "Lagian ini masih di tempat umum, malu lha klo peluk-pelukan kaya Tuan," tambahnya.
"Tuan Angga gak malu tuh, malah keliatan romantis," celetuk Yanti tidak mau kalah.
Bara mengulum senyum, istrinya ini memang haus kasih sayang. Sepertinya ia terlalu banyak membaca novel, jadi bawaannya baper terus. "Tuan Angga mah bebas aja, beliau kan sultan. Mana ada yang berani negur," jelasnya.
Dari kejauhan terlihat Angga yang mencumbu Mia tanpa malu-malu. Bara tidak mungkin seperti itu, bisa disambit Pak Tarjo pake sapu nanti. Yanti sampai menutup mulutnya.
"Ya ampun, ia juga seh. Tuan Angga gak liat-liat tempat ya," matanya masih melotot melihat acara live sepasang suami istri yang berciuman mesra membuat Yanti merinding.
__ADS_1
Bara menutup mata Yanti dengan kedua tangannya. "Udah jangan diliatin! Nanti aku cium di kamar, sabar donk!" pria itu agak kesal karena Yanti dengan serius melihat Tuannya. Ada rasa tidak nyaman saat Yanti terus berceloteh ingin seperti pasangan di seberang sana.
Dengan cepat Yanti menggenggam tangan Bara, pria itu memundurkan tubuh karena sikap Yanti itu. "Bener ya Mas, cium aku mesra lho," Yanti menatap Bara nakal.
Pria itu hanya bisa menelan saliva kasar. Bisa habis dia dimakan Yanti malam ini. Oh, gadis yang sangat agresif. Apalagi pada prianya. Yanti tidak akan melepaskan Bara begitu saja.
🌷🌷🌷
Mia menghentakkan kaki saat meninggalkan hotel menuju lobby, ia kesal pada suaminya yang tanpa malu menciumnya di depan umum. Bukan ciuman biasa, tapi ciuman penuh hasrat. Mia sampai menginjak kaki Angga agar pria itu berhenti. Wajah gadis itu merah padam menahan malu, bagaimana bisa suaminya sangat mesum dan tidak tau tempat.
"Sayang, kok suaminya ditinggal?" panggil Angga.
Gadis itu menoleh dan menghentikan langkah, ia menatap suaminya horor. "Lain kali liat tempat donk, ini kan di tempat umum. Malu!" keluhnya.
"Untuk apa malu, semua orang tau kita suami istri. Wajar aku cium kamu, sayang," seloroh Angga.
Mia mengurut pangkal hidungnya karena pening. Angga yang melihat itu langsung heboh. "Sayang, kamu sakit?" tanyanya khawatir.
"Aku gak sakit," jawabnya. "Kita bisa mesra-mesraan di tempatnya, jangan gitu lagi ya!" pinta Mia.
Angga mengangguk, ia menurut seperti anak kecil pada ibunya. "Klo cuma gini gak apa-apa kan?" pria itu mengecup sekilas bibir Mia.
Mata Mia membola mendapat kecupan tiba-tiba. Ia mengangguk pelan, namun detik berikutnya Angga menghujaninya dengan kecupan bertubi-tubi.
Aaahhh... ini mah sama sajaa!!! Batin Mia menjerit.
Please rate, vote dan likenya yach!
Sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!!!
Ayo vote aku kk2 ku sayang... 😍😍
Lagi lancar jaya neh buat up tiap hari.
__ADS_1