
Rumah Sakit ***
Waktu terus berjalan hingga tengah malam kini berubah menjadi fajar. Angga menunggu dengan penuh rasa penyesalan, andai ia tidak terus menekan Mia akan tuduhannya meracuni Tania, semua tidak akan terjadi, pria itu mencengkram rambutnya hingga berantakan.
Ruang UGD terbuka, tampak Mia dibawa menuju ruangan lain. Dokter wanita menghampiri Angga yang juga beranjak dari duduknya.
"Bagaimana istri saya, Dok? Dia baik-baik saja kan?"
Dokter paruh baya itu menghela nafas lelah. Lelah dengan semua orang yang selalu menanyakan hal sama. Baik-baik saja? Ia lalu menatap Angga dengan serius.
"Mohon persetujuannya. Kami akan melakukan kuretase, karena istri Bapak mengalami pendarahan dan keguguran,"
Dunia Angga serasa runtuh, tubuhnya mendadak lemas tidak bertulang. Lidahnya kelu sekedar untuk mengeluarkan kata. Rasanya seperti ada bongkahan batu besar yang menghimpit dadanya hingga sulit untuk bernafas.
"A-apa Dok?" suara Angga bergetar.
"Istri anda hamil, beliau sepertinya mengalami stress yang hebat hingga menekan janin tersebut keluar sebelum waktunya. Kami turut berduka," jelas Dokter itu semakin membuat luka tak kasat mata di dada Angga semakin menganga.
Bara dan Yanti baru saja datang. Angga menghubungi Bara saat ia masih di mobil tadi. Bara membawakan baju ganti dan segelas kopi untuk Tuannya.
"Tuan..." panggil Bara tampak khawatir. Tuannya tidak baik-baik saja.
Angga menoleh dengan mata yang memerah, ia seperti tidak menapak di atas tanah. Tubuhnya limbung, ia memegang kursi tunggu untuk menopang tubuhnya.
"Apa ... yang telah ku lakukan?" gumamnya lirih. Pria itu kembali menitikkan air mata.
Dokter memahami perasaan suami pasien, namun ia butuh jawaban secepatnya agar bisa melakukan kuretase untuk menyelamatkan pasien. Bara menyadarinya ia segera menghampiri Dokter tersebut.
"Boleh saya tau bagaimana keadaan pasien?" tanya Bara.
Dokter pun memberitahukan keadaan Mia saat ini, Yanti yang mendengarnya bahkan sampai menutup mulut tidak percaya.
"Lakukan yang terbaik Dok," pinta Bara.
"Anda siapanya pasien?" tanya Dokter tersebut.
"Saya asisten suami pasien, Dokter bisa lihat sendiri keadaannya sekarang tidak bisa diminta persetujuan," Bara memandang sedih pada Tuannya lalu kembali berbicara pada Dokter. "Saya yang bertanggung jawab," tambahnya.
Yanti hanya bisa jadi penonton dengan menahan iba di hati.
__ADS_1
Semoga Nona Mia baik-baik saja. Batinnya.
"Tuan... sebaiknya anda membersihkan diri dan makan dulu, agar bisa menjaga Nona Mia." bujuk Bara.
Angga tidak bergeming, ia menatap lurus kedepan dengan tatapan kosong. Sisa air mata masih membekas di pipi pria itu.
Tidak lama ada segerombolan pria dengan stelan hitam berjalan ke arah Angga. Tampak pria yang tidak asing berjalan paling depan dengan raut wajah tidak bersahabat. Bara membelalakkan mata saat tau siapa yang datang.
"Tu-tuan Jack!" gumam Bara.
Suara Bara samar namun masih terdengar oleh Angga. Mendengar nama seseorang yang di kenalnya, ia melihat ke arah orang tersebut. Belum sempurna penglihatannya, bogem mentah telah melayang mengenai rahang Angga.
BUGH!!!
Angga tersungkur, Bara belum sempat menghadang Angga sudah kembali mendapat pukulan ke-2. Yanti memekik ngeri melihat hal itu.
BUGH!!!
"Tuan Jack, tolong berhenti!" Bara menahan tubuh Jack yang kembali maju untuk pukulan ke-3.
"Menyingkir kataku!!!" hardik Jack.
Jack akhirnya mundur, ia merapikan Jasnya yang sempat kusut. Menatap cemooh pada Angga yang menunduk tidak berani menatapnya.
"Baru ku serahkan anakku 3 bulan kau sudah buat ia ke UGD, bagaimana jika lebih dari itu? Apa mungkin Mia berakhir di liang lahat?" sarkas Jack. "Setelah ini aku akan membawa Mia pulang bersamaku!" ucapan Jack sontak membuat mata Angga melebar. Ia bangkit dan menggeleng keras.
"Tidak! Mia istriku, dia pulang bersamaku!"
Jack berdecih. "Ck, istri? Bukankah kau sibuk dengan sahabatmu itu?"
Wajah Angga pias, ia tidak menyangka Jack tau mengenai Tania.
"Tidak perlu kaget, kau pikir aku akan membiarkan anakku begitu saja tanpa pengawasan? Dan konyolnya aku malah mendapat kabar mengejutkan," Jack mendekati Angga, ia menekan dada pria itu dengan telunjuknya. "Harusnya kamu sadar akan batasan antara sahabat, kau sudah beristri. Apa pantas seperti itu?"
"Aku tau aku salah, kebiasaan saat kuliah dulu kembali tanpa kusadari. Tapi sungguh, kami tidak ada hubungan apapun!" ucap Angga penuh penekanan.
"Baik, biarkan Mia memilih! Dia ikut denganmu atau pulang denganku," tantang Jack membuat Angga ciut.
Angga hanya bisa mengatupkan bibirnya rapat, ia ragu apa Mia akan memilih dirinya mengingat apa yang telah ia perbuat. Membayangkan Mia pergi darinya serasa mendapat hukuman mati. Hatinya berdenyut nyeri, Angga tidak akan sanggup.
__ADS_1
Pintu ruang operasi terbuka bersamaan dengan kedatangan Maya dan Nyonya Anggun. 2 wanita itu lebih tenang di bandingkan pria yang saling berhadapan dengan amarah di satu sisi dan penyesalan di sisi lainnya.
"Keluarga pasien?" panggil suster.
"Sa-"
"Saya Sus, saya ibunya!" sela Maya memotong Angga. Pria itu pasrah tanpa protes.
Akhirnya Maya yang masuk ke ruangan itu. Tidak lama Maya dan Mia yang masih di atas brankar keluar dari sana untuk dipindahkan ke ruang perawatan. Mata Angga dan Mia saling bertabrakan sejenak sebelum gadis itu memilih memalingkan muka.
Sekejap Angga merasakan anak panah menancap pada jantungnya. Mia tidak mau melihat dirinya, apakah Mia telah membenci dirinya? Harusnya ia tidak langsung menuduh Mia, harusnya ia mencari tahu dulu kebenaran dari apa yang Tania bilang. Angga benar-benar menyesal. Nyonya Anggun hanya bisa menatap sedih anaknya, ia berusaha menguatkan dengan terus mengusap lengan pria itu.
🌷🌷🌷
Angga masih setia duduk di kursi tunggu. Maya dan Jack belum keluar dari kamar rawat Mia. Nyonya Anggun memberikan air mineral pada Angga.
"Kamu makan dulu ya, kata Bara kamu belum makan dari tadi pagi,"
Pria itu menggeleng. Nyonya Anggun hanya bisa menghela nafas lelah. Maya dan Jack keluar dari kamar, mendengar suara pintu terbuka membuat Angga menoleh. Maya menghampiri Angga dengan wajah datar.
"Kamu tentu mengenal Mia seperti apa, membunuh semut pun ia tidak sanggup. Jadi tuduhan sahabatmu itu tidak beralasan," ketus Maya.
Nyonya Anggun yang belum mengetahui permasalahan menjadi bingung.
"Anak Nyonya, menuduh anak saya meracuni sahabatnya hingga anak saya keguguran!" pekik Maya. Ia menahan amarah agar tidak berteriak di sana.
"Benar itu Angga? Sahabat? Maksudmu Tania?" Nyonya Anggun memberondong pertanyaan sambil mengguncang bahu anaknya.
Angga mengangguk pelan. Nyonya Anggun melebarkan matanya, ia memukul tangan Angga membabi buta. "Ya ampun Angga! Dari dulu Mama gak suka kamu sahabatan sama dia! Bawa pengaruh buruk kan sekarang, kamu sampe bikin Mia keguguran!!!"
Pria itu tidak melawan, tubuhnya sudah mati rasa. Maya sampai terkejut dengan reaksi besannya. Ia kira Nyonya Anggun akan membela anaknya, tapi malah sebaliknya.
"Nyonya, sabar... sudah..." Maya melerai Nyonya Anggun yang masih memukuli Angga.
"Biar Mia ninggalin kamu! Mama kecewa sama kamu, terserah kamu!" Nyonya Anggun pergi dengan amarahnya sedangkan Maya menjadi kasihan pada Angga.
Please rate, vote sama likenya yach!
Sertakan comment kalian agar aku kebih baik lagi, Enjoy!!!
__ADS_1
Pada kasian gak sama si Om???