
Kediaman Jack Adinata.
Hampir 2 bulan Mia tinggal di rumah orang tuanya. Dan setiap akhir pekan Haris mampir ke rumah Mia sekedar mengantar makanan atau membawakan novel untuk gadis itu. Haris memanfaatkan semua waktunya untuk mendekati Mia, waktu yang tepat karena saingannya yaitu Farel sedang kuliah di Singapore. Dan Om brengsek? Bukan tandingannya kali ini karena pria tersebut sudah melakukan kesalahan fatal yang bagi Haris sudah tidak termaafkan.
"Udah lama Har?" Mia menyapa pria yang duduk di sofa dengan senyuman.
Gadis itu tidak mengindahkan ucapan Haris tempo hari yang hampir membuatnya mati berdiri. Untung saat itu Mami Haris langsung membawa pria itu pulang, jika tidak Mia pasti akan lebih canggung sekarang.
"Tidak selama penantian gue selama ini," jawab Haris dengan wajah serius.
Pepet terus Har, Mia pasti luluh pada akhirnya.
Mia menatap aneh pada Haris, ia menggeleng sambil tersenyum geli. "Lo ngelawak melulu kerjaan,"
Haris mengatupkan bibirnya rapat. Sepertinya sulit meyakinkan Mia yang menganggapnya selalu bergurau.
"Ok, jangan dibahas. Gue mau ajak lo makan siang, lo mau kan?" ajak Haris.
Mia tampak berfikir, sebenarnya dia pun sudah mulai bosan hanya diam di rumah terus. Dia mengangguk, namun Mia melontarkan kata yang membuat Haris lemas.
"Boleh! Nanti gue WA Laras juga ya, gue kangen sama dia," jawab Mia penuh binar. Haris menundukkan kepala.
Gagal lagi deh!
🌷🌷🌷
Sastroadji Group
Pria tampan itu sedang termenung dengan fikirannya yang melayang entah kemana, padahal saat ini sedang diadakan rapat direksi di ruangan itu.
Bara menghela nafas lelah melihat Tuannya yang tidak fokus, bahkan seperti tidak memperdulikan apa yang disampaikan para peserta rapat.
"Kita tunda rapat hingga selesai makan siang," ucap Angga sambil melenggang pergi meninggalkan ruangan.
Bara mengikuti Angga setelah memohon maaf pada peserta rapat. Bara hanya berharap Tuannya tidak di demo dan di turunkan jabatannya secara paksa oleh para dewan direksi. Sepeninggal pria itu saat ke Palestina saja sudah membuat Bara pening, apalagi sekarang. Pria itu seolah tidak mempunyai beban dan kewajiban selain mengamati istrinya dari jauh.
__ADS_1
"Kita mau ke mana, Tuan?" tanya Bara yang sudah menjalankan mobil di tengah Ibu Kota.
Angga diam saja, dia sibuk mengutak-atik ponselnya. Matanya melebar saat membaca sebuah pesan masuk, terdapat lampiran foto di sana.
"Brengsek!"
Angga melempar ponselnya kesal, dia mengumpat dengan tangannya yang terkepal. Nafasnya memburu bersamaan dengan hatinya merasakan denyut nyeri. Foto Mia yang sedang di cafe bersama Haris. Wajah gadis itu berbinar bahagia, dia tertawa lepas. Sebenarnya mereka tidak hanya berdua, ada Laras di sana.
Apa ini balasan yang harus aku terima? Jika aku tau akan sesakit ini, tidak akan pernah aku biarkan kamu merasakannya...
Bara mengambil ponsel Angga, pria itu melihat pesan yang dikirim oleh salah satu anak buah Angga. Orang itu bertugas untuk mengamati setiap kegiatan Mia sehari-hari kemudian langsung melaporkannya pada Angga.
"Tuan mau kita ke sana?" tanya Bara.
Angga menggeleng. "Tidak usah, aku tidak mau mengganggu dia," ucapnya lirih.
"Lalu apa yang ingin Tuan lakukan?"
"Kita kembali ke kantor saja, kau saja yang makan. Aku tidak lapar," Angga memejamkan mata.
Bara memutar balik untuk kembali ke kantor. Pria itu cukup prihatin melihat keadaan Tuannya, selama Mia pergi Angga tidak lah baik-baik saja. Pria itu baru bisa tidur jika sudah video call dengan Mia, meski hanya sedikit setidaknya dapat mengikis rindu di hatinya.
🌷🌷🌷
Cafe ***
"Sorry ya Mia, kita baru bisa ketemu sekarang. Kemarin gue ngurusin Nenek gue yang abis jatoh di kamar mandi," sesal Laras.
"Santai aja kali Ras, gue gak apa-apa! Gimana keadaan Nenek lo sekarang?" sahut Mia memaklumi.
"Udah mendingan," Mia mengangguk tanda mengerti, Laras menyeruput jus strawberry sambil melirik Haris yang mengerucutkan bibir. "Kenapa lo? Mau saingan sama ikan mas koki ye?" ledeknya.
Pria itu hanya mendelik sebal tanpa menanggapi, moodnya buruk sejak Mia menghubungi Laras. Padahal niat hati ingin lunch romantis dengan Mia, tapi sepertinya Mia benar-benar tidak peka dengan kodenya.
Laras tidak mengindahkan Haris yang labil. Dia menoleh pada Mia yang asik menyantap makanannya.
__ADS_1
"Big girl, kapan lo mau kuliah? Lo kuliah di tempat gue aja, biar kita bisa bareng! Yah... yah... yah... pleaseee!" bujuk Laras dengan wajah memelas.
Mia tersedak makanannya, dia belum memikirkan sampai ke situ. "Uhuk, uhuk, uhuk,"
"Sorry, duh lo sampe keselek," Laras menepuk-nepuk punggung Mia. Haris menatap Mia khawatir, Laras menyadari itu. "Biasa aja kali lo liatnya, Mia udah ada yang punya. Awas lo modus," ancam Laras.
Haris tidak terima mendengar ucapan Laras. "Siapa yang modus? Lagipula Mia udah gak-"
"Gue pikir-pikir dulu deh Ras," Mia memotong ucapan Haris. Mia menatap Haris dengan wajah memohon untuk tidak memberitahukan apapun yang Haris ketahui tentangnya.
Laras memicingkan mata. "Ada apa? Kenapa lo potong omongan Haris? Ada yang lo sembunyiin dari gue?"
Gadis gendut itu bungkam, ia menatap takut pada Laras. "Bukan gitu, gue gak mau nambah pikiran lo! Lo kan lagi sibuk urusin Nenek lo yang lagi sakit," sanggah Mia. Namun Laras masih dengan tatapan mengintimidasi pada gadis itu.
Mia menghela nafas, sulit untuknya tidak jujur pada Laras. Dengan berat hati dia menceritakan semua yang dialaminya selama Angga dekat dengan Tania. Laras dan Haris tampak menyimak dengan baik tanpa menyela. Hening hingga Mia selesai bercerita, Laras menggenggam tangan gadis gendut itu.
"Apapun pilihan lo, gue dukung. Yang penting itu yang terbaik dan lo bahagia, gue gak ada hak buat nyuruh lo ini itu karena di sini lo yang jalanin semuanya. Tapi yang jelas, gue selalu ada buat lo," Mata Mia berkaca-kaca mendengar penuturan Laras.
"Makasih Ras..." gadis itu memeluk sahabatnya. Mia memang saat ini sangat membutuhkan dukungan bukan tekanan.
Meski hingga saat ini Mia bingung dengan apa yang harus dia lakukan, nyatanya setiap suaminya meminta untuk video call Mia tidak pernah menolak.
Haris menyipitkan mata, pria itu tidak setuju dengan pendapat Laras.
"Bagi gue, gak ada maaf buat penghianat!" ucap Haris berapi-api.
"Jangan didengerin," sahut Laras tidak perduli. Dia merangkul Mia yang sedang terkekeh. "Abis ini kita nonton, Ok!"
"Ok!" Mia tersenyum manis. "Abis itu anterin gue ke kampus lo, gue mau liat-liat dulu," tambahnya.
"Good girl," ucap Laras penuh binar.
Please rate, vote dan likenya yach!
Sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!
__ADS_1
Haris lagi tebar pesona... si Om sedang merana... gimana donk reader? gak mau kasih kesempatan neh?