Cintaku Berat Di Timbangan

Cintaku Berat Di Timbangan
CBT 62


__ADS_3

Gadis itu kini hancur, kala cintanya yang ia pikir dibangun kokoh di atas ketulusan harus kalah oleh sebuah kebohongan. Ia tidak ingin apapun lagi, memilih memendam semua amarah sendirian. Setan seolah membukakan jalan untuk melampiaskan kebencian.


Mia menatap kosong ke arah pria itu yang masih setia menahannya.


"Aku membencimu." Kata-kata itu lolos dari bibir merah pucat membuat sakit menusuk dada, lalu merambat ke tenggorokan, kian naik hingga kepala.


Cekalan itu merenggang memberikan kesempatan pada gadis itu untuk lepas. Tanpa menghiraukan Angga, Mia melenggang pergi meninggalkan apartement hanya dengan menggenakan kaos dan handuk yang melilit di pinggangnya.


Hati pria itu kini dirundung penyesalan, tubuhnya surut dengan kepala tertunduk. Hani merasakan perasaan tidak nyaman, secara langsung ia yang menyebabkan Angga seperti saat ini. Ingin menjadi pelipur lara, Hani mencoba menghampiri.


"Pergilah..." Tenggorokan wanita itu tercekat.


"Jangan pernah temui aku lagi."


🌷🌷🌷


Mia tidak pernah mengerti mengapa banyak orang yang ingin melihatnya menderita. Bahkan cintanya sendiri tidak luput dari rasa sakitnya.


Ia hanya gadis yang merasakan indah sesaat kemudian terhempas, seolah nestapa tidak mengijinkannya untuk bahagia. Sudah cukup baginya untuk memaklumi semua dengan kata maaf yang selalu mengiringi, sudah cukup baginya untuk diam ketika mereka dengan sadar menorehkan luka yang terus menganga.


🌷🌷🌷


Kediaman Jack Adinata


Dari ambang pintu Maya dapat melihat Mia yang turun dari sebuah taksi. Binar bahagia sedari tadi terpancar langsung memudar menjadi raut khawatir saat melihat apa yang melekat pada tubuh putrinya, 'kaos dan handuk'. Melangkahkan kaki dengan cepat Maya merengkuh Mia dalam pelukannya.


Apa yang kau lakukan pada anakku, Angga?


Batin Maya berkecamuk, merasakan sesak untuk kesekian kalinya karena melihat Mia dalam keadaan menyedihkan.


Tidak ada kata pun yang terucap, hanya ada tubuh yang bergetar diiringi tangis tertahan. Sebagai seorang ibu, hal yang paling menyakitkan adalah melihat anaknya terluka. Maya mengeratkan pelukan, membiarkan Mia menyalurkan semua sambil merapalkan do'a pada Tuhan. Memohon agar rasa sakit itu diberikan padanya.


Berikan rasa sakit itu hanya padaku, Tuhan. Jangan padanya.


Hati orang tua mana yang tidak sakit melihat anaknya berulang kali disakiti. Amarah menyelimuti Jack, awalnya ia ingin merestui Angga karena telah menyelamatkan Mia waktu itu. Namun kini, hingga kiamat pun tidak akan Jack biarkan pria itu kembali datang mengganggu hidup mataharinya yang mulai terlihat redup.


"Tidak akan ku biarkan kau mendekat lagi, Angga sialan!"

__ADS_1


Tidak sanggup melihat pemandangan memilukan di hadapannya, Jack pun meninggalkan rumah menuju kantor.


Maya dengan setia menemani tanpa berkomentar, ia akan menunggu saat Mia mengungkapkan semua dengan sendirinya. Maya membawa gadis itu ke kamar untuk beristirahat, lagi-lagi jantungnya serasa diremas kala melihat mata sembab menghiasi wajah cantik putrinya.


Maya hendak beranjak dari sana namun terhenti oleh suara Mia.


"Aku mau tidur dengan Mommy." Ucapnya parau.


Dengan senyuman tulus Maya menaiki ranjang, mendekap gadis itu erat. Menaruh kepala Mia pada dada sambil mengusap lembut rambut kecoklatannya.


"Lepaskan semua bebanmu, jangan di tahan. Lupakan semua derita, karena kamu masih punya Mommy disini."


Ucapan Maya membuat hati Mia tenang meski kembali buliran bening itu menyeruak begitu saja.


Keesokan hari Mia memutuskan untuk masuk sekolah meski kedua orang tuanya melarang. Mia beralasan ingin pamit pada sahabatnya terlebih dahulu sebelum besok ia pergi meninggalkan tanah air. Ya, gadis itu memilih pergi, mengakhiri semua harapnya tentang kisah cinta indah yang dulu pernah menjadi mimpinya.


Goresan tinta Tuhan yang memilihkan akhir kisah cintanya yang seperti ini. Karam, tak terselamatkan.


Senyuman tipis ia berikan pada sang Mommy, sebagai pengganti kata bahwa 'Aku baik-baik saja'.


🌷🌷🌷


"Mia!" Laras berlari menghampiri Mia yang baru saja memasuki gerbang sekolah. Dipeluk sahabatnya itu dengan iringan tangis. Mia meringis, ia lelah untuk menangis lagi. Sebisa mungkin menahan diri untuk tidak ikut menitikkan air mata.


"Lo baik-baik aja kan? Gue takut banget-" Isak tangisnya pecah begitu saja.


Mia mengusap punggung Laras dengan lembut. "Gue baik-baik aja."


Laras melepas pelukan, memandang Mia yang terlihat berbeda. Entah apa itu. Mia mengeryitkan kening karena Laras yang tidak bergeming.


"Jangan bengong, yuk masuk!" Mia mengajak Laras menuju ruang kelasnya. Namun saat berjalan kesana, Mia mendapatkan pemandangan yang membuatnya sesak.


Raisa sedang berjalan berlawanan arah dengan Mia, terdapat amarah pada raut wajahnya. Langkah kaki nya menghentak membuat suara gema di koridor sekolah. Ia berhenti tepat berhadapan dengan Mia, tanpa aba-aba Raisa melayangkan tangan hendak menamparnya.


Tep


Tangan itu menggantung di udara karena Mia berhasil menahannya. Amarah Raisa yang meluap-luap berubah menjadi ringisan dari bibirnya, Mia mencengkeram erat pergelangan tangan Raisa hingga memerah.

__ADS_1


"Aaakkhh, lepas!" Teriak Raisa menahan sakit.


Detik kemudian Mia menghempasnya dengan keras, membuat tubuh Raisa agak terdorong ke belakang. Laras memandang takjub pada Mia yang seolah berubah menjadi orang yang sangat berbeda.


Tatapan nyalang diberikan Raisa. "Dasar lo l*nte gendut! Gara-gara lo hidup gue berantakan. Semua salah lo!" Raisa sudah tidak mempunyai urat malu berteriak dan mengumpat orang di depan umum.


Mia tidak bergeming, hanya memandang datar pada gadis yang terus berteriak padanya.


"Keluarga lo sialan, sama kaya lo! Sampah!" Lagi Raisa memaki, namun kali ini Mia tidak diam saat keluarganya dihina.


Satu langkah Mia maju, dengan mudah Mia memberikan tamparan keras pada Raisa hingga tersungkur terjerebab di lantai.


PLAK!!!


Bau hanyir menyeruak oleh indera pencium Raisa, sudut bibirnya pecah. Telinganya berdengung karena kerasnya tamparan yang diberikan Mia.


"Jangan... Pernah... Hina... Keluarga... Gue, ngerti?!" Mia berbisik penuh ancaman pada telinga Raisa hingga membuatnya bergidik ngeri. Raisa hanya mengangguk kaku saat Mia menatapnya tajam, takut Mia melakukan kekerasan lagi padanya.


Laras yang menyaksikan kejadian langka itu hanya bisa menutup mulut menahan sorak gembira melihat Raisa tersungkur.


Rasakan! tanpa gue turun tangan, lo udah merasakan balasan meski belum setimpal.


Mia segera meninggalkan Raisa ke kelas diikuti oleh Laras yang mengekori di belakanganya. Peristiwa tersebut tidak luput dari pandangan dua manik yang memperhatikan Mia sedari tadi.


"Ada apa dengannya? kenapa jadi sangat berubah?" Farel bergumam.


Perasaannya berkecamuk saat melihat Mia datang ke sekolah, melihat gadis itu baik-baik saja membuatnya lega. Namun kembali rasa penyesalan menyelimuti kala ingatan menariknya ke masa dirinya yang tidak berdaya dan tidak mampu untuk melindungi gadis itu. Apa lagi penyebab tragedi mengerikan itu adalah dirinya sendiri membuat Farel ciut.


Masih pantaskah ia berteman dengan Mia?


Masih pantaskah ia menyimpan rasa padanya?


Jangan lupa rate, vote dan likenya yach...!


sisipkan pula komentar kamu agar aku lebih baik lagi, Enjoy!


__ADS_1


__ADS_2