
Rumah besar itu terlihat lengang seperti tidak berpenghuni, langit pun sudah tampak berwarna kuning ke merah-merahan. Langkah kaki terdengar mendekati halaman rumah, ada guratan di dahi ketika melihat sebuah motor besar terparkir di samping mobil pacarnya.
"Kaya kenal tuh motor." gumam Farel.
Pria itu Farel, ia ingin menyampaikan sesuatu pada Raisa pacarnya. Farel mengetuk rumah yang tidak ada sahutan sedari tadi, namun adanya mobil dan motor di halaman membuat ia berfikir pasti ada orang di dalam sana. Pikiran liar mulai menjalar di otaknya, mencoba peruntungan dengan memutar tuas pintu yang ternyata tidak terkunci.
Dengan perlahan ia memasuki rumah, mengendap-endap seperti maling dengan menengok ke kanan dan ke kiri. Tatapannya jatuh pada anak tangga menuju kamar sang pacar. Farel menaiki anak tangga tersebut dengan perasaan aneh di hatinya. Pada anak tangga yang ke-10 langkahnya terhenti, samar-samar ia mendengar suara.
Memicingkan mata dan menajamkan pendengaran, matanya melebar seketika saat tau suara apa itu. Farel kembali melangkah semakin dekat ke arah suara yang berasal dari kamar Raisa.
Kamar itu tidak tertutup rapat, terdapat celah sempit disana. Menampilkan siluet seseorang yang sedang bergerak naik turun. Penampakan yang hampir membuat jantungnya berhenti berdetak. Raisa sedang bermain dengan pria yang dikenalnya. 'Satria'
Raisa Bergerak dengan liar dan bebas, desahan erotis lolos dari bibirnya membuat Satria hanya bisa memejamkan mata menahan serangan wanita di depannya ini.
Sakit, itu yang di rasakan Farel melihat pacarnya bermain gila dengan temannya sendiri. Padahal Satria yang mengenalkannya pada Raisa. Farel hendak merangsek masuk ke dalam tapi langkahnya terhenti kala Raisa membicarakan seseorang.
"Jangan lupa ... Direkam..." Ucap Raisa masih dengan gerakannya naik turun.
"Apanya?"
"Proses pelecehannya..." Suaranya tertahan karena gelombang nikmat "gue mau Farel jijik sama dia."
Siapa? Batin Farel. Jantungnya mendadak berdetak tidak beraturan, nafasnya pun memburu.
"Siapa namanya? Gue lupa."
__ADS_1
"Mia."
Seperti disiram bensin, emosi Farel langsung meluap hampir meledak. Apa yang mereka lakukan pada Mia, gadis itu... Apa yang terjadi dengannya?
BRAK
Farel menendang pintu dengan keras. Matanya merah, ia menatap dua manusia tanpa busana dengan nyalang.
Raisa terperanjat karena kehadiran Farel, darah dari tubuhnya seolah hilang hingga menampilkan wajahnya yang pucat pasi. Tertangkap basah dalam keadaan dirinya sedang berhubungan intim dengan pria lain. Adakah moment yang paling menyeramkan lebih dari ini?
Satria tidak kalah terkejut, ia segera beranjak dari ranjang dan meraih pakaiannya. Raisa hanya bisa menarik selimut untuk menutupi tubuhnya sambil menundukkan kepala. Farel masih diam dengan tatapan cemooh. Jijik dengan pacarnya dan kecewa dengan temannya.
“Fa-Farel?” suara Raisa bergetar.
Hatinya berdenyut nyeri, pada akhirnya malah Mia yang ditanyakan Farel. Bukan dirinya mengapa bermain gila, Raisa meremas sprai menahan sesak.
"JAWAB!!!" Farel berteriak membuat Raisa berdenjit karena kaget.
Gemas karena tidak kunjung dijawab, ia pun melangkah maju menghampiri Raisa. Mencengkeram dagu dengan kasar menghadap dirinya.
"Apa yang loe lakuin ke dia? JAWAB!!!"
Bulir air mata menetes dengan deras, perlakuan kasar Farel membuatnya ketakutan. Satria hendak mendekat namun terhenti kala Farel menggertaknya.
"Loe maju selangkah lagi, gue bunuh loe!"
__ADS_1
Satria mengangkat kedua tangannya menandakan dirinya menyerah. Farel menghempas wajah Raisa kasar, ia menatap Satria dengan tajam.
"Dimana dia?" Ucap Farel menggeram
"Hotel *** no. 108." Jawab Satria.
Farel segera berbalik pergi namun sebelum itu ia mengucapkan kata yang membuat hati Raisa hancur.
"Kita putus!"
🌷🌷🌷
Sepanjang jalan Farel menghubungi nomor ponsel Mia yang tidak kunjung aktif. Perasaanya tidak enak, cemas dan takut. Entah motif apa yang membuat Raisa melakukan hal buruk pada Mia, bukan kah akhir-akhir ini mereka dekat. Bahkan Mia menghindarinya dan memilih pergi bersama Raisa. Farel fikir semua baik-baik saja.
Farel semakin frustasi ketika mendapat pesan dari Haris bahwa pihak keluarga Mia pun mencarinya dan sampai saat ini belum menemukannya. Farel memberitahukan Haris keberadaan Mia saat ini. Tidak perduli siapa yang datang lebih dulu, karena bagi Farel keselamatan Mia paling penting untuk saat ini.
Ku mohon bertahan lah, jaga dia Tuhan...!
🌷🌷🌷
Doni dan Andrew sudah melucuti pakaian Mia yang hanya menyisakan under wear saja. Doni menelan salivanya kasar melihat pemandangan menggiurkan di depannya, Andrew bahkan tidak mengeluarkan sepatah kata pun.
“Gue keluar… loe duluan, jangan lama-lama!” Andrew pergi meninggalkan Doni dan Mia di kamar.
Doni tiba-tiba merasa gugup. “O-Ok!”
__ADS_1