Cintaku Berat Di Timbangan

Cintaku Berat Di Timbangan
CBT 128


__ADS_3

7 bulan kemudian...


Pagi ini gadis itu berdiri di balkon kamarnya menikmati semilir angin pagi yang menyejukkan. Hatinya hangat setelah melewati banyak hal selama beberapa bulan ke belakang. Senyuman indah terpatri di wajah cantik gadis itu saat usapan hidung bangir ia rasakan di ceruk lehernya.


Dekapan hangat menyusul membuatnya nyaman. Ia menengadahkan kepala dengan mata terpejam ketika tangan kekar itu menggerayangi tubuhnya.


"Sudah bangun... sayang," terdengar suara berbisik.


"He... em..." Mia mengangguk.


"Siang ini kita berangkat," tambah nya.


"Ok... tapi... aku masih ada janji dengan Haris," sahut Mia.


Seketika tubuh itu berputar menghadap pria yang sejak tadi memeluknya. Angga tampak memicingkan mata tajam.


"Mau apa dia?"


"Aku ingin mengembalikan sesuatu yang sempat dia berikan padaku,"


"Apa yang dia berikan?"


"Soal itu, aku kan udah bilang itu rahasia,"


Angga menghela nafas, setelah kejadian di rumah sakit akhirnya mereka berbaikan namun, baru 3 bulan ini mereka kembali tinggal bersama. Bulan kemarin Haris nekat melamar Mia dengan memberikannya cincin berlian, pria itu melamarnya di sebuah cafe setelah acara hangout mereka bertiga dengan Laras. Haris sama sekali tidak tau jika Mia dan Angga telah berbaikan. Tampaknya pria itu telah salah berprasangka hingga berani melamar gadis yang berstatus istri orang tersebut.


Mia tidak berani memberi tahukan apa yang Haris berikan padanya ke Angga, bisa-bisa perang dunia terjadi. Haris adalah pria yang sangat baik, meski begitu tetap tidak bisa merubah rasa cinta Mia pada suaminya yang telah menyakitinya berkali-kali. Dan Angga sekarang berusaha memperbaiki diri dengan mempercayai Mia, pria pemaksa dan keras kepala itu berangsur-angsur menjadi suami yang baik. Lebih pandai mengatur emosi dan tempramennya. Mia menghargai usaha suaminya tersebut.


"Baiklah, aku antar,"


"Yakin?"


Pria dewasa itu mengangguk pasti. Kemudian menggedong Mia dengan tiba-tiba hingga gadis itu tersentak kaget.


"Aaakhh!!"


"Sebelum itu, Ayah minta mimi susu dulu ya Bunda! Haus," dengan senyum mesum.


Wajah Mia memerah, beberapa hari ini Angga menyebut panggilan pada dirinya sendiri Ayah dan memanggil Mia Bunda. Katanya agar terbiasa sebelum calon bibit unggul terbuahi. Pria itu sekarang malah gencar bercocok tanam, padahal sebelumnya dia tidak ingin Mia hamil dulu. Mungkin karena rasa bersalahnya yang masih bercokol kokoh dalam relung hati, setiap hari mengingat calon bayi yang gugur itu membuatnya ingin segera menggantikan dengan yang baru. Tidak akan membuatnya lupa, setidaknya dia bisa membuat senyum manis istrinya semakin merekah dengan keberadaan bayi mungil di keluarga kecilnya.


Mia menepuk dada Angga kesal. "Aku bukan sapi! Lagipula, gak ada airnya," seloroh Mia dengan wajah semerah tomat.


Pria itu tergelak tidak peduli dengan rajukan Mia, gadis itu dengan bibir mengerucut membuat Angga semakin gemas.


Kamar itu pun menjadi saksi bisu penyatuan cinta 2 insan yang hampir terpisahkan, segala prahara yang menimpa malah semakin memperkuat ikatan mereka. Masing-masing belajar memperbaiki diri, masing-masing mengerti jika mereka saling membutuhkan lebih dari sebelumnya. Dan masing-masing menyadari akan perasaan cinta mereka.


🌷🌷🌷


Cafe***


Haris datang ke cafe tempat di mana dirinya melamar Mia. Gadis gendut itu mengajaknya untuk bertemu. Dengan jantung berdebar pria itu menunggu, telapak tangannya dingin dengan keringat yang menguar di balik pori-pori kulitnya.


Tidak lama terdengar langkah kaki yang mengusik atensinya pada meja, matanya tidak berkedip saat melihat Mia yang datang menghampirinya dengan penampilan elegan. Coat hitam dengan celana bahan warna senada, highhels 5 senti terpasang cantik di kakinya. Rambut coklat agak kepirang-pirangan membuat kesan manis gadis itu semakin kentara. Mulut pria itu hampir menganga.


Ya Tuhan... bidadariku datang!


Mia tersenyum sambil melambaikan tangan. "Hai Haris, sudah lama?"


Pria itu masih terkesima, hingga terdiam tanpa menjawab pertanyaan Mia.


"Haris," Mia menepuk bahu pria itu, sedangkan Haris langsung terkesiap kikuk.


"Ah... hai! Maaf, kamu cantik banget," pujinya jujur.

__ADS_1


Mia hanya tersenyum simpul sambil menyelipkan anak rambut pada sela telinganya. "Makasih," dia pun duduk di kursi yang berseberangan dengan Haris.


Sedangkan di parkiran terdapat mata elang yang mengamati mereka, tangannya meremas kemudi hingga buku-buku jarinya memutih. Jika tidak tau tujuan utama istrinya bertemu dengan sahabatnya, mungkin Haris sudah merasakan bogeman mentah dari Angga. Pria pencemburu itu harus menahan kesal saat Haris menatap Mia dengan tatapan memuja.


"Haris... sebelumnya aku mau bilang makasih sama kamu, karena udah jadi penguatku saat aku terpuruk. Kamu bener-bener sahabat aku, kamu pria yang sangat baik." Mia mengeluarkan kotak kecil lalu meletakkannya di hadapan Haris. "Aku juga minta maaf karena gak bisa terima kamu, karena aku-"


"Kamu balikan sama dia?" Haris bertanya dengan nada sebiasa mungkin, padahal hatinya sudah berdarah-darah.


Mia menatap sejenak Haris sebelum akhirnya mengangguk pelan. Bagai tersambar petir, Haris hanya bisa terdiam menahan sakit nyut-nyutan di hatinya.


🎢Jatuh bangun aku mengejarmu...


Namun dirimu tak mau mengerti...


Kubawakan segelas cinta namun kau meminta diriku, membawakan bulan ke pangkuanmu... 🎢


Suara alunan lagu dangdut lawas terdengar mengisi ruangan. Sepertinya yang punya cafe sangat mengerti isi hati Haris, lagu itu mewakilkan hati pria yang tersenyum tegar.


"Kau mencintainya?" tanya Haris kembali.


"Sangat," gadis itu berkata dengan mantap memberikan sayatan pada relung pria itu.


Haris mengangguk dengan senyum pedih. "Aku mengerti,"


Mia senang dengan pengertian Haris padanya, gadis itu beranjak dari kursinya lalu memeluk pria itu. Haris sempat terhenyak hingga akhirnya dia pun membalas pelukan Mia dengan erat.


Gak apa-apa di tolak, yang penting masih bisa meluk.


Pria itu memanfaatkan waktunya yang sangat sedikit itu untuk menikmati dekapan hangat nan lembut yang selalu Laras katakan saat memeluk Mia.


Akhirnya meski sebentar aku bisa meluk kamu juga, Mia. Kamu bener-bener lembut dan hangat.


Mereka berdua tidak menyadari ada yang terbakar api cemburu hingga sepertinya bisa menghanguskan mobil.


Gadis itu menyadari kemarahan suaminya. Dengan segera melepas pelukan, namun Haris masih tidak bergeming. Pria itu masih setia dengan tangan yang mendekap tubuhnya.


"Har... Haris... udah peluknya," cicit Mia sambil menepuk tangan pria itu.


Pelukan itu baru terlepas saat Angga tepat di samping mereka. Haris tersenyum manis sambil berkata.


"Itu cuma pelukan persahabatan, Om gak usah marah, OK!" Angga menggeram sambil mengepalkan tangan. Kata-kata itu benar-benar menyindirnya telak.


Mia meringis, ia menatap takut-takut pada Angga lalu menggapai tangannya. "Kita berangkat sekarang yuk, Ayah."


Panggilan Ayah langsung meruntuhkan amarahnya, pria itu tersenyun senang sambil menggenggam tangan istrinya. Meninggalkan Haris yang menatap pasangan suami istri itu dalam diam.


Semoga kamu selalu bahagia, batin Haris.


🌷🌷🌷


Kediaman Pak Tarjo


Bara sedang menunggu mertuanya yang bersiap-siap mengepak baju. Mereka akan ikut honeymoon bersama Angga dan Mia ke Hawai.


"Nak bara, di sana kita jalan-jalan ya!"


"Iya Pak," sahut Bara singkat.


"Wah, Bapak senang sekali. Sudah lama tidak ke luar negeri," selorohnya riang.


Bu ani tampak sibuk membawa beberapa rantang dan melipat karpet menjadi 3 tumpukan. Beliau menggeret 3 koper besar. Bara sampai melongo melihat ibu mertuanya.


"Ibu... itu buat apa?" tanya Bara heran.

__ADS_1


"Ya buat kita pergi ke Hawai. Ibu bawa bekal biar di jalan gak laper, terus bawa karpet. Biasanya di tempat wisata itu harus nyewa, sayang lha uangnya. Mending bawa aja, terus harus bawa baju ganti yang banyak. Pasti kita berenang kan, basah-basahan, betul gak Pak?" jawab Bu Ani panjang lebar.


Pak Tarjo menggeleng kepala. "Ih Ibu, gak usah bawa rantang. Nanti kita di kasih makan di pesawat tau, norak neh Ibu!" Pak tarjo meletakkan tiap rantang kembali ke meja makan. "Nah kalo karpet bawa aja, gak apa-apa. Itu Bu, bawa topi yang lebar buat foto-foto!"


"Topi yang suka Ibu pake ngejemurin ikan asin?"


"Iya, Bapak pernah liat di TV kalo Hawai panas. Orang-orangnya pakai topi itu,"


"Berarti kita bawa payung juga?"


"Boleh-boleh, apa mending jas ujan aja ya Bu?"


"Bawa semuanya aja Pak!" wanita paruh baya itu malah semakin sibuk dengan semua usulan sang suami.


Bara menurut pangkal hidungnya pening, mereka hanya ikut honeymoon Tuannya. Bukan mau pindah rumah, dan apa tadi segala bawa karpet. Memangnya mau ke kebun binatang?


Suara klakson membuyarkan atensi Bara hingga pria itu melompat. Yanti sedang menunggu di mobil hingga tertidur. Bara menatap suami istri yang masih sibuk berdebat dan mengumpulkan barang yang mau di bawa. Semakin lama semakin banyak, Bara yang gemas memilih menarik mertuanya tanpa membawa apapun ke dalam mobil.


"Loh, loh Nak Bara? Kita gak bawa apa-apaan?" seru kedua mertuanya.


"Kita beli semua di jalan," jawab Bara singkat. Dia tidak mau membuat Tuannya menunggu lama lagi.


"Ah Bara, boros. Mending uangnya buat Ibu,"


"Saya kasih uang juga ke Ibu,"


"Siap Bos," Bu Ani berseru lantang dengan memberi hormat. Pak Tarjo menatap malas pada istrinya. "Dasar matre!"


"Ngomong sekali lagi!" Bu Ani mendelik.


"Gak, Ibu istri yang pintar atur uang," keringat dingin mengalir di pelipis Pak Tarjo. Bara hanya terkikik geli melihat wajah pias mertuanya dari kaca spion.


🌷🌷🌷


Hawai


Singkat cerita mereka pun sampai ke tempat tujuan. Keputusan Angga mengajak Pak Tarjo dan istri tidak lah salah, mereka berdua memberi warna pada perjalanan mereka tadi.


Angga menuntun Mia setelah berada di kamar hotel tempat menginap. Mereka berdua menuju balkon, menatap pasangan Bara dan Pak Tarjo dari atas. Mia tersenyum geli melihat tingkah pria paruh baya yang diidolakan adiknya itu.


Angga merangkul Mia, dia mengecup punggung tangan gadis itu lembut.


"Terima kasih, masih mencintaiku hingga saat ini,"


Mia menyenderkan kepalanya pada bahu Angga. "Aku akan mencintaimu sampai akhir hayat," gadis itu tersenyum manis sambil melihat Angga.


"Dan aku akan mencintaimu hingga kehidupan selanjutnya," jawab Angga.


"Dasar gak mau kalah!" Mia terkekeh.


"Aku sangat berterima kasih pada kedua orang tuamu, karena telah melahirkanmu ke dunia ini untukku," Angga berkata dengan tatapan dalam.


"Aku berterima kasih pada semesta yang mengijinkanku menjadi istrimu," ucap Mia membuat Angga tersenyum senang.


"Kita akan selalu bersama,"


"Selamanya..." mereka saling menempelkan dahi sebelum ciuman hangat menjadi awal baru kehidupan rumah tangga mereka selanjutnya.


END


Maafkan author yang mungkin memberikan cerita yang kurang klimaks akhirnya. Bara dan Pak Tarjo mungkin aku bikin terpisah cerita dan aku tidak berjanji.


Terima kasih untuk kalian semua yang selaku mendukungku. Dari awal hingga akhir part aku menangis terharu akhirnya aku bisa menyelesaikan cerita Mia dan Om ganteng. Semoga tidak mengecewakan. Dukung aku terus ya, dan do'akan aku bisa memberikan karya baru yang lebih baik lagi, Enjoy!

__ADS_1


__ADS_2