
Bern, Swiss
Malam ini serasa panjang bagi Bara, menemani Pak Tarjo berkeliling seperti menjaga balita di taman bermain. Hanya saja kali ini Pak Tarjo tidak meminta dibelikan sebuah balon, matanya tidak henti mengikuti kemana pria tua itu melangkah.
Bisa panjang urusan jika Pak Tarjo hilang, ah… membayangkannya saja membuat Bara sakit kepala.
“Nak Bara, kita foto di sana yuk! Buat kenang-kenangan.” Pak Tarjo menarik tangan Bara. Sedangkan Bara yang ditarik hanya pasrah mengikuti Pria tua itu.
Mereka saat Ini sedang berada di Menara Jam (Zytglogge) yang merupakan landmark kota Bern. Pria tua itu tersenyum sumringah dengan menggandeng Bara saat seorang juru foto mengambil gambar. Berbagai pose mereka lakukan, Pak Tarjo memaksa Bara untuk tersenyum meski akhirnya menjadi ekspresi aneh. Senyuman mengerikan.
Sepulang dari jalan-jalan Bara memutuskan untuk makan malam di salah satu Restorant terkenal di sana. Pak Tarjo menatap takjub pada dekorasi arsitekturnya. “Nak Bara, jual makanan saja harus semewah ini ya? Memang harga makanannya berapa?” Pak Tarjo tiba-tiba bergidik ngeri membayangkan harga dari setiap makanan di piring itu.
“Sebaiknya Bapak tidak perlu tau,” Bara menyeringai. Pak Tarjo pun memilih bungkam dari pada Bara mengucapkan kata ajaib bahwa gajinya di potong lagi.
Dalam 30 menit pesanan telah dihidangkan. Porsi disetiap makanannya berukuran kecil, sepertinya hanya sekali suapan bagi Pak Tarjo. Pria Tua itu tampak menatap deretan sendok dan garpu yang berjejer rapi dalam berbagai ukuran. “Nak, sendok garpunya banyak sekali, kayak mau dagang aja!”
Pak Tarjo terkekeh sambil memegang salah satu sendok yang berukuran kecil dan mungil. “Ini untuk makan bayi ya?”
Bara mengambil sendok dari tangan Pak Tarjo dan menaruhnya kembali ke tempat semula. Ia menjawab sambil mendesis. “Ini untuk makan Dessert Pak!”
“Diser? Dispenser?” Sahut Pak Tarjo bingung.
“Dessert Pak, makanan penutup seperti kue atau ice cream!” Bara agak meninggikan suara hingga pengunjung lain menoleh padanya. Pria itu tersenyum kikuk sambil mengusap tengkuk karena malu.
Pak Tarjo hanya terkikik geli melihat wajah Bara yang memerah. “Bilang donk kue! Gak usah pake B. Inggris ke saya Nak, gak ngerti. Klo bahasa isyarat saya bisa,” Ucap Pak Tarjo.
Senyum jenaka tersungging di bibir Pria tua itu, kemudian menyuap makanan ke mulutnya. Bara hanya diam sambil memotong daging salmon dengan gemas, mungkin ia membayangkan ikan itu adalah Pak Tarjo.
🌷🌷🌷
Le Rosey
Malam telah berlalu menjadi pagi yang cerah, namun tidak secerah hati Mia. Ia bangun dengan lesu dan tidak bersemangat hari ini. Mengingat hari ini Angga akan makan siang dengan Samantha.
Terdapat lingkaran hitam di sekitar matanya hingga terlihat seperti mata seekor panda. Jika tidak ada tugas yang harus dikumpulkan, mungkin ia memilih untuk ijin tidak masuk kelas.
Ya Tuhan, kenapa hatiku tidak tenang seperti ini?
Tempo hari gadis gendut itu menolak Angga dengan secara sadar, tapi kenapa kini seolah ia menyesal. Ada rasa tidak rela jika Om gantengnya dekat dengan wanita lain. Mia mengacak rambutnya gemas.
“Aaakkkhhhh…!” Teriak Mia frustasi.
Samantha yang baru keluar dari kamar mandi memandang heran Mia yang berteriak. “What's up Mia?" (Ada apa Mia?)
Mia yang ditegur terkesiap, ia malu sendiri dengan tingkahnya. Is menundukkan kepala menutupi wajahnya yang merona. “Hm ... it's okay, Sam! Earlier my feet tripped over the bed." (Hm… gak apa-apa, Sam! Tadi kaki ku tersandung tempat tidur)
“Geez, be careful next time! Does it hurt?" (Ya ampun, lain kali hati-hati! Apakah sakit?) Raut wajah Samantha khawatir.
__ADS_1
“No, just surprised," (Tidak, hanya terkejut saja) Sanggah Mia. Gadis itu menggigit lidahnya sendiri karena membohongi Samantha. Ia meringis mendapatkan perhatian dari teman sekamarnya itu.
“Really?" (Sungguh?) Kembali Samantha bertanya.
“Y-yes, you take it easy," (I-iya, kau tenang saja) Mia berjalan mendekati ranjang lalu duduk disana sambil tersenyum tipis.
“Okay then, I'll go to class first huh!" (Baiklah kalau begitu, aku duluan ke kelas ya!) Sahut Samantha.
“Oke!”
Samantha mendekati Mia dan memeluknya.
“I hope today goes well," (Aku harap hari ini berjalan lancar) Gadis itu berbisik dan menyunggingkan senyum terbaiknya sebelum pergi meninggalkan Mia.
Tak lupa melambaikan tangan sebagai salam. Mia membalas lambaian itu, namun terhenti saat Samantha sudah tidak terlihat.
“Ini adalah pilihanmu , Mia. Kau harus menerima konsekuensinya.” Mia bermonolog.
🌷🌷🌷
Jam terus berputar hingga tiba saatnya makan siang. Bagi Mia, itu adalah waktu terpanjang sepanjang hidupnya. Jam dinding berdetak seperti mengejek dirinya yang kini galau tidak jelas. Samantha sudah pergi ke kantin 10 menit yang lalu, tapi rasanya seperti se abad.
Gadis itu berharap jam makan siang segera usai. Namun belum lama terdengar langkah kaki mendekati dirinya yang baru saja ingin beranjak dari kursi kelas. Ia ingin pergi ke Perpustakaan lagi, membaca novel menguras air mata mungkin pilihan tepat.
“Mia ... I'm sad!" (Mia… aku sedih!) Samantha menghambur memeluk gadis gendut itu. Menatap heran pada teman sekamarnya.
“Failed, all failed." (Gagal, semua gagal)
“My date failed ... Sir Angga didn't go to class today," (Kencan ku gagal... Pak Angga tidak masuk kelas hari ini) Sudut bibir Mia terangkat tipis. Entah mengapa mendengar Samantha gagal makan siang dengan si Om membuatnya senang. Namun segera ia menepis perasaan itu, berusaha bersikap biasa agar Samantha tidak curiga.
“Why is Pak Angga not attending class?" (Kenapa Pak Angga tidak masuk kelas?)
“Said another teacher, he was sick," (Kata guru yang lain, beliau sakit)
Mendengar Angga sakit membuat gadis gendut itu merasa khawatir.
Om ganteng sakit? Bagaimana keadaannya?
Berbagai pertanyaan berputar di kepalanya, sampai membuat ia tidak konsen mendengar keluh kesah Samantha. Tanpa berfikir panjang Mia beranjak dari kursi dan pamit pada Samantha.
“Well, sorry Sam. I have additional Science lessons, so I can't keep you company. It is okay, right?" (Hm, Sam maaf. Aku ada pelajaran tambahan Sains, jadi tidak bisa menemani mu. Tidak apa-apa kan?)
“Oh, yes? Ok, it is alright. Sorry I complained to you." (Oh ya? Ok, tidak apa-apa. Maaf aku jadi mengeluh padamu)
Mia meringis, temannya masih memikirkan perasaannya. Tapi rasa khawatir pada Om ganteng lebih kuat, membuatnya memilih untuk melihat pria itu secara langsung.
“No, don't apologize. You're not wrong!" (Tidak, jangan meminta maaf. Kau tidak salah!) Mia tersenyum tipis sambil membereskan bukunya.
__ADS_1
"I better go, bye Sam!" (Sebaiknya aku pergi, bye Sam!)
“Bye Mia!”
Ia pun pergi meninggalkan kelas, Mia hendak menuju kantin untuk menemui Louis. Dengan langkah tergesa-gesa akhirnya Mia sampai di sana.
“Louis!”
Pria tampan itu menoleh, senyuman indah melengkung saat tau siapa yang memanggilnya. “Mia, why did you just come? Yesterday I was waiting for you!" (Mia, kenapa baru datang? Kemarin aku menunggumu!)
“Hm, sorry. I didn't feel well yesterday. So, choose a break in my room!" (Hm, maaf. Kemarin aku tidak enak badan. Jadi, memilih istirahat di kamarku!) Bohong Mia. Wah, gadis ini jadi sering berbohong sekarang.
“You are sick?" (Kau sakit?) Louis meletakkan punggung tangannya ke kening Mia hingga membuat gadis itu terhenyak.
“Ah, I'm cured now," (Ah, aku sudah sembuh sekarang) Mia menjauh dari tangan Louis.
Pria itu terdiam melihat sikap Mia yang seperti menghindarinya. "Thank goodness, then!" (Syukurlah jika begitu!)
“Yes, and I'm here to ask you a favor," (Ya, dan aku kesini ingin meminta tolong padamu) Sambung Mia.
“What are you asking for help?" (Minta tolong apa?) Tanya Louis antusias.
“I want to make delicious porridge!" (Aku ingin membuat bubur yang enak!)
“You want porridge?" (Kau ingin bubur?)
“Not for me, for my sick friend." (Bukan untukku, untuk temanku yang sakit) Sanggah Mia.
Louis terdiam sesaat, menatap raut wajah Mia yang berhasil membuatnya rindu. Apa yang bisa membuat gadis gendut itu istimewa di matanya, sampai saat ini pria itu pun tidak tau.
“May I know who your friend is?" (Boleh aku tau siapa temanmu?)
Mia terkejut saat Louis bertanya siapa teman yang ingin ia berikan bubur, gadis itu bingung sendiri harus bilang apa. Ia tampak mengedarkan pandangan, masalahnya ia baru mempunyai Samantha sebagai temannya.
“My friend... Samantha!" (Temanku… Samantha!)
“Samantha?”
“Yes, Samantha. She said she wanted porridge," (Ya, Samantha. Dia bilang, ia ingin bubur) Mia menjawab dengan kikuk, gadis itu berulang kali berbohong. Lebih tepatnya membohongi diri sendiri akan perasaannya, kenapa membuat semuanya menjadi rumit Mia?
Louis tau, Mia berbohong. Karena belum lama ia melihat Samantha yang keluar dari kantin setelah memakan dessert buah buatannya. Siswa-siswi Le Rosey tidaklah banyak, hingga membuatnya hafal semua murid di sana.
“Well! Let's make porridge for your friend Samantha," (Baik! ayo kita buat bubur untuk teman mu Samantha) Pancing Louis.
Pria itu bingung, kenapa Mia harus berbohong? Dan siapa sebenarnya yang ingin ia berikan bubur?
Please rate, vote dan likenya yach!
__ADS_1
Sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!
Pasti pada gemes sama Mia yang plinplan, hahahaha. Mia sedang dalam tahap labil akut, belajar bohong pula. Jangan bohong terus ya Mia, nanti author sentil lho!