
Apa yang kita tanam maka itu yang akan kita tuai. Begitu kata pepatah, tapi saat ini Jack merasa semua itu tidak berlaku padanya. Pada keluarganya.
Ia merasa tidak pernah mencelakakan orang lain, jahat atau benci. Tapi kenapa, anaknya... Matahari hidupnya harus mengalami hal mengerikan seperti ini. Dijebak oleh temannya sendiri, dikunci di kamar dengan pria asing. Jack sampai tidak sanggup membayangkannya jika Angga tidak menolong Mia saat itu.
Farel baru saja menceritakan hal yang terjadi tentang Raisa yang menjebak putrinya di dalam Hotel, bahkan terdapat minuman benzo di sana. Minuman yang dapat membuat tubuh lumpuh untuk sementara. Seperti obat bius.
"Tomi, selesaikan semua kekacauan ini! Aku mau orang yang tega pada anakku mendapatkan ganjaran," ucap Jack dingin.
Tomi segera pergi meninggalkan Jack yang sedang duduk di sofa sambil memangku sebelah kakinya di hadapan tiga teman anaknya.
"Laras, Haris...!" panggil Jack.
Mereka yang disebutkan segera mendongakan kepala menatap ayah dari sahabatnya. Karisma tidak pernah memudar membuat orang selalu segan jika berhadapan dengan Jack.
"Terima kasih kalian sudah menjadi teman yang baik untuk Mia." Ia beranjak dari sofa, menepuk pundak mereka berdua.
Tatapan tajam tertuju pada Farel yang sedari tadi memandang Jack. "Dan kamu, saya tidak akan berterima kasih karena kamu tau keberadaan Mia." Farel hanya bisa terdiam.
"Semua terjadi karena pacarmu."
"Mantan Om!" sanggah Farel.
Jack mendelik kesal, pemuda ini masih berani menjawab kata-katanya. "Terserah, saya tidak perduli!" Ia memasukkan tangan pada saku celana. "Sebaiknya kamu menjauh dari anak saya! Saya tidak mau hal seperti ini terjadi lagi."
Farel membeku seketika saat ultimatum Jack diberikan padanya. Ia tidak ingin jauh dari Mia, memang ini salahnya. Kecemburuan Raisa karena Farel yang selalu dekat dengan Mia menjadi pemicu semuanya.
"Om, tolong jangan minta saya menjauhi Mia," Farel mendekati Jack. "Saya minta maaf, saya juga tidak ingin hal buruk terjadi pada Mia," dengan memelas ia mengiba.
"Nyatanya ia hampir celaka karenamu, masa depannya bisa hancur jika terlambat sedikit saja!" Jack menggeram. Bocah kemarin sore berani bermain dengan keluarganya. Akan Jack hancurkan hingga berkeping-keping.
Jack mengacungkan jari telunjuknya di hadapan Farel. "Jangan mencoba menguji batas kesabaran saya anak muda, terlalu banyak pria bermasalah disekeliling Mia. Termasuk kamu!"
Erlangga ada diperingkat pertama, bahkan ia berani membawa pergi Mia tanpa seijinnya.
Angga sialan!
Jack segera meninggalkan kamar hotel itu, urusannya masih banyak dan belum selesai. Karena harus memberi pelajaran pada Raisa. Orang yang mengaku teman anaknya kemudian menusuk Mia dari belakang.
__ADS_1
🌷🌷🌷
Sepeninggal Jack, kondisi ruangan itu menjadi hening karena ke tiga orang tersebut sibuk dengan pemikiran masing-masing.
Akhirnya Haris buka suara. "Mending loe pulang Rel, ingetin pacar lo itu buat siap-siap nerima serangan jantung."
"Maksud lo?"
"Inget PT. Angkasa? Daddy Mia bikin tuh perusahaan colapse 8th lalu. Gue gak tau untuk kali ini seberat apa hukuman yang bakal Daddy nya Mia kasih ke Raisa or keluarganya," tambah Haris.
"Dan gue menantikan semua itu terjadi," ucap Laras acuh sambil menyeringai.
"Gue sama Raisa udah gak pacaran lagi!" Farel menjelaskan statusnya saat ini.
"I don't care!" ucap Haris dan Laras serentak.
Haris menatap tajam pada Farel, ia menyesali semuanya. Padahal sedari awal ia berusaha mengantisipasi hal seperti ini tidak terjadi. Raisa memang tidak bisa di percaya.
"Gue harap lo cukup denger apa yang Om Jack bilang mengenai Mia, lo harus tau posisi lo saat ini!" Haris mengancam Farel.
Ada sedikit rasa iba dalam hati Laras melihat Farel yang harus menjauhi Mia. Laras tau Farel menyukai sahabatnya itu, tapi sangat disayangkan semua kejadian buruk terjadi karena pria itu yang berusaha mendekati Mia.
Gue harap lo baik-baik aja, maafin gue Mia...!
🌷🌷🌷
Ponsel Mia terus berdering, banyak notifikasi WhatsApp disana setelah ponsel itu dihidupkan. Suaranya mengganggu Angga yang sedang duduk di sofa ruang tengah.
Angga melirik pintu kamar mandi yang tertutup. Kemudian menatap ponsel Mia yang tidak kunjung berhenti bersuara, diam-diam Angga mendekat dan meraihnya.
Ada 30 pesan dari 8 nomor. Dua diantaranya Angga tau itu dari Maya dan Jack, ada juga pesan dari Opa, Oma dan Tante Catherine. Semuanya menanyakan keberadaan Mia dan bagaimana kabarnya. Angga merasa tidak enak telah membawa Mia tanpa ijin. Tapi jika tidak begitu, Angga pasti tidak akan diijinkan untuk bertemu Mia oleh kedua orang tuanya.
Matanya tertuju pada dua nomor yang menunjukkan nama jika itu dari seorang pria. 'Farel', 'Haris'
Angga kembali melihat ke arah pintu yang masih tertutup. Kesempatan untuknya melihat pesan di ponsel Mia, tanpa menunggu lama ia melihat pesan dari Haris terlebih dahulu.
[Lo dimana? Jangan bikin gue khawatir. Lo baik-baik aja kan?]
__ADS_1
[Hubungin gue klo lo udah baca WA gue!]
Angga menggemeratakkan gerahamnya menahan kesal. Pria bernama Haris ini terlalu berlebihan. Dari pesannya ia bisa tau jika pria ini menaruh hati pada Mia. Matanya kini beralih pada pesan yang bernama Farel.
[Mia... Maafin gue! Gue bener nyesel gak bisa jagain lo.]
[Jangan jauhin gue! please... Beri gue kesempatan buat perbaiki semua.]
[Mia, lo dimana? Lo udah pulang? Om itu gak apa-apain lo kan? Bales Mia... Bales WA gue!]
Dan masih banyak pesan Haris dan Farel yang menunjukkan betapa mereka mengkhawatirkan Mia. Angga menggenggam erat ponsel itu, jika Mia tidak menegurnya mungkin ponselnya sudah remuk.
"Om, Hp aku diapain?" Tegur Mia saat keluar dari kamar mandi.
Angga terperanjat karena suara Mia hingga membuat ponselnya terjatuh cukup keras dari genggamannya.
PRAK
Mata Mia membulat sempurna, ia memekik melihat ponselnya jatuh.
"Aahhh, Hp ku!!!" Mia beranjak mengambilnya dengan raut wajah muram. Ia menghela nafas kasar. "Layarnya retak... Gak bisa nyala."
Angga masih terdiam dengan pandangan pada Mia yang mengenakan kaos miliknya. Panjang kaos itu sebatas paha, meski Mia mengenakan celana strit pendek namun masih terlihat seksi.
Bajunya tidak terlalu besar ditubuh Mia, sedikit ketat di bagian dada. Sepertinya, 1/4 lemak di tubuh Mia berada di payudara. Membentuk dua benda bulat cantik, ah... Angga mulai berfikir liar.
"Ma-maaf Mia," Angga memalingkan wajahnya mengusir fikiran kotor yang sempat bercokol di kepala, namun kemudian ia tersenyum tipis. "Kamu ngagetin seh, jadi jatuh deh!"
Bagus lah rusak, jadi dia tidak akan lihat pesan mereka!
Mia hanya bisa menganga lebar melihat sikap Angga yang seolah tidak perduli atau merasa bersalah. Matanya menyipit sambil mencebikan bibir.
"Aku gak salah denger? Ponsel aku rusak karena Om! Kok malah Om nyalahin aku?" Mia berkacak pinggang di hadapan Angga.
Seringai muncul di wajah Om tampan itu. "Nanti Om ganti, mau berapa? 10? 20?"
"Sombong, gak usah! Aku bisa beli sendiri." Gerutu Mia, ia mendaratkan bokong di sofa berseberangan dengan Angga.
__ADS_1
Angga mendekati Mia dan bersimpuh di hadapannya. Mengambil ke dua tangan Mia dan menangkupkan pada pipinya, sambil memejamkan mata ia mengecupinya.