
Langit mendung, rintik hujan turun meski samar. Dinginnya hawa kala itu tidak sedingin hati Yanti. Menengadah ke arah langit, membiarkan bulir air hujan membasahi wajahnya menyamarkan bulir lain yang jatuh dari pelupuk mata.
Ternyata rasanya sesakit ini, ia baru tau dan rasanya cukup membuat sembilu menyesakkan dada. Nafasnya tertahan karena nyeri yang melanda jantung seperti ditikam belati. Tubuhnya pun bergetar karena isakan yang akhirnya lolos dari bibir pucatnya. Sesaat kemudian ia merasakan hangat menyelimuti tubuh, dilihat sebuah jas armani tersampir di bahunya.
Menoleh pelan saat suara lembut menyadarkannya. "Hujan, aku tau tempat bagus untuk minum kopi," tawar Bara.
Mata basah Yanti mengerjap, segera ia mengusap air mata yang masih mengalir. Sambil tersenyum tipis Yanti mengangguk, pria itu menggandeng tangan Yanti dan menggenggamnya erat membuat Yanti terhenyak untuk sesaat dengan pipi merona. Gadis itu hanya diam sambil menundukkan kepala, mengatur jantungnya yang tiba-tiba berdebar.
Kenapa deg degan gini?
Sesampainya mereka di tempat yang Bara maksud membuat Yanti meringis. Terlihat sebuah cafe kenamaan di ibu kota, Yanti tau kocek yang harus dirogoh cukup dalam hanya untuk segelas kopi.
"Hm, Mas. Kita cari tempat lain aja ya," ucap Yanti pelan.
"Memangnya kenapa?" tanya Bara.
Yanti mendekatkan bibirnya pada telinga Bara, pria itu sama sekali tidak menyadari itu. "Di sini mahal Mas," bisik Yanti lirih.
Bara pun terhenyak, secara tiba-tiba ia langsung menoleh ke arah Yanti hingga wajah mereka berhadapan dengan jarak yang sangat dekat. Hening sesaat karena mereka yang saling memandang. Bara tertegun memindai wajah ayu di hadapannya, memberikan rasa genyar aneh yang menggelitik di hatinya.
Yanti yang menyadari lebih awal beringsut mundur menjauhi Bara, kepalanya menunduk sambil menyelipkan rambut yang menjuntai ke telinga. Gugup menguasai gadis itu, salah tingkah dengan sikapnya tadi.
"Maaf..."
Bibir Bara berkedut menahan senyum, anak Pak Tarjo ini lucu sama seperti Bapaknya.
Eh??
Bara menggelengkan kepala, mengusir pikiran aneh yang tiba-tiba datang. Pak Tarjo itu bukan lucu, tapi ngeselin.
Tanpa kata, ia pun kembali menggandeng tangan Yanti yang sempat terlepas. Membawa gadis itu ke dalam cafe meski Yanti berusaha menahan tubuhnya.
"Duduk dengan manis, Ok!"
Yanti hanya mengangguk tanda mengerti, hatinya sedang lelah dan tidak ingin berdebat. Bara memesan 2 cangkir coffe latte dan 1 slice red velvet untuk Yanti.
5 menit kemudian pesanan mereka datang, terlihat binar di wajah Yanti saat ia melahap kue pesanan Bara, pria itu tersenyum sambil menyesap kopi. Matanya tidak henti menatap Yanti hingga kue di piring Yanti tandas. Tangan kekar Bara meraih dan menggenggam tangan Yanti di atas meja, Yanti terkesiap bahkan Bara melontarkan kata yang membuat Yanti tersedak.
__ADS_1
"Mari kita menikah,"
🌷🌷🌷
Bern, Swiss
Jika ini mimpi, Mia ingin tidak bangun saat itu juga. Tidak pernah terbayangkan olehnya jika ia bisa bersama Om pujaan, berjalan bersama di tengah keramaian dengan bergandengan tangan. Sikap Angga pun benar-benar melambungkan gadis itu hingga ke langit, memperlakukannya bak putri raja.
Di tengah perjalanan Angga membawa Mia ke butik untuk mengganti baju seragamnya, ia memilihkan dress yang sangat indah dan nyaman untuk gadis itu. Membukakan pintu mobil, bahkan menjaga Mia dari serobotan orang yang berjalan terburu-buru hingga menghatam tubuh Angga.
Mungkin karena ini pertama kali Mia berpacaran, dan itu dengan pria yang selalu ia impikan selama 8 tahun. Sudah tidak bisa digambarkan lagi bagaimana perasaannya saat ini. Bahagia...
Kini mereka sedang berdiri mengantri di depan loket sebuah bioskop dengan jari yang saling terjalin, sesekali pria itu mengecup tangan Mia gemas. Senyuman manis terus tersungging di wajah Mia, memandang penuh cinta pada Angga begitu pun sebaliknya.
Canda tawa terdengar merdu mengiringi mereka yang mengantri seolah tidak merasa lelah berdiri begitu lama. Dunia serasa milik berdua.
"Makasih Om," ucap Mia tulus.
"Untuk?" tanya Angga.
"Semuanya... aku gak pernah bayangin bisa pergi nonton bareng sama Om," tambah Mia.
"Maksudnya?" tanya Mia heran.
"Kamu hanya ingin nonton bareng aja denganku, tidak ada yang lain?"
Gadis itu mengeryitkan kening hingga membuat Angga gemas. Pria itu menjentikkan jari pada kening Mia.
"Ouch, Sakit Om!" Mia mengerucutkan bibir menahan sakit.
"Kamu benar-benar harus diikat! Masa cuma mau nonton, kita harus menikah!"
"Hm, tapi-"
"Ingat, bibirmu sudah tidak perawan lagi. Jadi, aku harus bertanggung jawab!"
Mia melongo mendengar penuturan Angga tentang status bibirnya yang sudah tidak perawan. Angga seolah tidak perduli, ia malah menarik Mia memasuki studio.
__ADS_1
Gadis itu baru menyadari posisi duduk mereka berdua, Angga memilih kursi di sudut atas dekat proyektor. Padahal kursi lain masih banyak yang kosong, tentu saja ada udang di balik kursi. Ada maksud terselubung mengapa Angga memilih duduk di sana.
"Om, posisi ini kurang enak lho buat nonton," keluh Mia.
"Gak apa-apa, buat 'yang lain' ini posisi terbaik," ucap Angga dengan seringai yang terlihat samar karena gelap.
Kembali Mia dibuat terheran-heran oleh sikap aneh Omnya itu.
"Sudah ayo duduk! apa mau dipangku?" Angga menepuk pahanya.
Mia bergidik ngeri, ia memilih duduk di tempatnya dibanding mengikuti kemauan Angga.
Film pun ditayangkan, Mia dengan hikmat menonton film sedangkan Angga gelisah sendiri. Sesekali melirik Mia yanga tampak tidak bergeming, wajah seriusnya terlihat menggemaskan. Angga menyenderkan tubuhnya pada Mia, dengan jarinya menggenggam tangan sambil meremas.
"Mia..." panggil Angga pelan, berbisik di telinga gadis itu.
"Hm" sahut Mia asal, ia sedang serius menonton.
"Mia..." kali ini Angga berbisik sambil menjilat telinga Mia, hingga membuatnya memekik tertahan.
"Om... geli!" Mia menghindari jilatan Angga yang membuat tubuhnya merinding.
"Makanya lihat aku," tuntut Angga membuat Mia memutar bola mata malas.
Ke bioskop itu untuk nonton, tapi Angga sama sekali tidak menonton filmnya. Menurut dari pada masalah panjang, Mia akhirnya menoleh ke arah Angga namun kemudian mata gadis itu membulat saat bibirnya dibungkam oleh Angga dengan ciuman.
"Hhmmmpp... Om..." Mia menepuk pundak Angga, dan ciuman pun terlepas.
"Aku mau nagih janji kamu," Angga menjilat bibirnya. Membuat Mia terperangah sesaat. Pria itu kembali mencium Mia hingga kehabisan oksigen.
Acara nonton film itu berakhir dengan kecupan-kecupan manis dari Angga, pria itu menempel pada Mia bagai prangko. Melekat erat hingga sulit dipisahkan. Bibir tebal Mia sepertinya akan semakin tebal akibat ulah Om ganteng+mesum itu.
Please rate, vote dan likenya yach!
Sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, enjoy!
Waduh, Bara sama Angga lagi mepet teroosss... author mah cuma bisa gigit jari. 🙈
__ADS_1