
Le Rosey
Acara senam tidak berjalan lancar, karena siswi selalu bersorak heboh saat Angga melakukan gerakan. Suara riuh terdengar hingga keluar aula sekolah, membuat konsentrasi sebagian siswa lelaki buyar karena kalah pesona dengan guru baru mereka.
Samantha tidak kalah antusiasnya, teriakan gadis itu cukup memekakkan telinga Mia yang ada di sampingnya. Mia hanya bisa menahan rasa dongkol di dalam hati, merutuki semua yang Angga lakukan.
Dasar Om ganjen!
Gadis itu mengerucutkan bibir dengan mata malas, semua tingkah Mia tidak luput dari perhatian Louis, pria itu mengulum senyum menahan geli.
Louis melihat keadaan sekitar. Merasa orang-orang yang tidak memperhatikannya, Ia meraih lengan Mia dan menariknya menjauh dari barisan senam. Mia terhenyak sesaat sebelum Louis memberinya isyarat.
"Follow me!" (Ikuti aku) Pinta Louis.
Mia hanya terdiam mengikuti Louis yang membawanya pergi. Rona merah menghiasi pipi chabi gadis itu saat maniknya menangkap ke arah tangan yang digenggam oleh Louis. Sepanjang jalan Mia menundukkan kepala menahan gugup, hingga langkah pria itu terhenti di taman belakang kantin.
"Wait here! I will be right back," (Tunggu di sini! Aku akan segera kembali)
Mia menganggukkan kepala dengan wajah kikuk, ia memilih mendaratkan bokongnya di kursi taman sambil menunggu Louis kembali. Tidak lama, pria itu datang membawa sesuatu di tangannya. Mata Mia berbinar saat tau apa yang di bawa Louis, pria itu menyodorkan sepiring kecil choco lava pada Mia.
"This is for me?" (Ini untukku?) Tanya Mia antusias.
"Yes, because yesterday you didn't have time to eat my Belgian chocolate." (Ya, karena kemarin kau tidak sempat memakan coklat Belgian buatanku) Jelas Louis.
Mia menerimanya sambil tersenyum manis. "Thank you very much," (Terima kasih banyak)
"Don't hesitate," (Jangan sungkan) Ujar Louis.
"I'll try it!" (Aku coba ya!) Louis menganggukkan kepala.
Mia pun memakan 1 suap kecil, mata gadis itu terpejam meresapi rasa kue dengan lelehan coklat yang melumer di mulutnya. Louis sampai menahan nafas menantikan pendapat Mia akan kue tersebut. Karena tidak kunjung mendapat respon dari gadis itu membuatnya melontarkan pertanyaan .
"How?" (Bagaimana?)
__ADS_1
"Hm, this is delicious, Louis! I was speechless," (Hm, ini sangat lezat Louis. Aku sampai tidak bisa berkata-kata) Jawab Mia tulus.
Mendengar gadis itu menyukainya membuat hatinya membuncah bahagia. Belum pernah ia seantusias ini dalam menantikan respon dari seseorang akan masakannya, mengingat ia seorang chef pro yang tidak perlu diragukan lagi kemampuannya dalam memasak.
"I'm glad you like it, I made it with a feeling," (Aku senang kau menyukainya, aku membuatnya dengan penuh perasaan)
"Hm? Feeling?" (Hm? Perasaan?) Mia menelan sisa kue di mulut, terdapat lelehan coklat di sudut bibir gadis itu menarik perhatian Louis untuk membersihkannya.
Namun tangan itu terpaksa menggantung sebelum sampai pada bibir Mia saat seseorang datang menggagalkan niatnya.
"You can't keep students away from their activities, Chef Louis!" (Seharusnya anda tidak membawa siswa mangkir dari kegiatannya, Chef Louis) Angga mengepalkan tangan menahan diri untuk membogem pria Prancis yang selalu tebar pesona pada gadisnya.
Mia terkesiap saat tau Angga memergokinya pergi dari acara senam kacau. "Om-eh Mr. Angga."
Gadis itu meletakkan piring kue yang masih tersisa banyak di kursi kemudian ia berdiri sambil menyelipkan rambut di telinga. Ia memilih menundukkan kepala melihat sepasang kakinya dengan sepatu kets dibanding menatap Angga dengan wajah penuh amarah.
"Mia Shopia, follow me!" (Mia Shopia, ikut saya!) Angga berbalik badan hendak meninggalkan tempat itu. Namun Louis tidak tinggal diam.
"Mr. Angga is too stiff, Le Rosey is not like an ordinary school. All students are free to do whatever they want outside of school hours. It is not yet in the first hour." (Pak Angga terlalu kaku, Le Rosey tidak seperti sekolah biasa. Semua siswa bebas melakukan apapun yang mereka mau selama di luar jam sekolah. Saat ini belum masuk jam pertama) Louis menatap datar Angga, terdapat nada menantang dari kalimatnya.
"But, Mia." (Tapi Mia) Sanggah Louis. Mia memberikan isyarat dengan senyum memohon, Louis hanya bisa menghela nafas kasar dan memilih membiarkan Mia pergi dengan Angga.
"I'll wait in the cafeteria this afternoon!" (Aku tunggu di kantin siang nanti) Louis berkata setengah berteriak karena jarak mereka sudah cukup jauh. Mia hanya menganggukkan kepala sambil tersenyum simpul.
Angga sudah tidak bisa menahan diri lagi, ia sungguh geram melihat keakraban Mia dengan Chef Louis. Bahkan Mia dengan santai memanggil nama pria itu. Angga menarik Mia ke sebuah ruang kosong di persimpangan jalan menuju aula sekolah.
Karena kejadiannya begitu cepat membuat Mia hanya bisa membulatkan mata, saat Angga menghimpitnya ke dinding dengan wajah mereka yang begitu dekat. Jantung gadis itu berdegup kencang, wajahnya memerah hingga ketelinga saat menghirup parfum maskulin yang menguar dari tubuh Angga. Wanginya memabukkan, membuatnya terlela untuk sesaat.
Angga menikmati ekspresi Mia yang begitu menggemaskan, ia menelisik setiap lekukan wajah gadis pujaannya. Tatapan jatuh pada coklat yang tertinggal di sudut bibir Mia, membuatnya tanpa berfikir panjang untuk menjilatnya.
Mia sampai menahan nafas ketika Angga menjilat sudut bibir gadis itu dengan lidahnya yang hangat. Tubuhnya melemas, nafasnya memburu membuat dadanya naik turun.
"Manis," Bisik Angga. Ia mengusap bibir gadis itu dan menatap dalam pada manik abu-abu yang berhasil membuatnya menjadi budak cinta.
__ADS_1
"Aku merindukan mu," Sebuah kata yang terlontar dari pria itu bersamaan dengan pangutan panas yang ia daratkan pada bibir merah pucat gadis pujannya.
Ia mencecap menghisap dan mengexplore setiap sudut rongga mulut Mia, menyalurkan perasaannya yang menggebu dan tertahan selama ini. Mia tidak memungkiri hatinya yang masih mendamba, ia masih mencintai Om gantengnya.
Ia merasakan semua dari lum*tan yang diberikan Angga padanya hingga sesuatu yang basah mengenai pipi. Mia terhenyak, ia melepaskan ciuman dan memandang wajah pria itu. Angga menciumnya sambil menangis, pria itu menangis!
"Maafkan aku... maafkan aku yang selalu menyakitimu, Mia!" Angga dengan matanya yang basah mengiba membuat hati Mia berdenyut nyeri.
"Om..."
"Katakan, apa yang harus aku perbuat agar kamu mau memaafkan aku!"
Mia terdiam, dia bingung pada hatinya yang labil. Kadang ia mau memaafkan pria di depannya ini, namun mengingat bagaimana Angga menghianatinya dengan banyak kebohongan membuat amarahnya meraja.
"Aku tidak tau Om." Mia memalingkan wajahnya.
"Maksudnya?"
"Aku hanya belum bisa melupakan apa yang sudah Om lakukan padaku,"
Angga hanya bisa tersenyum miris, sebegitu besar luka yang ia torehkan membuat Mia selalu terbayang sikap buruknya hingga kini. Tangan yang hendak menggapai gadis itu menggambang di udara, mengepal dan luruh begitu saja.
Apa usahanya hanya sampai di sini? Ia begitu mencintai gadis di depannya ini, mampukah ia membiarkan Mia terus tersiksa dengan bayangan masa lalu? Hatinya sesak serasa ada batu besar menindih dan meremas hingga menimbulkan sembilu.
Angga menghirup nafas dalam sebelum ia memberikan kecupan pada kening Mia. Pria itu pergi meninggalkan Mia yang mematung, termenung dengan sikap Angga. Mengapa rasanya tidak rela? Melihat pria itu pergi begitu saja tanpa sepatah kata pun?
Mia membiarkan bulir kristal membasahi pipinya, bukankah ini yang ia inginkan? Membenci pria itu dan melupakannya. Tapi kenapa? Kenapa rasanya begitu sakit?
Please rate, vote dan likenya yach!
Sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!
Mia galau mulu neh... duh Om... sini sama author adja deh klo Mianya gak mau, Hik's.
__ADS_1
Ikutin terus kisah Mia dan Om ganteng yaaa... see you!