
"Masuklah, jika ada yang ingin kau sampaikan pada Mia. Karena setelah ini Mia akan ikut pulang bersamaku,"
Angga mendongak dengan wajah kacau. "Maya... jangan pisahkan aku darinya. Aku salah, maafkan aku Maya. Ku mohon jangan ambil Mia," pria itu mengiba.
"Mia yang minta, meski kami menawarkan. Semua keputusan ada di Mia," jawab Maya kemudian ia pergi menghampiri suaminya.
Jack tidak ingin dekat-dekat Angga, karena ia yakin tidak akan bisa menahan diri untuk membogemnya.
"Ayo Daddy, kita pulang dulu. Besok baru jemput Mia." ajak Maya.
"Dan meninggalkannya dengan si brengsek itu?" Jack menggeram. Maya mengusap lengan suaminya.
"Biar mereka selesaikan masalah mereka, beri dia kesempatan. Sampai di mana ia bisa meyakinkan Mia,"
"Kamu masih membelanya?"
"Sebagai orang tua, kita hanya ingin yang terbaik untuk anaknya tanpa penyesalan. Mia yang lebih tau apa yang membuatnya bahagia atau menderita, lalu kita dukung apapun keputusannya." bujuknya dengan suara lembut.
Seluruh urat saraf Jack mengendur mendengar nasehat istrinya. Ya, jangan ada lagi penyesalan. Cukup ia menyesal memberi restu, ia tidak mau menambah beban anaknya. Ini pasti berat untuk Mia.
Tanpa kata Jack menggandeng tangan Maya dan membawanya pergi keluar rumah sakit. Mereka melewati Angga begitu saja tanpa menoleh.
Angga menatap nanar kepergian 2 mertuanya. Apakah ini akan menjadi akhir? Tidak. Ia tidak akan melepaskan Mia, tidak akan pernah. Mengumpulkan keberanian untuk menghampiri istrinya, meski kerinduan telah menyusup relungnya. Namun rasa takut lebih mendominasi karena kesalahan yang ia perbuat.
Dengan perlahan memasuki pintu rawat inap yang dijaga oleh 2 bodyguard Jack. Pria itu menghela nafas kasar, akan sulit ke depannya jika Mia kembali ke rumah sang mertua. Ia melihat Mia yang terbaring, tampak gadis itu sedang tertidur. Pria itu menatap pedih istrinya. Semua karena dirinya, hingga mereka kehilangan jabang bayi yang bahkan baru berjuang untuk hidup.
Angga meremas sisi ranjang, menahan gejolak hatinya dan mengutuk semua yang telah ia lakukan. Meraih tangan Mia, mengecupnya diiringi air mata yang kembali mengalir.
"Maaf sayang... maafkan aku... aku salah... hukum aku, tapi jangan pernah tinggalkan aku," ucapnya lirih menyayat hati.
Mia yang tertidur terusik dengan air mata yang menetes pada tangannya. Matanya terbuka dan menatap Angga yang masih mengecupinya. Dengan perlahan ia menarik tangannya. Angga sontak terkejut dengan tarikan itu hingga ia menatap Mia dengan matanya yang basah.
"Maaf mengganggu tidurmu, sayang,"
"Tidak apa-apa," sahut Mia pelan. Ia memalingkan muka kearah berlawanan agar tidak melihat wajah mengiba suaminya. Hatinya nyeri karena terus mengingat kata-kata Angga yang menuduhnya.
"Aku kehilangan bayiku,"
__ADS_1
"Dia bayiku juga, Mia. Maafkan aku, harusnya aku tidak menuduhmu. Maafkan sikapku yang di luar batas hingga menyakitimu. Maafkan keteledoranku sayang,"
"Apa kamu sudah percaya jika aku tidak sengaja membuat Tania alergi?"
Angga tidak langsung menjawab, pria itu tampak berfikir sejenak. Sikapnya membuat Mia tersenyum miris.
"Bahkan kau masih harus berfikir,"
"Aku..."
"Kita butuh waktu untuk menerungkan semuanya,"
"Mia..."
"Carilah bukti bahwa aku tidak seperti yang kamu tuduhkan,"
"Apa kau sudah tidak mencintaiku?"
"Jangan kau tanyakan cinta untukmu! Di sini yang ada dirimu!" Mia menaruh tangan pada dadanya. "Tapi keraguanmu menyakitiku lebih dari apapun!"ucapnya tercekat. Sakit rasanya diragukan oleh orang yang sangat dicintai.
Angga terhenyak, ia segera meraih Mia dalam pelukannya. Mia berontak, mendorong dada bidang pria itu namun Angga tidak bergeming. Ia menahan semua serangan dan pukulan dari Mia, ia membisikkan kata maaf berulang-ulang.
"Iya, aku jahat. Aku brengsek, maafkan aku Mia... maaf... maaf..." Angga masih memeluk Mia yang sudah tidak berontak. Hatinya pun pilu, mengapa ia masih meragukan Mia? Kenyataan jika tidak mungkin Tani melukai diri sendiri masih bercokol di pikirannya.
Angga mengurai pelukan, ia menangkupkan kedua pipi Mia menghadapnya. "Lakukan apapun untuk menghukumku yang tidak tau diri ini, tapi jangan pernah berfikir untuk lepas dariku," pinta Angga sambil mengusap bekas airmata di pipi Mia. "Terima kasih masih mencintaiku," pria itu pergi meninggalkan Mia setelah mencium bibir Mia dengan dalam.
"Brengsek!" Mia mengusap bibirnya yang masih basah akibat ulah Angga. Ia mengumpat karena hatinya tidak mudah untuk membenci suaminya. "Kenapa aku begitu mencintaimu?"
🌷🌷🌷
Angga memilih mengalah, ia salah dan tidak layak untuknya protes. Kini Angga harus menelan pil pahit ke depannya akan berjauhan dengan sang istri, menahan rindu yang selama ini selalu tersalurkan karena keberadaan Mia di sisinya.
Ponsel Angga berdering, tangannya mengepal saat melihat nama yang tertera di sana. Ia beranjak dari kursi tunggu untuk menghampiri orang tersebut.
"Angga, kau terlihat kacau. Apa semua baik-baik saja?" tanya Tania saat Angga sampai di kamar inapnya. Kebetulan sekali Tania dan Mia 1 rumah sakit.
Angga tidak menjawab, ia memilih menghempas tubuhnya pada sofa. Ia memejamkan mata sambil menengadahkan kepala ke atas hingga ia menatap langit-langit.
__ADS_1
"Apa benar kamu bilang ke Mia jika aku suka udang?"
Tania terhenyak mendapat pertanyaan itu, ia mulai menegang saat Angga kembali melontarkan kata yang membuat hatinya ciut.
"Jika kau berbohong, persahabatan kita putus sampai di sini. Jangan pernah menampakkan batang hidungmu padaku," tambahnya dengan nada dingin.
"Angga, kamu ngomong apa seh? Aku hampir mati lho! Gak mungkin aku sengaja celakain diri sendiri," sanggah Tania menahan gugup.
Angga menggeleng, mengingat betapa ia membela wanita di hadapannya ini. Ada apa dengannya? Angga tertawa sendiri membuat Tania keheranan.
"Hahahaha, tentu saja. Bagaimana mungkin kamu menyelakai diri sendiri hingga hampir mati? Dan bagaimana mungkin Mia sengaja melakukan itu? Bisa saja koki di rumah yang memasaknya, kenapa aku tidak kepikiran ya?" Angga bermonolog.
Tawa itu berubah menjadi decihan sedih. "Kau tau Tania, Mia keguguran. Dan semua karena aku membelamu," Angga mengusap kasar wajahnya. "Harusnya aku menuduh koki di rumah, bukan menuduh Mia."
Ucapan Angga tentang Mia keguguran membuat Tania terkejut. Dalam hati ia bersorak, jadi tidak ada pengikat diantara mereka.
"Yang sabar ya Angga, aku gak maksud nuduh Mia. Beneran! Lagian aku udah gak apa-apa," ucapnya penuh simpati.
Angga mengangguk, ia beranjak dari sofa. Ia hendak pergi ke suatu tempat untuk melepas penat.
"Angga, kamu mau kemana?"
"Mencari bukti, siapa sebenarnya yang meracunimu. Kau tunggu saja," ucap Angga membuat wajah Tania pias.
Jika Angga sampai tahu, ia akan kehilangan semuanya. "Aku udah gak apa-apa kok, jadi gak usah di cari. Udah clear kan?"
Mata Angga berkilat mendengar kata Tania. "Clear... maksudmu bayiku sudah clear?"
"Bu-bukan begitu, maksud aku masalahnya kan udah beres. Aku udah sembuh, jadi gak perlu dikhawatirkan lagi," ucap Tania kikuk.
Angga mendekati Tania dengan tatapan tajam. "Karena orang itu, bayiku mati. Karena orang itu, Mia pergi. Aku tidak akan melepaskannya, aku akan memberikannya pelajaran karena telah bermain-main denganku. Dan kamu, akan mendapatkan keadilan," Angga menyeringai mengerikan.
Please rate, vote dan likenya yach!
Sertakan comment kalian agar aku kebih baik lagi, Enjoy!
Mau ngapain ya si Om??
__ADS_1
Pada minta Om cereee... gmn donk Om? author panik neh... 😱😱😱