Cintaku Berat Di Timbangan

Cintaku Berat Di Timbangan
CBT 106


__ADS_3

Warning, rate 21++ harap bijak dalam membaca.


"Miaaaa..." seru laras menghambur ke pelukan Mia. Gadis gendut itu hampir terjengkang jika Angga tidak memegang pinggangnya.


"Ups, sorry Big girl." Laras meringis tidak enak, apa lagi pengantin prianya berwajah datar.


"Gak apa-apa kok, makasih ya lo uda dateng," ucap Mia senang. Namun kemudian ia menanyakan hal yang membuat Angga langsung menyipitkan mata tidak suka. "Haris sama Farel mana?"


Laras menyadari perubahan atmosfer yang terjadi, ia menelan saliva dengan kasar. "Hm... mereka ada urusan keluarga katanya," jawab Laras sambil mengusap tengkuknya yang tidak gatal.


"Dua-duanya?" kembali Mia bertanya seolah tidak percaya. Laras hanya mengangguk pelan dan melirik sekilas pada Angga.


Duh, Om ini kenapa mukanya jadi serem gitu? batin Laras.


"Udah jangan dipikirin, mereka titip salam kok ke kalian. Moga langgeng dan cepet dapet momongan," jelas Laras menenangkan.


Tentu saja itu hanya ucapan dari Laras. Karena sebenarnya 2 pria itu hanya memberi pesan lewat WA kalau tidak bisa hadir ke acara pernikahan Mia. Mereka patah hati, dan tidak sanggup jika harus menangisi gadis itu saat bersalaman nanti.


Dan sesudah Laras melontarkan kata itu raut wajah Angga berubah menjadi lebih baik. Binar bahagia terpancar kembali. Laras menghela nafas lega. Kini gilirannya mengucapkan selamat pada Angga.


"Selamat ya Om, udah nikahin Mia sahabat aku. Pesan aku, jangan disakitin lagi. Soalnya dia udah 2 kali sakit hati. Kalo sekali lagi sakit hati, fix besoknya dia berubah jadi gurita," ucap Laras panjang lebar membuat Mia tergelak mendengarnya.


Angga hanya bisa mendengus mendengar ocehan Laras, bagaimana bisa istrinya disamakan dengan gurita. Meski tidak di pungkiri kenyataan jika dirinya telah membuat Mia patah hati sebanyak 2 kali.


"Ya, aku akan menjaga dan membuatnya bahagia." Angga berkata dengan tenang disertai senyuman tulus. Laras kini tenang, melepas sahabatnya pada orang yang tepat.


Sebelum pergi, Laras membisikkan sesuatu pada Mia hingga wajah gadis itu merona. Lalu ia melenggang pergi sambil berseru selamat menempuh hidup baru.


Mia terharu, karena dikelilingi orang-orang yang menyayanginya. Angga menggenggam erat tangan gadis itu, dan mengecupnya mesra. Pria itu terus menatap Mia penuh cinta.


🌷🌷🌷

__ADS_1


Acara itu berlangsung hingga tengah malam dan tamu masih saja berdatangan. Mia meringis merasakan kakinya yang mulai kram.


"Kenapa sayang?"


Mia menoleh pada Angga yang menghampirinya dengan raut khawatir, entah kenapa masih belum terbiasa dengan panggilan 'sayang'. Bukannya menjawab, Mia malah memalingkan wajahnya karena malu.


"Hei, kok diam?" Angga mengarahkan pandangan pada tangan Mia yang mengurut tumit.


Pria itu membungkuk, dan tanpa aba-aba membopong Mia dengan bridal. Gadis itu memekik karena terkejut, secara reflek melingkarkan tangannya pada leher Angga. Senyuman terukir di wajah tampannya membuat Mia menahan nafas.


Oh Tuhan, benarkah pria ini telah menjadi suamiku? Rasanya seperti mimpi.


Mia terus menatap Angga yang menggendongnya, dan tersadar saat pria itu menurunkannya di atas ranjang. Mia mengedarkan pandangan pada sekeliling ruangan kamar. Kamar bernuansa abu-abu dan putih, terlihat elegan dan nyaman. Pandangannya terhenti pada ranjang yang ia duduki saat ini, terdapat taburan bunga mawar di sana.


"Kamu istirahat aja, aku mandi dulu ya," Angga mengecup kening Mia sebelum ia pergi ke kamar mandi.


Gadis itu mengerjapkan mata, masih belum sadar akan semua yang terjadi. Ia mengusap kedua pipinya yang terasa panas.


Atensinya teralihkan pada sebuah kado di atas nakas ranjang. Terlihat dari motif dan warnanya, Mia bisa menebak dari siapa itu.


"Ini pasti dari tante Catherine," gumamnya.


Mia mengambil dan membuka kado itu dengan hati-hati, matanya membulat ketika menangkap beberapa potong pakaian dalam berwarna merah menyala. "Ya ampun, apa yang tertutupi dengan dalaman seperti ini?" Ia menerawang bra dan j-string yang transparan.


"Apa itu Mia?" suara Angga mengagetkan Mia, ia segera berbalik badan dan menyembunyikan pakaian dalam itu dibalik punggungnya.


"Bu-bukan apa-apa!" jawabnya gugup.


Tidak sampai disitu, Mia kembali dibuat mati kutu saat melihat Angga yang menghampirinya hanya mengenakan handuk di pinggang. Dada bidang dan perut ratanya terlihat jelas bahkan jejak air di rambutnya yang basah membuat tenggorokan Mia mengering.


Angga melihat sesuatu yang mencurigakan, ada yang disembunyikan darinya. Pria itu mengulum senyum dan mencondongkan tubuh, mengalihkan perhatian dari Mia yang masih terpaku menatapnya. Dengan kecepatan kilat, pria itu berhasil mengambil apa yang disembunyikan Mia dibalik punggungnya.

__ADS_1


"Akh...Om!" pekik Mia.


Hening sejenak, namun benda itu masih di tangan Angga. Mia menunduk menahan malu, ia memilih untuk beranjak pergi ke kamar mandi. Saat kakinya menapak lantai, Angga berbisik dengan sensual. "Pakailah, aku ingin melihatmu memakai ini," bisiknya sambil menaruh dalaman itu ke tangan Mia.


Mia segera melesat memasuki kamar mandi. Ia menyandarkan tubuhnya pada pintu kamar mandi yang telah tertutup, degub jantungnya tidak beraturan. Padahal saat di asrama ia sempat ingin melakukannya dengan Angga, tapi kenapa rasanya tidak segugup ini?


Kembali menatap pakaian dalam itu, sambil menimbang-nimbang sejenak. Mereka telah menikah, sudah sewajarnya jika menuruti apa kata suami. Mia akhirnya memutuskan untuk memakai dalaman itu, mengesampingkan rasa malu yang menyelimuti diri. Jika memang harus malam ini, ia siap menyerahkan semuanya untuk pujaan hati.


Ceklek


Suara daun pintu yang terbuka mengalihkan perhatian Angga dari ponselnya, Ia sedang duduk menyandar di kepala ranjang. Masih bertelanjang dada, Angga hanya mengenakan celana piaya panjang berwarna hitam. Terlihat Mia masih mengenakan handuk kimono. Kemudian dengan perlahan membukanya, membiarkan handuk itu meluncur bebas ke lantai.


Nafas Angga tertahan mendapatkan pemandangan yang selama ini hanya ada di dalam pikiran liarnya. Mia dengan bra dan j-string transparan kini di hadapannya, ia beranjak dari ranjang dan mendekat tanpa memutus pandangannya pada gadis itu. Meraih dagu Mia agar menatapnya, rona merah di pipi menambah cantik parasnya yang berhasil membuatnya menggila.


"Kamu sangat indah..." Angga membelai bibir merah pucat Mia. "Jadilah milikku malam ini," bisiknya.


Anggukan pelan diberikan Mia mengawali ciuman lembut dua insan dimabuk asmara itu.


🌷🌷🌷


Ciuman lembut itu kini berubah menjadi menuntut, Angga dengan lihai melepas benda yang melindungi dada menantang Mia yang salah satu puncaknya sudah ada di dalam mulut Angga. Gunung kembar nan bulat dan cantik itu memiliki ukuran di atas rata-rata, Angga seperti mendapatkan hidangan extra large yang memuaskan.


Mia melenguh, meracau setiap kali Angga menggigit puncak kemerahan dadanya lalu meremasnya. Angga kembali memagut bibir manis Mia dan membawa tubuh gadis itu di atas ranjang. Turun menjelajahi leher putih Mia, Angga bermain-main pada kedua puncak dada gadisnya mencipta lenguhan dan geraman di tenggorokan mereka. Semakin turun, Angga mengecupi perut Mia dan terus turun, tepat di depan yang ingin dirinya nikmati.


Melepas j-string transparan yang menyembunyikan surganya, Angga segera mendekat, membaui aromanya.


"Om ... aaah!!" Mia mengentakkan kuat kepalanya ke belakang saat gigi Angga menggigit dan menarik bagian paling sensitifnya, lalu membelai disusul kecupan-kecupan ringan yang membuat Mia menggila.


Tunda dulu.. ngantuk...wkwkwkwk


Please rate, vote dan likenya yach!

__ADS_1


Sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!!!


__ADS_2