
Tidak lama Jack datang bersama Tomi, wajahnya yang sudah tidak muda tapi masih tampan itu menampilkan kekhawatiran yang amat sangat.
"Mia... Mia! Dimana Mia?" Jack bertanya pada Farel, Laras dan Haris. Mereka hanya bisa menundukkan kepala. Laras terisak sambil memeluk pakaian Mia.
Jack menoleh pada Tomi yang langsung menganggukkan kepala dan pergi meninggalkannya.
"Bisa tolong jelaskan, apa yang terjadi? Dan di mana Mia sekarang?" Suara Jack mengintimidasi penuh penekanan. Haris menoleh pada Farel yang sedari dari terdiam, wajahnya pias seputih kapas.
🌷🌷🌷
Apartement Angga
Gadis itu tertidur dengan damai, wajahnya terlihat tenang tanpa beban. Angga terus menatapnya tanpa berkedip sambil mengelus lembut pipi gadis itu. Matanya tertuju pada bibir merah pucat yang sedikit terbuka, seolah memanggilnya untuk mengecup dan meluma*tnya.
Jari jempolnya bermain-main disana bersamaan dengan debaran jantung semakin cepat tiap detiknya. Angga menelan saliva kasar, sungguh godaan besar bersama Mia dalam satu ruangan. Angga rasanya ingin menerkam bila tidak ingat Mia yang masih sekolah.
Kau menyiksaku.
Tidak berapa lama akhirnya Mia sadar dari tidurnya. Ia menyipitkan mata karena rasa kantuk yang masih ada, mengerjap dan melihat apa yang ada di depannya.
Tangannya terulur menyentuh wajah Angga, mengusap dengan lembut sambil bergumam. "Ini benar-benar mimpi indah sebelum aku pergi dan melupakan mu Om."
Angga mengeryit ketika mendengar kata pergi dan melupakannya, ia menggigit jari Mia hingga Mia tersadar.
"Kok bisa ngigit?" tanyanya heran.
__ADS_1
"Ini bukan mimpi, Mia..." Angga menggeram. "Dan kamu tidak bisa pergi dariku, apalagi melupakan. Tidak akan aku ijinkan!"
Mia menarik diri, ia terkesiap dengan ucapan Angga bahwa ini bukan mimpi. Ia mencubit dirinya sendiri.
"Aw."
"Apa yang kamu lakukan?" Angga mengusap tangan yang Mia cubit tadi.
Mia melotot ngeri. "Jadi ini bukan mimpi? Ya ampun?" Mia menutup wajahnya malu.
Bicara apa aku tadi, dan kenapa aku mengusap wajahnya? Bodoh!
Angga menarik tangan Mia dan membuatnya jatuh kepelukan pria itu. "Kau ingin pergi? Meninggalkan aku?" Ada rasa nyeri ketika ia berucap. Memikirkan Mia yang pergi darinya membuat ia gila.
"Tentu saja! aku akan melupakan pria yang akan menikah, Om akan jadi suami orang lain. Tidak seharusnya aku masih mengenang mu." ucapnya mantap.
Angga masih dengan kebisuannya. Terdapat banyak salah paham di sini, Angga harus meluruskannya sekarang.
"Listen, I'm not merriage! Semua batal. Apa itu membuatmu lega dan tidak jadi pergi?"
"A-apa? Om batal nikah?" Mia berucap tidak percaya. "Tapi kenapa? Bukankah undangan kalian sudah tersebar?"
"Undangan belum tersebar, yang kamu lihat itu undangan yang sudah jadi tapi belum tersebar."
"Ba-bagaimana dengan dia? Uhm... Wanita itu. Om mencintainya kan?" Mia meremas tangannya sendiri. Gelengan kepala Angga membuat Mia bungkam.
__ADS_1
"Aku mencintaimu Mia, sejak kamu mengutarakan perasaanmu... Sejak kau masih Sophia yang ku kenal." Angga mengambil tangan Mia dan menciumi jarinya. Perbuatannya itu membuat Mia menahan nafas, ada genyar aneh yang ia rasakan.
"Aku tidak pernah bereaksi seperti ini pada wanita lain, bahkan ini sangat tidak tertahankan." Matanya menghipnotis Mia, tatapan tajam yang memabukkan. Menenggelamkan Mia ke dasar hingga tidak dapat mencapai permukaan.
"Om..."
"Kau juga mencintaiku...?" Angga mendekatkan wajah pada Mia hingga hembusan nafasnya mengenai pipi.
"Katakan... Kau mencintai ku."
"Aku..."
"Just say, you love me!"
"I love you."
"I love you more my Mia."
Dua benda kenyal itu pun menyatu, seperti magnet yang saling tarik menarik. Sebuah rasa cinta yang tertahan antara keduanya kini disalurkan menjadi ciuman hangat dan lembut.
Manis dan mengetarkan hati, rasa yang sulit untuk dilukiskan. Mereka saling menempelkan kening saat ciuman itu berakhir. Dengan senyum bahagia mereka kembali mengulang kegiatan indah itu.
"Demi tuhan, aku sangat mencintaimu." Angga berbisik sambil memeluk erat tubuh Mia.
Wajah Mia sudah seperti kepiting rebus dihujani kata cinta oleh pria idamannya. ia hanya bisa tersenyum malu-malu.
__ADS_1