
Hotel ***
Pusing... Itu yang tiba-tiba dirasakan Mia, semua terlihat bergoyang. Bahkan detak jarum jam terlihat berjalan begitu lamban.
Mia menggelengkan kepala berusaha mengusir rasa aneh pada tubuhnya. Ia merogoh ponsel dari saku jaket, serasa tidak bertenaga untuk sekedar menggenggam. Ponsel pun terjatuh di lantai. Mia berusaha menggapainya namun ia malah ikut ambruk karena rasa lemas yang menjalar.
Kenapa badan jadi lemes gini?
Tidak lama pintu kamar terbuka, Mia berpaling untuk melihat siapa yang membukanya. Mia sangat bersyukur ada yang menolongnya, tapi 2 wajah asing yang berdiri menjulang di hadapannya memudarkan senyum yang sempat terukir di wajah.
"Siapa kalian?" Ucapnya lirih nyaris tidak terdengar.
Salah satu dari mereka menutup pintu dan menguncinya. Mia mulai merasa tidak beres karena 2 pria asing yang sengaja mengunci dirinya di dalam kamar.
"Ini orangnya?" Pria berkulit agak lebih putih dari temannya itu mendekati Mia, meraih dagunya untuk mendongakan wajah. "Cantik! Meski gendut."
"Menurut gue gak gendut banget, gue suka yang berisi kayak gini. Lebih menggairahkan!" Ucapan pria yang kulitnya lebih gelap membuat bulu kuduk Mia meremang. Tubuhnya tidak bisa bergerak sekedar untuk menepis tangan pria itu dari wajahnya.
Jika dalam keadaan normal, mungkin kaki dan tangan mereka sudah patah oleh Mia.
"Tolong, lepasin aku..." Mia memohon meski tidak tau hasilnya. Sambil menatap sayu 2 pria tersebut.
"Kita main-main dulu. Gue yakin loe bakal suka." Pria berkulit lebih gelap membelai pipi Mia, jarinya turun pada bibir bawah. Bibir pink pucat yang menggoda.
__ADS_1
Mia berusaha memalingkan kepala saat wajah pria itu mendekat dan ciuman pun jatuh pada pipinya. Mia memejamkan mata hingga buliran bening pun membasahi pipinya.
"Tolong, jangan...!" Suaranya pelan. Ini semua pasti effect dari minuman yang ia minum tadi, Mia merutuki kecerobohannya.
"Stss... Don't cry baby! Gue janji gak akan kasar." Pria itu mengusap pipi Mia, pipi chabi yang menggemaskan menurutnya.
Mia memutar otak, bagaimana caranya untuk lepas dari kandang harimau ini. "Gimana... Gimana klo kita ngobrol dulu." Tawar Mia, berusaha agar suaranya terdengar.
Setengah alis pria yang berkulit putih naik, baru kali ini ada sandera yang mengajak ngobrol. Ia tau ini pasti untuk mengalihkan mereka, tapi mau seperti apapun gadis gendut ini berusaha hasilnya akan tetap sama. Gadis itu tidak akan bisa lepas darinya sebelum misi tercapai.
"Andrew, cewek ini ngajakin ngobrol." Kekehan terdengar dari pria berkulit agak gelap.
"Terserah loe, mau gimana juga dia gak bakal bisa kabur!"
"Ok, kita ngobrol dulu supaya loe rileks pas kita main nanti." Sahut pria yang berkulit agak gelap.
Berusaha mengabaikan perkataan vulgar pria itu, Mia mengajaknya berbicara. "Nama-"
"Ah iya, nama gue Doni. Loe bisa teriakin nama gue nanti." Senyum mesum ia berikan pada Mia. "Oh ****, gue udah gak bisa nahan lagi. Gue suka sama loe, jadi kita main sekarang ya!"
Mata Mia membulat seketika, ini bukan rencananya. "Tu-tunggu..."
"Drew, bantuin gue pindahin dia, Gue gak yakin bisa angkat sendiri." Pinta Doni.
__ADS_1
Andrew memutar matanya malas. "Makanya makan loe banyakin biar body gak kalah sama neh cewek. Biar gue sendiri yang angkat!"
Dengan tarikan nafas panjang Andrew mengangkat tubuh besar Mia. Doni menganga lebar karena Andrew sanggup mengangkat Mia seorang diri.
"Fyuh... Gue harus banyak olah raga lagi!" Andrew mengusap peluh setelah memindahkan Mia ke ranjang.
Sedangkan Mia hampir hilang kesadarannya, ia sudah tidak bisa mengeluarkan suara karena terlalu lemas.
Doni menarik Andrew menjauhi ranjang. "Drew, kesepakatan boleh dirubah gak?"
"Maksud loe?"
"Uang hasil kerja kita loe ambil semua, tapi gue minta. Loe gak sentuh dia!"
"Hah?"
"Boleh ya, abis ini gue mau jadiin dia pacar gue." Doni menangkupkan kedua tangan di hadapan Andrew yang menganga lebar mendengar kata dari temannya. Pukulan pun mendarat di kepala Doni.
Plak
"Loe sinting ya? Mana ada cewek abis diperkosa mau jadi pacar yang merkosa dia. Otak loe eror!"
Doni mengusap kepalanya yang sakit akibat pukulan Andrew. "Gak ada negosiasi, tetep di rencana awal! Pilihannya cuma loe mau duluan apa gue yang duluan?" Doni langsung membelalakkan matanya.
__ADS_1
"Gue! Gue duluan!" Pintanya agak berteriak.