Cintaku Berat Di Timbangan

Cintaku Berat Di Timbangan
CBT 115


__ADS_3

Kediaman Sastroadji


30 menit kemudian Angga sampai rumahnya. Dengan langkah lebar ia memasuki setiap ruangan berharap menemukan istrinya. Helaan nafas lega ia hembuskan kala sosok yang dicarinya sedang berdiri di balkon kamar.


Matanya menangkap sebuah tas kecil tergeletak di meja balkon. Itu tas yang di bawa Mia ke kantornya. Angga kembali melihat ke arah Mia yang membelakanginya, langkahnya terhenti saat suara Mia meruntuhkan niatnya untuk mendekap gadis itu.


"Aku ingin sendiri, tolong," suara Mia pelan menyalurkan belati yang menghujam jantung Angga.


Rasanya sakit, membuat kerongkongan kering hingga sulit bernafas. "Sayang... maafkan aku, semua yang kamu lihat tidak seperti yang kau pikirkan," jelas Angga. Ia menarik nafas dalam sebelum kembali berbicara. "Dia sahabat aku, tidak ada apapun diantara kami. Percayalah," bujuknya.


Mia tampak tidak bergeming. Ia memandang lurus ke depan dengan tatapan kosong. Angga frustasi, ia mengusap rambutnya kasar. Angga sangat menakuti Mia yang hanya diam saja seperti ini. Ibarat air tenang yang memiliki kedalaman tidak berdasar.


Dering ponsel terdengar memecah keheningan yang terjadi. Tania menelpon Angga, pria itu berfikir inilah cara agar Mia percaya padanya. Meminta penjelasan dari Tania sendiri.


"Kamu bisa bertanya langsung padanya," Angga meletakkan ponsel yang berdering di meja balkon. Mia meliriknya sekilas kemudian mengambilnya.


[Halo,] sapa Mia pada Tania di seberang sana.


[Ah, ini pasti Mia! Aku Tania, sahabat suami mu.] jelas Tania. [Maafkan aku, semua yang kamu lihat itu salah paham. Aku hanya kebetulan membersihkan sisa saus di wajah Angga. Kami tidak ada hubungan apa-apa, kamu harus mempercaya itu.] bujuk Tania.


Perkataan mereka berdua sama, terlalu kompak. Mia memandang Angga sejenak sebelum kembali mendengarkan Tania yang kembali meminta maaf.


[Sebagai permintaan maaf aku, aku akan kasih tau kamu apa aja kesukaan Angga.]


Dahi Mia mengeryit. Wanita itu mengetahui apa yang disukai suaminya. Tania menangkap sesuatu dari keheningan yang tercipta.


[Jangan lupa kalo aku sahabatnya, kami dulu sering nongkrong bareng jadi tau apa aja yang dia suka dari kesehariannya. Aku harap kamu lebih memahami,] jelas Tania.


Mia mencoba menerima. [Baiklah, aku maafkan kalian karena telah membuatku salah paham.]


Tania terkekeh ia pun memberitahukan semua yang Angga sukai, salah satunya makanan jepang adalah makanan favorit pria itu.


[Angga suka udang, buatlah makanan dari bahan itu. Biasanya ia suka yang sudah berbentuk olahan,]


[Ok, aku akan membuatnya. Kapan kamu akan ke kantor lagi, Tania? Kita bisa makan siang bersama nanti.] tawar Mia.

__ADS_1


[Lusa, aku akan datang. Kebetulan ada berkas yang membutuhkan tanda tangan suamimu.]


Mia mengangguk, untuk beberapa saat hingga akhirnya pembicaraan mereka selesai. Mia menyodorkan ponsel pada suaminya, Angga memandang Mia dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Sudah percaya? Tidak marah?"


"Siapa bilang, aku hanya percaya. Tapi masih marah," jawab Mia sambil melengos.


Angga tersenyum lega, yang terpenting Mia mempercayainya. Ingin rasanya mendekap gadis itu, namun urung. Angga tidak mau Mia semakin marah padanya.


Angga memilih meninggalkan Mia, memberikan istrinya sedikit ruang agar ia bisa berfikir jernih.


Nyonya Anggun melihat Angga menuruni tangga. "Kamu tumben sudah pulang? Gimana masakan Mia? Dia membuatnya dengan penuh cinta lho," ucapnya sambil menyikut tangan Angga.


Pria itu tertegun. "Masakan?"


"Iya, Mia ke kantor kamu bawa makanan buat kamu makan siang," jelas Nyonya Anggun sedikit heran. "Kenapa? Gak enak?"


Hati pria itu mencelos. Mia datang ke kantor untuk mengantarkan makanan sedangkan dirinya telah asik makan siang dengan orang lain. Jantungnya serasa diremas. Ia segera berlari kembali ke kamar, menatap nanar Mia yang telah tertidur di ranjang. Angga menoleh ke arah tas di meja balkon. Melangkah mendekat, dibukanya tas kecil itu, terdapat kotak makanan di sana.


"Terima kasih, sayang," Angga mengecup puncak kepala istrinya sebelum dirinya ikut tertidur.


🌷🌷🌷


Sastroadji Group


Insiden bekal makan siang berakhir begitu saja, Mia memilih untuk berdamai pada egonya. Gadis itu tersenyum saat melihat kotak bekal yang kosong, makanannya sudah habis tidak bersisa, apa lagi yang dapat ia lakukan selain memaafkan suaminya. Orang yang sangat ia cintai.


Hari di mana Mia mengajak Tania makan siang bersama tiba. Mereka pun telah berada di ruangan Angga, tampak Mia menata makanan di atas meja.


"Beruntung banget ya kamu Angga, dapet istri cantik plus jago masak," ucap Tania menepuk bahu Angga.


Semua itu tidak luput dari perhatian Mia. Gadis itu memilih diam, selama tidak di luar batas ia akan memakluminya. Angga terkekeh lalu merangkul Mia di dalam dekapannya. Ia mengecup pelipis gadis itu di hadapan Tania yang tersenyum tipis.


"Iya donk, aku sangat beruntung," ujar Angga dengan senyuman.

__ADS_1


Mia ikut tersenyum simpul. Lalu mengajak mereka untuk makan bersama. "Yuk makan sekarang, nanti keburu dingin," Mia menyiapkan porsi untuk Angga.


Tania menatap mereka berdua dengan tatapan aneh. Kemudian beralih pada makanan yang berada di hadapannya. Setelah menghembuskan nafas dalam, ia menggigit makanan tersebut.


"Gimana sayang, Enak?" tanya Mia pada Angga.


"Enak banget! Kamu emang pin-"


"Uhuk, uhuk, uhuk!!!" Tania terbatuk dengan wajah memerah padam. Nafas wanita itu terlihat sesak.


Angga dan Mia terhenyak melihat hal itu, Angga menghampiri Tania yang duduk bersebrangan dengannya.


"Tania! Kamu kenapa?!" tanya Angga khawatir. Ia mengguncang tubuh Tania pelan lalu mengusap pipi wanita itu. "Tania!!!"


Mia tertegun dengan apa yang ia lihat saat ini, suaminya sangat mengkhawatirkan keadaan wanita lain di depannya. Hatinya berdenyut nyeri, sakit!


Namun kemudian Mia berusaha menepis rasa tidak nyaman itu, wajar jika Angga khawatir, Tania adalah sahabatnya. Benarkah hanya sahabat?


Panggilan yang cukup keras Angga pada Tania membuyarkan lamunan Mia untuk sesaat. Tidak menunggu lama Angga segera menggendong Tania dan membawanya ke luar ruangan. Mia masih tidak bergeming, ia menatap nanar makanan yang ada di meja.


Apa itu tadi? Bahkan dia tidak mengajakku untuk pergi bersamanya, sebenarnya... apa aku bagimu?


Menekan dadanya yang merasakan sakit tidak kasat mata, Mia tertatih untuk berdiri. Mengumpulkan kekuatan agar tubuhnya yang mendadak lemas itu tidak ambruk. Beberapa saat kemudian Bara memasuki ruangan Angga.


"Nona-"


"Aku baik-baik saja," Mia menunduk menahan agar bulir bening itu tidak jatuh. Ia mendongak dengan senyum pedih. "Aku ingin pulang," tambahnya.


"Biar saya antar," pinta Bara berusaha membujuk.


Mia menggeleng, dalam hati ia memohon agar Bara tidak memaksanya. "Tidak usah, aku pulang sendiri saja. Makasih," ucapnya sebelum ia meninggalkan kantor Angga.


Please rate, vote dan likenya yach!


Sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!!!

__ADS_1


jeng, jeng, jeng... siap2 pada ngamuk ini mah... othor kabur ah.. mo nyetrika. 🤭🤭


__ADS_2