
Penyesalan memang selalu datang terlambat, dan itu kini yang dirasakan Angga. Ia baru nenyadari, jika ada yang tidak beres dengan Tania. Bagaimana wanita itu begitu tenang, setelah membuatnya menuduh Mia. Bahkan saat ia ingin mencari kebenaran, Angga dapat menangkap kegugupan di mata Tania. Wanita itu sibuk bilang jika baik-baik saja, padahal ia hampir mati.
Pria itu terus berjalan menyusuri lorong rumah sakit tanpa arah. Apakah ia hanya bisa meratapi semuanya?
Dari arah berlawanan tampak seorang Dokter berjalan tergesa-gesa hingga tanpa sengaja menyenggol Angga.
"Maaf, saya buru-buru," ucap Dokter itu tanpa melihat ke arah Angga.
Angga terdiam, dan melihat Dokter itu yang kembali berjalan ke arah kamar Tania. Pria itu menyipitkan matanya, dengan pasti Angga mengikuti Dokter itu. Mengendap-endap, menyenderkan tubuh di balik pintu yang tertutup. Dari celah pintu tampak Tania dan Dokter itu berbincang serius. Angga mengambil foto mereka. Kemudian mengirimkannya pada seseorang.
Jika kau dalang semua ini? Aku tidak akan memberimu ampun, Tania.
Angga segera pergi meninggalkan tempat tersebut. Ia menelpon Bara, untuk memintanya menggantikan dirinya sementara. Angga ingin menikmati waktunya yang masih tersisa di sisi Mia. Ia baru menyadari penampilannya yang kacau. Bibirnya yang tadi mati rasa kini mulai terasa nyeri dan bengkak.
Lebih baik aku mandi dulu.
Angga mengambil baju ganti yang ditinggalkan Bara untuknya, dan berjalan menuju kamar Mia. Ia menatap malas pada bodyguard yang seakan melarangnya untuk masuk.
"Maaf Tuan, Tuan Jack bi-"
"Saya tau, besok istri saya akan dijemput. Jadi ijinkan saya hari ini untuk menemaninya, kamu pasti mengerti jika di posisi saya," ucap Angga datar namun menyindir itu tepat mengusik sisi kemanusiaan para bodyguard tersebut. Tanpa kata mereka mengijinkan Angga masuk.
Mia masih tertidur, Angga menghampiri dengan senyum tipis. Pria itu merapikan rambut Mia yang berantakan, diselipkannya anak rambut ditelinga Mia. Rasanya sesak saat besok akan berjauhan dengan pujaan hati. Ini semua salahnya, dirinya yang kurang peka. Menelan mentah-mentah apa yang dikatakan Tania.
Kau sungguh pria bodoh. rutuknya dalam hati.
Angga menghela nafas kasar. Ia pun memilih untuk memasuki kamar mandi dan membersihkan diri di sana. Mia membuka matanya, ia tau saat Angga mengusap rambutnya. Gadis itu juga merasakan kegamangan di hati, ingin memaafkan kembali dan merengkuh prianya di dalam pelukan namun bayangan saat Angga menghardik dan menuduhnya selalu terbayang membuatnya nyeri.
Aku... benar-benar butuh waktu.
Suara pintu kamar mandi mengejutkan Mia, ia segera memejamkan matanya pura-pura tertidur. Angga mengusap rambutnya yang basah, ia belum mengenakan atasan hingga tampaklah dada bidang yang biasa Mia peluk saat tertidur. Warna ungu menghiasi area bibir pria itu, ia sudah tidak memperdulikannya.
Angga menghempas tubuh pada sofa dengan bertelanjang dada. Tidak lama ia tertidur begitu saja.
Mia kembali membuka mata, ia beranjak dari pembaringan menatap ke arah Angga yang tertidur asal. Bibir pria itu bengkak, Mia sudah bisa menebak siapa pelakunya. Sungguh Mia tidak bisa menekan rasa ibanya, melihat Angga yang sangat kacau. Dengan perlahan ia menurunkan kaki dari ranjang, namun saat itu juga rasa sakit menjalar hingga membuatnya memekik.
"Aaakkhh..."
__ADS_1
Angga sontak terbangun mendengar itu, ia melompat dari sofa untuk menghampiri Mia.
"Sayang, kenapa?" tanya Angga khawatir.
Mia diam, ia tidak mungkin bilang ingin menyelimuti pria itu yang tertidur tanpa mengenakan baju.
"Aku... aku mau ke toilet!"
Angga mengeryit, bukankah Mia dipasangkan katater? Untuk apa ke toilet?
"Kamu kan dipasang katater, sayang,"
"Aku maunya di toilet!" kepalang tanggung, Mia memilih ngotot saja.
Baru kali ini Angga melihat Mia yang keras kepala, baginya malah terlihat lucu. Gadis itu biasa menjadi penurut. Duplikat Maya sekali.
Angga segera menggendong Mia, membawanya ke kamar mandi. Mia menahan malu serta degub jantungnya yang tidak tau tempat. Berdebar tidak karuan, apalagi dengan Angga yang bertelanjang dada. Mau tidak mau kulit mereka bersentuhan langsung.
Angga menurunkan Mia diatas toilet kamar mandi, gadis itu memalingkan wajahnya yang panas.
"Mau aku bantu?"
Pria itu tersenyum masam, istrinya kini tidak mau berdekatan dengan dirinya memberikan rasa nyeri bagai tertusuk duri.
"Ok, kalau sudah selesai panggil aku," Angga meninggalkan Mia. Gadis itu menunduk dan meremas baju yang dikenakannya.
"Andai kamu mau dengar penjelasan aku, dia pasti masih ada," ucap Mia lirih menghentikan langkah Angga yang sudah di ambang pintu.
"Ya, semua salah aku. Aku memang tidak termaafkan, karena itu kamu bisa menghukum aku dengan apapun."
"Aku... aku mau..." Mia mendongak menatap Angga yang berdiri menjulang tinggi. "Kita pisah," Mia tersenyum pedih.
Mata Angga melebar, bagai ditikam belati berkali-kali mendengar Mia ingin melepaskan diri darinya. Ia menekan rasa itu, mencoba bernafas semampunya.
"Maaf sayang, untuk itu... aku tidak bisa," Angga memilih segera pergi, ia tidak akan sanggup jika mendengar Mia melontarkan kata laknat itu kembali.
🌷🌷🌷
__ADS_1
Kamar itu hening seperti kuburan. Selepas Mia menangis di kamar mandi dan kemudian Angga membantunya kembali menuju ranjang 2 insan itu hanya terdiam dalam 1 ruangan. Angga dan Mia sibuk dengan fikirannya masing-masing. Kali ini Angga sudah mengenakan kemejanya.
"Aku keluar dulu, kamu mau titip sesuatu?" tawar Angga.
Gadis itu menggeleng. Angga yang duduk di sofa akhirnya menghampiri Mia, ia duduk di sisi ranjang meraih tangan gadis itu. Memainkan tangan kiri yang terdapat cincin dengan permata melingkar cantik.
"Aku, tidak bisa membayangkan bagaimana perasaanmu saat kehilangan dia. Tapi yang jelas, aku hancur saat tau dia pergi karena ulahku," suara Angga mulai serak. "Aku mencintainya meski aku belum melihatnya, aku menyesal Mia..." pria itu menitikkan air mata untuk kesekian kalinya, bahkan ia terisak dengan tubuh bergetar.
Melihat itu membuat Mia ikut menangis, mengingat kembali calon bayi mungil yang tanpa dosa harus gugur begitu saja. Ia memeluk pria yang menangis pilu di hadapannya. Mereka sama-sama sakit, sama-sama menderita.
"Aku belum memaafkanmu, akan butuh waktu yang lama... agar sakit ini hilang," ucap Mia di tengah isaknya.
Angga mengangguk, ia mengeratkan pelukan yang mungkin hanya bisa hari ini ia lakukan. "Iya, maafkan aku yang meragukanmu..." Angga mengecup puncak kepala Mia berkali-kali.
Malam itu menjadi malam penuh air mata untuk keduanya. Lebih tepatnya malam penuh penyesalan bagi Angga. Mia mengeluarkan semua beban di hatinya, ia tidak segan mengumpat Angga sambil memukul pria itu. Angga tidak melawan, semua itu memang pantas ia dapatkan.
Hingga berakhirlah dengan mereka yang tertidur saling memeluk satu sama lain dalam satu ranjang.
🌷🌷🌷
Rasa hangat yang menyelimuti membuat pria itu nyaman. Rasanya enggan untuk beranjak atau pergi. Namun ada sesuatu yang memaksanya untuk membuka mata, goyangan tubuhnya yang tidak henti akhirnya menyadarkan dirinya dari tidur.
"Sudah puas peluknya?" Wajah dengan senyum menyeringai menjadi pandangan pertama yang sanggup membuatnya meloncat dari ranjang.
Jack menatap sinis pada bodyguard yang menunduk karena takut. Sungguh tidak berguna, padahal ia melarang Angga memasuki kamar putrinya. Tapi kini malah berakhir dengan pria itu tertidur dengan memeluk Mia.
Enak sekali kau Angga!
Angga nenoleh pada Mia yang masih tertidur lalu menatap takut-takut pada Jack yang memberikan ekspresi menyeramkan.
"Waktumu habis, sudah waktunya Mia pulang bersamaku." usir Jack pada Angga.
"Mia masih tertidur, sebaiknya jangan dibangunkan,"
"Siapa yang mau membangunkan? Aku akan menunggunya bangun sendiri, tidak seperti kamu. Suami tidak peka," sarkas Jack. Ia lupa, jika dulu ia sama tidak pekanya dengan Angga hingga membuat Maya pergi dari rumah.
Please rate, vote dan likenya yach!
__ADS_1
Sertakan comment kalian agar aku kebih baik lagi, Enjoy!
Kasian tuh si Om nangis terus... maafin ya reader... uhuk.