Cintaku Berat Di Timbangan

Cintaku Berat Di Timbangan
CBT 87


__ADS_3

Hari sudah mulai senja, langit pun tampak berwarna merah. Suhu ruangan mulai mendingin namun tidak mengusik Angga yang masih setia memeluk gadis pujaan. Hangat dan empuk sekali, sungguh nyaman. Wangi cherry menguar dari tubuh sang gadis, Angga menghirup dalam aroma Mia yang menenangkan.


Mata yang terpejam kini terbuka, menatap dalam pada pemandangan masa depan. Senyuman terpatri indah di wajah rupawan pria itu. Bisakah waktu dihentikan saat ini juga?


Mengusap pipi chabi yang menggemaskan, rasanya ingin menggigitnya. Gadis itu terusik, tubuhnya menggeliat seraya menyipitkan mata. Mengerjap menyesuaikan pandangan hingga ia tersentak saat melihat Angga yang tersenyum sambil menatapnya di atas ranjang yang sama.


"Om..." Ucap Mia salah tingkah.


Ia berusaha bangkit dari tidurnya dan duduk memalingkan wajah karena malu.


Angga tersenyum geli, sikap kikuk Mia menjadi hiburan untuknya. Gadis itu kemudian menoleh pada Angga, menanyakan keadaannya dengan nada khawatir.


"Badan Om masih panas?"


"Masih,"


Mia menempelkan punggung tangan di kening Angga. Suhu tubuh pria itu sudah tidak panas lagi, ia mencebik kesal karena dikerjai oleh Om gantengnya. "Pembohong!"


Angga terkekeh, ia duduk menyender ke kepala ranjang dengan maniknya yang tidak lepas menatap Mia. Gadis gendut itu merasa risih. "Apa yang Om lihat?"


"Masa depan,"


"Maksudnya?" Tanya Mia heran.


"Kamu masa depan ku, Istriku nanti!" Siapa yang tau, pria dewasa itu kini menjadi perayu ulung.


Mampu membuat Mia salah tingkah dengan wajah yang merah merona. Rasanya Mia ingin mengubur dirinya di dalam tanah, malunya bukan main.


Suara ponsel memecah hening yang sempat terjadi beberapa saat. Suara ponsel Mia memutus atensi keduanya. Mia terkesiap saat ia melihat siapa yang menelponnya.


'Samantha'


Mia melihat ke arah Angga dan beranjak dari ranjang, ia berjalan menjauh ke arah pantry sebelum ia menerima panggilan dari teman sekamarnya. Angga mengeryit heran, kenapa Mia terlihat tidak nyaman?


[Halo, Sam.]


[Hello, Mia! Where are you? I'm afraid you got lost, you haven't returned to the room since earlier] (Halo, Mia! Kamu dimana? Aku khawatir kamu tersesat, kamu belum kembali ke kamar sejak tadi) Terdengar nada khawatir di seberang sana.


[Hm, sorry. I ... I was walking around until I forgot the time. You don't need to worry, I'll definitely return to the room.] (Hm, maaf. Aku... aku tadi jalan-jalan berkeliling hingga lupa waktu. Kamu tidak perlu khawatir, aku pasti kembali ke kamar) Ucap Mia tidak enak.


Mia bingung sendiri harus bagaimana menghadapi Samantha yang menyukai Angga, pria yang menjadi pangerannya selama ini.

__ADS_1


Mereka adalah dua insan yang saling mencintai, namun selalu saja ada yang menghalangi. Mungkin semesta sedang menguji mereka. Atau hanya Mia yang sedang diuji? Karena kenyataannya Angga sudah berhasil menghadapi ujian dengan berhasil mengejar Mia hingga ke Swiss.


Panggilan pun terputus, saat Mia membalikkan tubuh ia dikagetkan dengan keberadaan Angga tepat di belakangnya.


"Ya Tuhan, Om mengagetkan ku!"


"Telepon dari siapa?" Tanya Angga penuh selidik.


"Dari Samantha."


"Dia teman sekamarmu?"


"Iya,"


"Lalu, kenapa kamu terlihat tidak nyaman? Ada apa?"


Gadis itu mencoba mengalihkan pembicaraan, ia tidak mau membahas Samantha. Sama sekali tidak ingin, semua salahnya yang termakan ego. Harusnya ia terus terang pada Samantha, namun bukannya jujur ia malah bersikap seolah tidak menyukai Angga.


"Aku sebaiknya kembali ke kamar! Om sudah baikan, kan?"


"Jangan menghindar, Mia!"


Mia bergegas pergi dari kamar Angga. Namun saat langkahnya hampir sampai di depan pintu kamar, Angga menariknya hingga gadis itu jatuh dalam pelukannya. Mia terperangah saat Angga mencium bibirnya tanpa aba-aba. Angga menyeringai setelah mencium Mia dengan lembut.


Gadis itu masih mematung di depan pintu kamar Angga yang sudah tertutup. Ia terkesima sesaat sebelum akhirnya memilih berjalan menuju kamarnya. Tanpa ia sadari, ada mata yang terus memperhatikan semenjak ia keluar dari kamar Angga.


🌷🌷🌷


"Mia, where have you been?" (Mia, kau darimana saja?) Gadis pirang itu terlihat mendekat dengan raut wajah khawatir.


"Sorry," (Maaf,) Mia tersenyum tipis, ia merasa jadi orang jahat yang terus membohongi Samantha.


"No problem, have you eaten?" (Tidak masalah, kau sudah makan?) Tanya Samantha.


"Well, not yet." (Hm, belum)


"I haven't either, let's go to the dining room. I heard Louis cooked something special today," (Aku juga belum, ayo kita ke ruang makan. Aku dengar Louis memasak sesuatu yang special hari ini) Terang Samantha penuh semangat. Mereka pun pergi untuk makan malam.


🌷🌷🌷


Keesokan harinya di kelas Mia seperti biasa akan menjadi riuh jika Angga mengajar. Guru Sejarah itu begitu dinantikan oleh para siswi di Le Rosey. Samantha dengan secara terang-terangan mengakui bahwa dirinya menyukai Angga di depan para teman kelasnya. Mia hanya bisa terdiam, berusaha bersikap biasa meski hatinya panas.

__ADS_1


"Good afternoon all," (Selamat Siang semua) Sapa Angga saat ia memasuki kelas.


"Good afternoon, Sir" (Selamat siang Pak) Seru para siswi lebih dominan.


Angga mengedarkan pandangan, saat tatapannya jatuh pada Mia ia tersenyum. Akan ia manfaatkan setiap moment kebersamaan mereka. Pelajaran pun dimulai, Ia berjalan mengitari kursi tiap siswa dan berhenti di samping Mia.


Angga menundukkan kepalanya seolah bertanya pada Mia adakah yang tidak dimengerti padahal ia membisikkan sesuatu yang membuat Mia tidak dapat konsentrasi pada pelajaran.


"Aku rindu pelukan hangatmu, sayang!"


Angga meninggalkan Mia dan kembali ke kursinya. Menahan senyum geli melihat Mia yang terus menundukkan kepala, gadis itu salah tingkah karena terbayang kejadian kemarin.


🌷🌷🌷


Beralih sejenak dari 2 insan yang sedang kasmaran. Kita akan menuju pada Pak Tarjo yang selalu bikin author geleng-geleng kepala.


Sehari setelah kembali dari Swiss, Pak Tarjo menjadi bintang di tempat tinggalnya. Banyak tetangga yang menyambangi kediamannya hanya untuk bertanya bagaimana rasanya naik pesawat dan bagaimana enaknya menginap di hotel luar negeri.


Namun jawaban yang tidak diprediksi terlontar dari pria tua itu. Pak Tarjo malah mengeluh akan TV yang menayangkan siaran KingKong sepanjang hari. Ia hanya berkesan saat naik pesawat mewah bak Sultan Timur Tengah dan tidak lupa ia bercerita tentang jam paling besar di dunia menurutnya.


Salah satu tetangganya juga tidak lupa menanyakan pria yang mengantar Pak Tarjo saat pergi dan pulang kembali ke rumah.


"Lelaki yang nganter sampean itu siapa seh Pak? Guanteng banget ya, kaya yang di TV itu lho!" Celetuk seorang wanita dengan dandanan menor menghias di wajahnya.


"Wah, jauh-jauh ya kamu Saroh! Calon mantuku tuh!" Sungut Pak Tarjo. Matanya mendelik mengancam wanita itu.


"Alaaahh, pelitnya. Lagian Yanti kan udah punya pacar Pak! Gak apa-apa donk kita kenalan,"


Pak Tarjo berdecih, tidak akan pernah ia biarkan anak gadis satu-satunya jadi korban anak Pak Lurah yang hidung belang. "Yanti belum punya pacar, dia udah punya calon suami. Namanya Bara!"


"Oh, jadi namanya mas Bara. Duh, emang sesuai sama gantengnya. Namanya aja bikin hati dag dig dug."


Pak Tarjo menepuk mulutnya sendiri, salah sendiri kelepasan menyebut nama calon mantunya. Di dekat rumahnya banyak janda-janda yang di tinggal suaminya menjadi TKI, mereka menatap lapar jika melihat pria macam Bara.


Dasar Saroh janda gatel!


Pak Tarjo harus menjaga Bara dari godaan para janda tetangganya.


Please rate, vote dan likenya yach!


Sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!

__ADS_1


Wah, gawat ini. Bara harus di masukin toples biar gak ke goda Mbak Saroh. 😂😂😂


__ADS_2