
Le Rosey
Seminggu sudah berlalu setelah keputusan Angga untuk ke Palestina, seminggu pula ia sibuk menyiapkan semua. Angga kembali meminta tolong pada Bara untuk menggantikannya di perusahaan selama 1 tahun ke depan, saat mendengar Angga akan menjadi relawan di Palestina membuat Bara meringis.
Sebegitu sulitnya sang Tuan untuk meraih cintanya, mendapatkan persyaratan yang tidak semua orang mampu menjalaninya. Angga menyerahkan penuh semua urusan perusahaan pada tangan kanannya itu, dan Angga menyetujui permintaan Bara untuk menjadikan Yanti sebagai sekretarisnya, menggantikan Pak Tarjo.
Nyonya Anggun pun tidak serta merta menyetujui keputusan extreme Angga tersebut, terjadi perdebatan alot antara ke-duanya. Namun, bukan Angga bila ia tidak pandai bernegosiasi. Angga membujuk sang Mama cukup lama meski akhirnya Nyonya Anggun luluh juga.
Tampak Samantha yang berjalan terpogoh-pogoh menghampiri Mia yang sedang asyik membaca buku di perpustakaan. "Mia! What happened between you? Do you have a problem?" (Mia! Apa yang terjadi antara kalian? Kalian ada masalah?) pekik Samantha heboh.
"Geez Samantha, this is a library. Do not be noisy!" (Ya ampun Samantha, ini perpustakaan. Jangan berisik!) Mia mendesis sambil menaruh telunjuknya di bibir.
Samantha tidak mendengarkan, ia malah menarik Mia bersamanya tanpa perduli tas gadis itu yang tertinggal. "Hey, I left my bag!" (Hei, tasku tertinggal!)
"You can buy another 10, come with me! There is an announcement in the Hall," (Kau bisa beli lagi 10, ayo ikut aku! Ada pengumuman di Aula) ucap Samantha sambil menggandeng tangan Mia dan berjalan dengan cukup tergesa.
Menatap roommatenya dengan heran, Mia memilih mengikuti ke mana Samantha membawanya pergi. Saat sampai di Aula, ternyata tempat itu sudah cukup penuh siswa dan siswi di sana. Mia bingung, ada apa sebenarnya?
"What's this at the gathering?" (Ada apa ini pada kumpul?) Samantha menoleh dan menjentikkan jarinya ke dahi Mia. "Aakh, it hurts Sam!" (Aakh, sakit Sam!) Mia mengerucutkan bibirnya kesal.
"Didn't you hear the notification? Your boyfriend will resign, do you know that?" (Kau tidak mendengar pemberitahuan? Pacarmu akan mengundurkan diri, apa kau tau itu?)
Mata Mia membulat sempurna, secepat ini kah Om ganteng akan meninggalkannya? Ia sudah tau hari ini akan tiba, namun jauh di lubuk hatinya terdalam ia masih belum rela Angga pergi. Lebih tepatnya Angga pergi untuk memperjuangkan cinta mereka di mata Maya.
__ADS_1
Kini Angga telah berdiri dengan gagah di panggung Aula, matanya menelusuri setiap sudut ruangan hingga tatapannya terhenti pada Mia yang juga memandang Angga. Seulas senyum ia berikan untuk gadis pujaan yang malah memberikan nyeri di hati Mia.
"Good morning everyone, I'm here to say thank you and also say goodbye. I never thought before that I would jump into the world of education, thank you for all the support to fellow teachers and you students," (Selamat pagi semua, saya di sini ingin menyampaikan terima kasih dan juga salam perpisahan. Saya tidak pernah menyangka sebelumnya akan terjun ke dalam dunia pendidikan, terima kasih atas semua dukungan pada rekan sesama guru dan kalian para siswa) ucap Angga sambil menatap Mia.
"My main goal in coming to Le Rosey was to pursue someone very meaningful, the girl who has waited and loved me for 8 years. And it was because of my stupidity that her left," (Tujuan utama saya datang ke Le Rosey adalah untuk mengejar seseorang yang sangat berarti, gadis yang telah menunggu dan mencintai saya selama 8 tahun. Dan karena kebodohan saya lah ia pergi.)
Samantha yang mendengar itu menganga lebar, ia menoleh pada Mia. "Is that true? You waited for him for 8 years? How old were you then?" (Benarkah itu? Kau menunggunya selama 8 th? Berapa umur mu saat itu?)
"9 years," jawab Mia lirih.
"Are you kidding!" (Kau bercanda!) Samantha tidak percaya. Mia hanya tersenyum simpul membuat Samantha melebarkan matanya. "Cool!" (Keren!)
Mia kembali melihat ke arah panggung namun, saat itu juga ia terhenyak ketika Angga berjalan menghampirinya. Siswa siswi lain riuh saling berbisik, banyak pula yang memekik menahan adegan yang akan terjadi selanjutnya. Bagai melihat drama romantis secara live, mereka merekam semuanya lewat ponsel masing-masing.
Angga berdiri tepat di hadapan Mia, Samantha hanya bisa senyum-senyum sendiri. Ia sampai menggigit kukunya karena gemas. Mia menoleh pada Samantha yang mendorong dirinya untuk lebih dekat pada Angga.
"Om..." suara Mia tertahan, jantungnya berdegup kencang.
"I have made so many wounds, a lot of your time has been wasted because of me. However, you still forgive me and wait." (Begitu banyak luka sudah aku torehkan, banyak waktumu yang terbuang karenaku. Namun, kamu masih memaafkanku dan menunggu) Angga meraih tangan Mia, menyematkan cincin itu di jari manisnya.
Air mata membasahi pipi gadis itu, ia sungguh terharu.
"I tie you with this ring, remember ... I will pick you up and make you completely mine," (Aku mengikatmu dengan cincin ini, ingatlah... aku akan menjemputmu dan menjadikanmu milikku seutuhnya) kecupan lembut Angga berikan pada tangan Mia diiringi riuh tepukan tangan seluruh penghuni Le Rosey.
__ADS_1
Samantha sampai melonjak, memeluk siswi disampingnya karena ikut terbawa suasana. "You see that? Mia proposed!" (Kau lihat itu? Mia dilamar!) Siswi yang dipeluk Samantha hanya mengangguk kikuk.
Mia menghambur ke pelukan Angga, ia tidak pernah membayangkan Angga akan mengikatnya di depan orang banyak. Hatinya membengkak karena bahagia, kini ia tenang untuk melepas Angga. Ia akan menunggu Angga hingga saat itu tiba.
🌷🌷🌷
"Berikan aku senyumanmu, Mia." pinta Angga. Mereka kini sedang berada di parkiran.
Lengkungan indah itu terpatri di wajah Mia, meski disertai dengan mata yang basah. Angga mendekatkan wajah mereka, ia tempelkan kening nya masing-masing. Sambil mengusap jejak air mata, ia berbisik. "Jangan ada air mata lagi, aku pergi untuk kembali. Do'akan aku saat di sana,"
Mia mengangguk, ia menikmati terpaan nafas Angga pada wajahnya. Angga mengecup kening Mia cukup lama, sampai tiba saat ia melepasnya. Mereka saling bergandengan tangan dan dengan sangat berat jalinan itu terurai. Angga melambaikan tangan sambil melangkah kearah mobil, saat pintu mobil terbuka seruan Mia terdengar.
"Aku mencintaimu, Om! Selalu,"
Angga menoleh dengan raut wajah bahagia, ia harus segera pergi. Jika tidak, mungkin ia tidak akan pernah bisa meninggalkan Mia. Mobil itu pun akhirnya pergi, membawa Angga dengan harapan dan cintanya untuk kembali.
Mia masih setia berdiri di parkiran mobil sambil menggenggam jari yang terdapat cincin dari Angga, ia menciumnya sambil bergumam. "Aku akan selalu menunggumu, Om."
Gadis itu akhirnya berjalan kembali ke aula, ia tidak akan menangis atau meratapi kepergian Angga, ia akan belajar lebih giat sebagai apresiasinya jika ia pun ikut berjuang disini. Ia ingin membuat Angga serta Orang tuanya bangga, ia juga tidak mempermasalahkan syarat yang di berikan sang Mommy. Karena ia tau semua itu untuk kebaikannya.
Please rate, vote serta likenya yach!
Sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!
__ADS_1
Detik-detik menuju END kk semuaaa... huhuhu