Cintaku Berat Di Timbangan

Cintaku Berat Di Timbangan
CBT 94


__ADS_3

Le Rosey


Angga dan Mia sampai sekolah tengah malam. Angga mengantar gadis itu sampai pintu kamar asrama.


"Ini jasnya Om, makasih!" Mia menyerahkan Jas yang sedari tadi dikenakannya.


"Hm... gitu aja? Gak ada yang lain?" pancingnya.


Mia memicingkan mata curiga membuat Angga terkekeh. Ia mengusap puncak kepala Mia dan mengusap pipinya.


"Langsung tidur ya, jangan begadang!"


Mia menganggukkan kepala tanda mengerti, Angga masih menggandeng tangan enggan melepas.


"Om..." panggil Mia.


"Sebentar lagi... rasanya berat berpisah sama kamu," ucap Angga pelan.


"Kita kan bakalan ketemu besok," kekeh Mia.


Angga memandang Mia dengan lembut, kalau bisa ia ingin selalu bersama, tidak melihat sebentar saja membuatnya rindu hingga menggila.


"Ternyata benar apa kata Dilan,"


"Dilan?" tanya Mia heran.


"Rindu itu berat," sambil meremas tangan Mia.


Wajah Mia merona, Om ganteng kini terus mengungkapkan perasaannya tanpa malu. Mia sendiri masih canggung dengan semua itu, maklum belum pernah namanya pacaran. Pria dewasa itu mengulum senyum melihat respon Mia yang seolah mati kutu.


"Baiklah! Aku pergi," ganggeman terlepas. Angga mengecup kening Mia sebelum pergi.


Ujung bibir Mia tertarik hingga membentuk lengkungan indah, beginikah rasanya pacaran? Indah sekali, bahagia saat bersama pria pujaan. Ia terus menatap punggung Angga yang kemudian menghilang. Jantungnya terus berdebar dari ia pergi ke bioskop hingga sekarang.


Mia memasuki kamar dengan mengendap-endap. Dilihatnya Samantha telah tertidur pulas, ia segera berganti baju kemudian naik ke ranjang untuk beristirahat. Baru Mia ingin memejamkan mata, ponselnya berbunyi. Tanda adanya pesan masuk, ia meraih dan kembali tersenyum saat melihat pesan.


[Goodnight, love you 😘]


Dasar Om, lagaknya seperti ABG saja.


Mia geli sendiri, ia memilih mematikan ponsel lalu memejamkan mata menuju dunia mimpi. Sedangkan di seberang sana sedang gelisah karena menunggu balasan. Ditatapnya terus layar ponsel yang tidak kunjung berbunyi.


"Tidak dibalas, apa sudah tidur?" gumamnya.


Pria itu membuka galeri untuk melihat gambar yang tadi ia ambil bersama Mia di pinggiran kota Bern. Matanya malah makin terjaga saat menatap gadisnya di layar ponsel.


"Kamu bikin aku gak bisa tidur, kamu pelet aku ya Mia?" Angga berbicara sendiri pada ponsel. Pria itu gelisah tidak menentu. "Kenapa kamu manis sekali?" mengusap lembut layar gawainya.


Angga sepertinya sudah gila, berguling-guling di ranjang sambil menciumi layar ponsel. "Aku mencintaimu, muach... muaach... muacchh!"


Namun kegiatannya terganggu kala ponselnya berdering tanda panggilang masuk di sana, berharap yang menelpon adalah Mia dengan binar senang ia menatap nama yang tertera. Detik kemudian senyum itu memudar tergantikan ekspresi datar.


'Bara'

__ADS_1


"Huh, ada apa dia telpon malam-malam begini?" gerutu Angga.


Bukankah ia tau perbedaan waktu di sana belum tengah malam. Sepertinya, masa puber yang tertunda ini membuatnya menjadi pria labil.


[Ya, ada apa?]


[Tuan, saya ingin menikah.]


[APA???] Angga melonjak kaget hingga bangkit dari ranjang.


[Maaf Tuan.]


[Bukan, sebentar... kau bilang apa tadi?] Angga masih belum mencerna ucapan Bara.


[Saya ingin meminta ijin untuk menikah, Tuan.]


[Menikah... benarkah kau akan menikah? Dengan siapa?] tanya Angga penasaran, tidak menyangka sosok seperti Bara yang dingin dapat menikah juga.


[Dengan Pak Tarjo.]


[What?]


[Maaf Tuan, maksud saya anaknya Pak Tarjo.] Bara salah menyebut karena gugup.


[Oh... hampir kau buat aku serangan jantung!] Angga mengelus dada lega. Kemudian ia diam sesaat.


[Tuan...] panggil Bara di seberang sana.


[Tuan, maaf harusnya-]


[Tidak apa-apa, kapan kau mau menikah? Sudah lamaran?]


Bara merasa tidak enak, dia baru ingat bahwa Tuannya sedang berjuang di sana untuk mengejar cintanya. Bagaimana bisa ia di sini bahagia dan menikah di saat Tuannya sendiri masih belum jelas nasibnya.


[Maaf Tuan, sebaiknya nanti saja dibahas lagi.]


[Hei, jangan alihkan pembicaraan. Aku tidak apa-apa, jangan kasihani aku!]


[Kapan Tuan kembali ke sini?]


[Aku sepertinya akan lama di sini, aku mengajar di sekolah Mia. Dan sekarang kami sudah berpacaran.]


[Senang mendengarnya Tuan, lalu apa langkah anda selanjutnya?]


[Belum tau, aku ingin segera meminangnya tapi semua terkendala karena statusnya yang masih pelajar. Jujur aku tidak tenang, status kami sangat rentan.]


[Tuan bisa bertunangan dulu, mengikat Nona Mia dengan status lebih jelas agar Tuan tenang.]


[Begitu menurutmu?]


[Ya, dan Tuan harus siap memintanya pada orang tua Nona.]


Siapkah ia untuk berhadapan dengan Jack? Tapi yang paling ia takuti adalah berhadapan dengan Maya, wanita yang telah ia kecewakan karena kejadian Hani tempo hari. Bersediakan Maya memberikannya restu? Kini pikiran Angga berkecamuk. Ia tidak memikirkan itu sama sekali selama ini karena sibuk meminta maaf dan mendekati gadisnya.

__ADS_1


[Tuan...]


[Ah, ya. Nanti akan ku pikirkan lagi masalah itu. Terima kasih atas sarannya Bara. Lalu bagaimana dengan pernikahanmu?]


[Kita akan bahas itu nanti, sudah malam. Selamat tidur, Tuan.] Bara memutuskan panggilan sepihak tanpa menunggu Angga yang kesal karena kelakuan Bara.


[Bara! Kau memutus telpon denganku? Sudah berani ya kau! Akan ku potong gaji mu!] Angga berteriak pada ponsel yang sudah terputus panggilannya.


Bara merutuki diri yang sama sekali tidak peka pada Tuannya.


"Maaf Tuan, seharusnya saya lebih mengerti anda," Bara memejamkan mata sambil mengurut pangkal hidungnya. Ia mengeluarkan kotak kecil dan membukanya, terdapat cincin bertahtakan berlian cantik di dalamnya.


"Saya akan membuat ini menjadi jelas, dan menunggu Tuan pulang terlebih dahulu." gumam Bara.


🌷🌷🌷


Jakarta, Kediaman Pak Tarjo.


Keesokan hari, Bara datang ke rumah Pak Tarjo pagi-pagi sekali. Ia ingin menyampaikan sesuatu pada Yanti dan orang tuanya.


"Selamat pagi," Bara memanggil Yanti yang sedang asik menyapu halaman namun tidak merespon sama sekali.


Gadis itu membelakangi Bara, ia menggunakan earphone ditelinganya. "Kau yang slalu ku puja-puja... namamu terukir indah...hhh~"


Yanti bernyanyi sambil menggoyang pinggul, meresapi lagu yang sedang didengarkan bahkan Ia menjadikan sapu sebagai mic. Tanpa ia sadari Bara mengamati sambil tersenyum geli. Calon istrinya benar-benar menuruni tingkah Pak Tarjo.


"Sengajakah kau kirimkan un-"


Prak


Suara sapu terjatuh mengalihkan perhatian Bara, Yanti membeku saat membalik badan. Sosok orang yang membuatnya malu bukan main ternyata berdiri di belakangnya.


Apakah Mas Bara melihatku dari tadi?


Wajah Yanti merah padam, ia menangkup kedua pipinya lalu berlari meninggalkan Bara ke dalam rumah. Ia memasuki kamar lalu menguncinya.


"Aaahhhh... kenapa dia disana??"


Yanti berteriak saat menutup wajahnya dengan bantal, ia memukul-mukul ranjang gemas.


Sedangkan Bara hanya terkekeh dan melangkahkan kaki ke teras rumah Pak Tarjo.


Please rate, vote dan likenya yach!


Sertakan commenta kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!!


Puber tertunda mulai menyiksa Angga neh...!


Mantap gak seh pagi-pagi liat goyang koplonya Yanti, wkwkwkwkwk...



Tampang si Om klo lagi sms Mia... uhuk!

__ADS_1


__ADS_2