
Sepeninggal Haris, Dengan langkah gontai Farel memilih kembali masuk ke dalam Cafe. Pesanan mereka sudah datang, Laras yang melihat Farel berjalan sendiri mengedarkan pandangan kesana kemari seperti mencari sesuatu.
“Haris mana?” tanya Laras saat Farel sudah duduk di kursinya tadi.
“Dia… udah pulang,” Farel berkata dengan pelan. Ia menumpu siku pada meja dan mengusap rambut hingga tengkuk sambil menghela nafas.
“Sorry ya, pasti gara-gara gue acara kita jadi berantakan!” Mia menundukkan kepala tanda menyesal. Matanya sembab dengan wajah kusut.
“Gak, bukan karena lo. Beneran!” Farel panik, dia tidak mau sampai membuat Mia menangis lagi.
“Iya, bukan! Pasti ini akal-akalan Haris aja biar kabur gak mau traktir kita!” sahut Laras.
Farel meringis mendengar tuduhan Laras pada Haris. Tidak adil jika Haris yang begitu perduli pada Mia di tuduh yang bukan-bukan. Sebagai teman sudah sepantasnya Farel membela. Baru mulutnya akan bersuara, Mia sudah membuat Farel bungkam.
“Gak boleh asal nuduh, Laras!” Sanggah Mia menepuk tangan Laras. “Dia orang yang bertanggung jawab kok.” Tambahnya.
Mendengar Mia yang membela Haris membuat hati Farel cemburu, apalagi seolah mereka sudah sangat akrab hingga Mia tau kepribadian Haris. (ya iyalah Bro, dia kan temenan dari SD).
“Kalo menurut lo, gue orangnya gimana?” Farel bertanya, ingin tahu pandangan Mia tentang dirinya. Dengan hati berdebar-debar ia menanti jawaban.
__ADS_1
Yang ditanya malah mengerjapkan mata, bingung kenapa Farel bertanya seperti itu? Laras gemas pada Farel yang terlihat ingin mendekati Mia lebih dari teman.
Nih orang gak tau situasi apa? Udah punya pacar, malah sibuk tebar pesona.
“Loe itu playboy, mending lo urus tuh pacar loe. Ratu sama dayang-dayangnya jalan kesini!”
Mendengar ucapan Laras sontak membuat Farel segera menengok kearah pandangannya. Farel sampai terkesima sesaat, tampak Raisa Bersama teman-temannya sedang berjalan menghampiri mereka.
“Holy crab! gimana bisa dia disini?” batin Farel.
Hancur sudah rencananya mendekati Mia… Sejak tau kebohongan Haris, Farel seolah mendapat kesempatan kedua untuk meluluhkan hati Mia.
Mood Laras langsung terjun bebas saat melihat Raisa tanpa tahu malu mencium pipi Farel di depan mereka.
Cari kamar sana! Batin Laras.
Mia memalingkan muka dengan kikuk melihat Farel yang terkesan menikmati, Farel tampak tak bergeming diperlakukan seperti itu oleh Raisa. Sebenarnya Farel belum sempat bereaksi saat diserang secara tiba-tiba.
Mulut sama tingkah beda banget, itu hak dia seh. Kenapa aku jadi kesal?
__ADS_1
“Babe, kamu lagi ngapain disini?” Raisa duduk di lengan kursi sambil merangkul pundak Farel manja. Raisa pura-pura tidak melihat Mia dan Laras yang duduk diseberangnya.
“Eh ada Mia… sama siapa di samping lo?” Raisa bertanya dengan nada mengejek.
“Laras.” Sahut Mia cepat.
Farel melepaskan rangkulan Raisa dengan wajah datar, Raisa hanya bisa tersenyum kecut.
“Lagi pada ngapain emang? Merayakan sesuatu?” Raisa bertanya sambil melihat hidangan yang tersedia. Porsinya bnyak, ia terkikik sendiri.
“Jelas aja banyak, Yang makan kan dumbo.” Gumam Raisa masih bisa terdengar oleh Laras dan Farel. Farel memejamkan matanya menahan kesal sambil mengatup bibirnya rapat.
“Apa lo abilang?” Laras bangkit dari kursinya sambil mengepal tangan.
“Gue ngomong apa?” Yang bersangkutan hanya menggedikan bahu acuh.
Please rate, vote dan likenya yach!!
Sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!
__ADS_1