Cintaku Berat Di Timbangan

Cintaku Berat Di Timbangan
CBT 63


__ADS_3

Suara kucuran air mengalir terdengar memenuhi ruangan, rasa perih menguar saat menyentuh sudut bibirnya yang pecah.


Sialan.


Raisa terus mengumpat, gadis itu seperti tidak pernah belajar dari kesalahan. Merasa bersalah pun tidak. Menguar rambutnya kasar, lalu memukul wastafel meluapkan kekesalannya yang tidak kunjung surut. Wajahnya merah padam.


Bagaimana tidak kesal? Sekolah mengeluarkan dirinya secara sepihak akibat perbuatannya tempo hari pada Mia. Raisa berusaha terus mengelak meski bukti sudah ada di depan mata, bahkan sudah sampai di tangan Kepala Sekolah. Tentu saja semua itu ada campur tangan Jack, ia akan menghancurkan siapa saja yang mengusik ketenangan keluarganya.


Andai Raisa bisa melunakkan hatinya yang bagai batu, mungkin ia masih murid sekolah ini. Masalahnya, apa mungkin Raisa mau mengucapkan kata maaf? Sepertinya tidak. Karena jauh di lubuk hatinya paling dalam masih menyimpan dendam amat sangat pada gadis gendut yang tidak pernah berbuat salah padanya.


Membuang tissue dengan kasar, ia segera meninggalkan toilet menuju tempat favoritnya. Tempat biasa ia dan teman se-gengnya berkumpul.


Di sana tampak beberapa gadis sedang berbincang tentang sesuatu, tidak lama mereka tertawa riang mengusik keberadaan Raisa yang yang baru sampai.


"Lagi ngomongin apaan? Seru banget!"


Tawa mereka terhenti kala Raisa mendekat, mereka terdiam dan saling memandang satu sama lain. Raisa terheran-heran mendapati sikap aneh teman-temannya.


"Kenapa pada diem? Kasih tau gue, lo abis ngomongin apaan aja tadi!" Raisa kembali memerintah membuat para gadis menatapnya datar.


Salah satu dari mereka beranjak dari sana mengajak yang lainnya untuk pergi. "Cabut yuk!" Mereka pun hendak pergi.


Raisa yang merasa diabaikan merasa kesal. "Apa-apaan lo? Mau kemana? Lo gak denger gue ngomong?!" Raisa menghadang lalu berkacak pinggang di depan mereka.


"Lo bukan murid di sini lagi, kita-kita gak mau kena imbas dan bernasib sama kaya lo!" Celetuk salah satu dari mereka. Mata gadis itu membola tidak percaya dengan apa yang barusan salah satu temannya katakan. Mereka mau meninggalkannya begitu saja disaat dirinya terpuruk, tidak adakah rasa simpati mereka padanya? Emosi Raisa semakin naik.


"Heh! Jaga mulut lo, geng ini gue leader-nya. Mau out lo?" Ancam Raisa sambil menunjuk-nunjuk wajah salah satu temannya.


Temannya itu terkekeh sambil menepis tangan Raisa. "Lo kali yang out, kan lo bukan murid di sini lagi! Mending lo pulang, kita cuma temenan sama yang sederajat!" Ucapan yang tidak kalah pedas dengan Raisa, malah langsung menusuk ke hati. Raisa sampai tidak bisa berkata-kata, matanya tampak berkaca-kaca.


Hari ini ia merasa harga dirinya berulang kali diinjak-injak. Dikeluarkan dari sekolah begitu saja, menerima tamparan dari gadis gendut yang amat dibencinya, dan sekarang teman-teman yang ia pikir setia dengan tega menginggalkannya.

__ADS_1


"Yuk cabut, bisa kena sial lama-lama di sini!" Mereka pun pergi dengan meninggalkan kata kasar dan merendahkan.


Salahkan Raisa yang selama ini memberikan contoh tidak baik pada teman-temannya. Selalu meremehkan orang dan berkata kasar, ibarat senjata makan tuan. Kini Raisa yang merasakan senjata itu menusuk dirinya sendiri.


Dengan kekuatan terakhirnya sebelum ia menangis tersedu-sedu, ia kembali mengumpat sambil berteriak. "Ya! Pergi aja lo semua yang jauh! Gue juga gak butuh temen-temen kaya lo, Bitc*!"


🌷🌷🌷


Bel istirahat berbunyi, Mia dan Laras pergi ke Kantin untuk makan siang. Haris mengikuti kedua gadis itu dari belakang layaknya seorang bodyguard. Disepanjang jalan banyak siswa dan siswi yang menyapa Mia dengan tatapan penuh simpati.


Desas desus penyekapan yang dialami Mia menyebar dengan cepat di Sekolah. Gosip dikeluarkan Raisa pun sudah diketahui hampir oleh seluruh murid dan menjadi perbincangan hangat. Campur tangan orang tua Mia pun tidak luput dari perbincangan itu, membuat seluruh murid menjadi segan pada sosok Mia.


Tanpa disangka-sangka teman-teman se-geng Raisa mendekati Mia di Kantin dan meminta maaf. Mereka menyesali segala sikap dan perbuatan mereka yang buruk pada gadis itu.


"Kita semua mau minta maaf sama lo, karena udah bully loe selama ini." Kata salah satu mantan teman Raisa dengan lirih.


Mia tersenyum menanggapi, mungkin ini dampak positif yang bisa ia ambil dari peristiwa mengerikan kemarin. Namun, apa mungkin semua akan sama jika sang Ayah tidak ikut campur dalam hal ini?


"Makasih ya, lo emang bener-bener baik!" Ucap mereka serentak sebelum akhirnya meninggalkan kantin dengan riang.


Laras dan Haris memandang takjub pada sosok sahabatnya ini.


"Gue pikir lo berubah, ternyata lo masih Big girl yang gue kenal." Laras menatap Mia.


Dahi Mia mengerut. "Berubah? Power Ranger donk!" Kekehan terdengar dari bibir gadis itu.


"Serius! Waktu lo tampar si Kunti, gue pikir lo orang lain!" Seloroh Laras sontak membuat Haris terkejut.


"Lo tampar Raisa?" Haris berkata dengan nada tidak percaya.


Mia hanya mengedikan bahu acuh. "Gue cuma bela keluarga gue yang dia hina." Gadis itu menatap kosong ke depan. "Gak tau, mungkin gue ngerasa capek aja diem terus." Senyum getir terpatri di wajah cantik gadis itu.

__ADS_1


Rasa iba tiba-tiba menyusup ke dalam relung Laras.


Sebesar apa sakit yang udah lo rasain sampe lo jadi berubah gini?


🌷🌷🌷


Kediaman Raisa Reena Wijaya


Pintu mobil dibanting hingga menimbulkan suara cukup keras. Mata sembab sehabis menangis terlihat bersamaan hidungnya yang memerah. Raisa berjalan gontai menuju teras rumah dengan pintu terbuka.


Dari dalam rumah terlihat beberapa orang sedang memasukkan barang ke kardus. Raisa mengeryit bingung. Ia memilih mempercepat langkah dan menegur pria-pria yang lancang memasukkan barang tanpa seijinnya.


"Ada apa ini? Mas jangan sembarangan masukin barang gak pake ijin!" Hardik Raisa pada pria yang tidak dikenalnya itu.


Kegiatan pun terhenti karena kehadiran Raisa yang melayangkan protes. Tidak lama ibunya Raisa datang dengan raut wajah khawatir.


"Raisa, jangan ganggu mereka!" Ucap ibunya setelah berdiri tepat di depan Raisa.


"Ap-"


"Rumah kita di sita, ayah mu sudah jadi pengangguran. Kita harus meninggalkan rumah ini, dan menjadi gelandangan." Isak tangis lolos dari ibunya.


Raisa menggelengkan kepala tidak percaya. "Tidak mungkin." Suaranya bergetar. "Ibu pasti bohong!" Teriak Raisa.


"Kau yang harusnya lebih tau apa akibat dari tindakan mu kemarin!" Ibu Raisa berkata dengan histeris.


Tubuh gadis itu luruh ke lantai dengan kepala menunduk ke bawah. Ia tidak menyangka jika ulahnya akan berdampak sebesar ini. Apakah ia siap untuk hidup di jalanan? Apakah ia siap untuk hidup susah?


Please rate, vote sama likenya yach!


Jangan lupa commentnya agar aku lebih baik lagi, Enjoy!

__ADS_1



__ADS_2