Cintaku Berat Di Timbangan

Cintaku Berat Di Timbangan
CBT 50


__ADS_3

Hotel ***


Peluh keringat menghiasi kening gadis gendut itu. Ia berjalan menyusuri lorong yang terlihat lengang. Langkahnya terhenti saat matanya menangkap nomor kamar yang tertulis pada pesan WA Raisa. '108'


Dengan perlahan ia berusaha mengatur nafasnya yang sempat terengah karena berlari tadi. Kembali menatap nomor pada pintu kamar hotel tersebut, meyakinkan dirinya bahwa tidak keliru.


Mia menghela nafas pelan sebelum akhirnya ia memutar tuas daun pintu.


Cklek


Raisa memberitahunya untuk langsung masuk ke kamar karena pintunya tidak terkunci. Matanya menelisik setiap sudut ruangan, tidak ada siapapun disana. Mia memberanikan diri memasuki kamar tersebut dengan pintu yang masih terbuka.


Tatapannya jatuh pada pintu yang tidak jauh dari sudut kamar. Mia meyakini bahwa itu kamar mandi, ia pun melangkah semakin dekat.


"Raisa! Loe di dalam?" ucapnya agak berteriak.


Namun saat Mia berdiri tepat di depan pintu kamar mandi terdengar pintu luar yang tertutup.


BLAM


Sontak Mia berpaling melihat ke belakang, saat pintu kamar tertutup. Ia segera berlari untuk membuka pintu kamar.


Cklek, cklek, cklek


Terkunci?

__ADS_1


Brak, brak, brak!


Mia menggedor pintu berusaha untuk mendorongnya.


"Hei! Buka pintunya! Disini ada orang!" Mia berteriak.


Brak, brak, brak!


Tidak ada sahutan, Mia menggeram kesal.


"Sialan! Apa-apaan seh pake kunci-kunci sembarangan."


Mia teringat Raisa yang dikamar mandi. Pasti ia punya kunci kamar ini, dengan segera Mia berlari ke kamar mandi. Namun hatinya semakin cemas ketika mendapati pintu kamar mandi yang tidak terkunci tanpa Raisa di dalamnya.


"Apa ini maksudnya?" Mia menyugar rambutnya kasar. "Mana Raisa?" bisiknya.


Karena lelah sempat berlari Mia memilih untuk duduk di sofa. "Tenang Mia, tenang..."


Mia menarik nafas panjang, ia tidak menyangka akan terkunci di kamar hotel dan itu karena Raisa. Mia masih tidak percaya Raisa tega melakukan ini. Sedari tadi ia menelpon nomor Raisa yang tiba-tiba menjadi tidak aktif. Prasangka itu menjadi semakin kuat saat voice mail box mengalun indah di telinganya.


"Benar kata Laras, tidak seharusnya aku percaya pada Raisa." gumam Mia lirih.


Rasa haus kini menjalar ke kerongkongannya. Mia kembali berjalan ke pintu kamar untuk membukanya tapi nihil. 20 menit Mia menggedor-gedor pintu tersebut hingga kelelahan. Mia melihat terdapat air putih pada gelas tinggi di atas nakas tempat tidur.


Tanpa berfikir panjang ia menenggak air yang rasanya aneh, manis, asam dan agak pahit.

__ADS_1


"Minuman apa ini?" karena haus yang tidak tertahan ia tetap meminumnya hingga tandas.


🌷🌷🌷


Kediaman Larasati Maha Putra


Gadis itu sedang termenung di bawah pohon rindang, menatap padang rumput hijau nan indah. Dari kejauhan ia melihat Mia yang berjalan tertatih-tatih. Bajunya compang-camping dengan penampilan yang semrawut.


Wajahnya seperti penuh lebam dengan darah segar di ujung bibirnya. Dan yang paling membuat Laras sampai menahan nafas, ada darah segar yang mengalir di sepanjang kakinya.


Ya tuhan, ada apa dengannya?


Laras ingin beranjak dari duduknya untuk menghampiri Mia. Tapi tidak bisa, tubuhnya seperti terpaku dengan tanah. Dia kembali menatap Mia dengan air mata yang sudah diujung pelupuk mata.


"Mia... Lo kenapa?" Laras berteriak berharap suaranya sampai ke seberang sana. Jarak mereka cukup jauh.


Mia memandang Laras dengan tatapan kosong. Ia menyunggingkan senyum yang menyayat hati.


"Tolong gue... Laras...!" Suaranya terbawa angin disertai tubuhnya yang ambruk.


"Mia... Mia... MIA!!!"


Laras terbangun dari tidurnya. Sungguh mimpi yang mengerikan, sebuah firasat buruk bercokol di hatinya. Tubuhnya masih gemetar mengingat Mia yang terlihat nyata.


Dengan secara membabi buta, Laras mencari ponselnya. Terdapat pesan disana, pesan maaf dari Mia. Permintaan maaf yang paling indah baginya, mengetahui seberapa berartinya dia bagi Mia.

__ADS_1


Please rate, vote dan likenya yach!!


Sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!


__ADS_2