Cintaku Berat Di Timbangan

Cintaku Berat Di Timbangan
CBT 25


__ADS_3

"Gue ke toilet dulu ya Har."


"Ok, gue tunggu. Apa mau ditemenin?"


Mia menoyor pundak Haris malas, Haris malah menampakkan senyuman pepsodent.


"Gak usah, Makasih!" Mia berjalan menuju toilet di samping ruangan Cafe.


Angga yang memperhatikan sedari tadi memilih mengikuti Mia. "Aku ke toilet sebentar ya!"


"Hm, iya. Jangan lama-lama!" jawab Hani.


Angga melenggang pergi setelah menganggukkan kepala pada Hani. Sekitar 15 menit Angga menunggu di depan toilet, padahal toilet di sampingnya kosong. Mia berdenjit kaget ketika melihat seorang pria berdiri tepat di depannya saat membuka pintu toilet. Matanya membulat ketika mengetahui siapa pria itu.


"Hai, Sophia!"


"O-eh Tuan Angga."


Mia menoleh ke kanan dan ke kiri memeriksa keadaan sekitar. Mia berusaha menetralkan degub jantungnya yang kembali tak karuan dengan menampilkan wajah datar.


"Tuan ingin ke toilet?" Mia melirik toilet sebelah yang terlihat kosong. "Di sebelah kosong, Tuan!"


Bibir Angga berkedut menahan senyum, ia mengusap ujung hidung dengan jari telunjuknya. "Hm, Tidak. Aku tidak ingin masuk ke toilet."


"Lalu?"

__ADS_1


"Aku melihatmu dari tadi, tapi kamu tidak melihatku. Jadi aku menyapa mu sekarang!"


Ada apa dengan Om yang sialan makin ganteng ini. Menunggunya di depan toilet hanya untuk menyapa?


"Oh, Ok! Hai Tuan kita sudah saling menyapa. Jadi aku permisi." Mia hendak pergi, Angga merasa aneh dengan sikap Mia yang tidak sehangat kemarin.


"Apa aku buat salah? Kamu seperti marah." Angga menahan Mia dengan pertanyaan.


Mia menoleh pada Angga, ia ingin berteriak kalau dia memang marah pada pria ini. Mia memasang senyum palsu. "Tentu saja tidak tuan, untuk apa aku marah? Tuan sama sekali tidak salah."


"Aku bukan anak kecil yang bisa di bodohi, harusnya kamu tau itu Sophia! Aku lebih dulu hidup dari pada kamu," Angga memajukan tubuhnya 1 langkah mendekati Mia. "Dan tolong jangan panggil Tuan." Angga jadi ingat seseorang yang selalu memanggilnya begitu. Mengingatkannya pada Maya.


Mia menahan nafas karena kesal. Apa maunya seh Om ini. Ia sedang berjuang melupakan, yang bersangkutan malah muncul tanpa perasaan bersalah. Jelas... dia tidak merasa bersalah karena tidak tau.


Bahwa yang didepannya adalah anak kecil yang dulu ia beri harapan hingga beranjak dewasa. Tumbuh dengan khayalan tingkat tinggi hingga kini ia terhempas hingga di jurang neraka.


"Haris." Ucap Mia berbisik.


"Mia, siapa Mia? Kamu Sophia kan?" Angga memastikan pendengarannya.


"Dia Mia, namanya Mia." Jelas Haris. Mia menundukkan kepala, merutuki keadaannya sekarang. Terserah lah, kalau pun ketahuan tidak merubah apapun.


Angga merasa ada yang aneh, untuk apa gadis di depannya ini berbohong tentang namanya? Apa maksudnya?


"Jika namanya Mia, kenapa dia bilang kemarin namanya Sophia?" nada suara Angga agak meninggi. Merasa dipermainkan oleh anak kecil.

__ADS_1


"Karena itu memang namaku!" Mia sudah tidak mau meneruskan ini lagi. Ia ingin ini selesai dan pergi dari sini. Mata Mia memerah seketika. "Namaku Mia Sophia Adinata!" Mia berkata dengan lantang.


"Mia? Mia adinata? Kamu anak Maya?!" Raut wajah Angga berubah riang. Ia terkejut sekaligus senang akhirnya bisa bertemu Mia, anak manis yang menggemaskan. Tapi itu dulu, sekarang Mia sudah beranjak dewasa. "Tapi kenapa kamu tidak langsung bilang klo kamu Mia?"


"Karena Om gak ngenalin aku!" air mata Mia menetes tanpa ia sadari.


Melihat itu membuat Angga merasa tidak enak hati. Hatinya serasa teriris melihat Mia yang menangis. Kenapa?


"Maaf... Om gak ngenalin karena..."


"Karena aku gendut, tidak cantik seperti bayangan Om kan? Aku cukup tau diri dengan keadaan aku, dan aku gak mau mempermalukan diri sendiri!" Mia mengusap pipinya kasar. Haris yang tidak tau menahu akan permasalahan hanya bisa diam.


Sedangkan Angga, entah apa yang ia rasakan. Yang jelas dia tidak bermaksud seperti itu, dia tidak pernah mempermasalahkan fisik. Angga menyesali matanya yang tidak mengenali Mia saat itu. (Maklum udah tua, jadi rabun jauh ya Om?).


"Om benar-benar minta maaf." Angga melangkah mendekati Mia. "Siapa bilang kamu tidak cantik, hem?"


"Aku menyerah, aku menyerah sampai sini Om!" Langkah Angga terhenti. "Entah Om masih ingat atau mungkin sudah melupakan, 8 tahun lalu Om bilang akan menyukaiku jika aku tumbuh menjadi wanita cantik. Tapi kenyataannya gak begitu, aku gak cantik dan Om gak akan suka aku."


Ingatan Angga berputar, benarkah dia berkata seperti itu pada Mia?


Mia terkekeh miris, Om benar-benar lupa.


"Tenang Om, lupakan aja. Itu cuma khayalan bocah 9 tahun!" Mia mendongakkan wajahnya menatap Angga dengan matanya yang basah. Melihat itu membuat hati Angga nyeri.


"Aku berhenti disini, untuk menyukai mu Om." Mia tersenyum manis kemudian meninggalkan Angga yang mematung.

__ADS_1


Please rate, vote dan likenya yach!


Sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!


__ADS_2