
Sastroadji Group
Tampak seluruh karyawan memberi hormat pada Angga yang memasuki lobi perusahaan. Mereka baru diberi kabar jika anak pemilik perusahaan pulang dari London dan akan menggantikan beliau hari ini.
Angga hanya memberikan senyum tipis menanggapi sapaan para karyawannya. Banyak yang terpana melihat hal itu, tidak sedikit yang menatap kagum dan kemudian berbisik.
"Bos baru kita ganteng banget!"
"Gue baru liat, makin betah deh di kantor!"
"Tuhan, jadikan ia jodohku!"
Dan masih banyak lagi bisikan dan do'a para karyawati yang menghalu ria.
Keributan semakin jadi saat Angga sudah memasuki lift, sang Manager terpaksa membubarkan kerumunan dalam kantornya yang tiba-tiba.
"Kembali bekerja! Malah kumpul ngegosip kaya ibu-ibu." Hardik Pak Manager.
Semua karyawati pun menggerutu, kesal karena Pak Manager mengganggu mereka untuk berkhayal tentang bosnya.
"Pak Roni gak asik!"
"Iya, yang penting 'kan kerja kita bener!"
Pak Roni selaku Manager hanya bisa mengelus dada, karyawatinya memang susah diatur.
🌷🌷🌷
Angga hendak memasuki ruangan, menatap meja sekretaris yang kosong.
__ADS_1
"Bara, kenapa meja itu kosong? Dimana sekretarisnya?"
Bara adalah tangan kanan Pak Ronald papanya Angga.
"Bulan kemarin berhenti Tuan, karena beliau sakit kanker. Belum ada penggantinya, sementara tugasnya saya handle hingga hari ini."
"Kangker? Kasian sekali. Beri dia pesangon dan untuk berobat biar perusahaan yang menanggung biayanya!" Angga iba mendengar karyawannya menderita sakit keras.
"Baik Tuan." Bara mengangguk sambil mengulum senyum. Tuan mudanya sangat baik, sama seperti Tuan besar Ronald.
Baru saja Angga menduduki kursi kebesarannya ponselnya berbunyi, nama tunangannya tertera disana. Angga mendesah lelah. Saat panggilan ke-3 baru diangkat.
[Ada apa?]
[Sayang, nanti malam jangan lupa ya! Kita dinner,]
[Ok, selamat kerja ya. Muach!]
[Hm.]
Telepon pun terputus, Angga menatap datar ponselnya. Bara mengeryit melihat Tuan mudanya yang murung, ia merasa aneh. Harusnya seorang yang ingin menikah memperlihatkan raut bahagia, tapi tidak dengan Tuan mudanya.
"Bara!" Panggil Angga.
"Ya Tuan?"
"Siang nanti temani aku keluar, aku ingin mencari angin segar. Pikiranku sedang kacau,"
Bara menganggukkan kepala patuh.
__ADS_1
Sedangkan di seberang sana, setelah teleponnya kepada Angga terputus Hani hanya bisa tersenyum kecut.
Apa kau belum bisa mencintaiku, Angga?
🌷🌷🌷
Mia sedang di Cafe*** langganannya, coklat panas disini sangat enak membuat ia ketagihan.
"Silahkan Nona, coklat panasnya,"
"Makasih ya mas." Mia tersenyum manis. Pelayan muda itu mengangguk ramah dan pergi.
Mia menghirup aroma coklat khas favoritnya. "Harum banget, hmmm..." Mia menyeruput dengan hati-hati menikmati rasa manis pahit menenangkan.
Diwaktu bersamaan Angga memasuki Cafe yang sama dengan Mia, seolah semesta memang berencana mempertemukan mereka tanpa disengaja Angga memilih meja yang berseberangan dengan Mia.
Mia yang masih fokus mencecap coklat panasnya, Angga yang melihat buku menu. Hingga mata mereka bertabrakan sesaat kemudian.
Matanya membulat tidak percaya dengan apa yang ia lihat sekarang. Pria idamannya, pria yang selalu datang dalam mimpinya kini ada di hadapannya. Sedang duduk dengan wajah yang semakin tampan di mata Mia, jantungnya berdegub kencang, wajahnya memerah merona. Ada letupan bahagia di hatinya yang sulit untuk di gambarkan.
"Om ganteng..." Ucap Mia lirih.
Angga melihat seorang gadis gendut yang menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. ia mengeryitkan alisnya bingung.
"You know me?" Tanya Angga.
Please rate, vote dan likenya yach!
Sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!
__ADS_1