Cintaku Berat Di Timbangan

Cintaku Berat Di Timbangan
CBT 116


__ADS_3

Rumah Sakit ***


Tangannya menopang dahi, ia sangat takut jika hal buruk terjadi pada wanita itu. Tania memiliki alergi akut terhadap udang, dan baru saja ia menerima laporan hasil pemeriksaan Tania yang menunjukkan jika ia keracunan makanan. Angga sendiri lupa jika Tania alergi udang. Alerginya dapat membahayakan nyawanya, itulah yang membuat Angga sangat khawatir.


"Tuan Erlangga, silahkan masuk. Pasien sudah boleh dijenguk," jelas Dokter yang baru saja keluar dari kamar rawat Tania.


Angga mengangguk. "Terima kasih, Dok!"


"Sama-sama, saya permisi dulu," Dokter itu pamit.


Angga memasuki kamar, Tania masih terbaring namun sudah terlihat lebih baik.


"Makasih ya Angga! Aku gak tau gimana jadinya kalo gak ada kamu," ucap wanita itu pelan.


Pria itu tersenyum simpul. "Udah kewajiban aku nolong kamu," sahutnya.


Tania menyambut senyuman itu, namun kemudian mimik wajahnya berubah.


"Sepertinya, Mia belum benar-benar maafin aku. Aku merasa wajar kalo ia masih marah, cuma gak nyangka aja sampe tega kasih makanan yang bikin aku hampir gak bisa bangun lagi," raut wajahnya sedih.


Angga mengeryitkan kening. "Maksud kamu?"


Tania menghela nafas pelan lalu kembali berkata. "Tempo hari aku bilang, aku alergi udang. Karena dia ajak aku makan bareng makanya aku kasih tau makanan yang gak bisa aku makan," ucap Tania panjang lebar.


"Mia? Seperti itu?" sanggah Angga.


"Iya, aku gak nyalahin dia kok. Beneran! Aku memaklumi, gak apa-apa Angga." Wanita itu mengusap punggung tangan Angga menenangkan.


Gelengan samar masih terlihat. Angga masih tidak percaya jika Mia sampai tega melakukan hal semacam itu. Dan Tania tidak mungkin berbohong hingga membahayakan nyawanya sendiri. Angga menatap Tania bingung.


"Mia mana? Dia gak ikut kamu?" tanya Tania menoleh mencari keberadaan Mia.


Angga terkesiap, ia baru sadar jika meninggalkan Mia begitu saja di kantor. Tidak apa-apa, ini salahnya karena meracuni orang dengan makanan. Angga seolah memberikan pelajaran pada istrinya tanpa tau hal sebenarnya yang akan membuat ia menyesal seumur hidup.


🌷🌷🌷


Kediaman Sastroadji


Angga tidak kunjung pulang, padahal jam sudah menunjukkan pukul tengah malam. Mia tersenyum miris, suaminya sedang bersama wanita lain dengan dalih sahabat. Apakah itu wajar?


Matanya sembab karena menangisi pria yang hingga kini tidak menunjukkan batang hidungnya. Mengusap kasar jejak airmata di pipinya, ia beranjak dari pembaringan menuju dapur. Ia butuh cokelat panas untuk melupakan Angga sejenak. Hatinya terlalu lelah, sepertinya ia akan tua lebih awal karena tekanan batin.

__ADS_1


Rumah terlihat lengang karena mertuanya sedang pergi ke Batam. Ada beberapa bisnis yang Nyonya Anggun kelola sendiri untuk melepas penat. Wanita paruh baya itu meninggalkan Mia dengan berat hati seolah mendapatkan firasat akan terjadi sesuatu. Namun bukan Mia jika ia tidak dapat meyakinkan sang mertua bahwa ia baik-baik saja.


Pintu utama terbuka, Angga memasuki rumah dengan kemeja yang sudah berantakan. Langkahnya terhenti saat melihat Mia yang sedang duduk menikmati coklat panas.


"Enak? Bagaimana rasanya minum coklat saat orang lain hampir meregang nyawa?" sarkas Angga.


Mia menoleh dengan alis yang saling berpaut. Apa tidak salah dengar tadi? Suara suaminya tidak pernah sedingin itu, bahkan ada sindiran di sana. Benarkah orang yang di hadapannya adalah orang yang sama yang selama ini dikenalnya?


"Apa?"


"Aku tanya, kamu bikin masakan itu memakai udang?"


"Iya, kata Tania-"


"Dia alergi udang, dan dia hampir mati tadi karena masakanmu,"


Mia terhenyak dengan matanya yang melebar, apa maksudnya? Tania tidak bilang kalau alergi udang, bahkan ia malah menyarankan untuk membuat makanan dari bahan tersebut. Gadis itu menggeleng.


"Aku gak tau kalo dia alergi udang! Kalau pun tau, aku gak mungkin bikin makanan yang membahayakan dia," sanggah Mia. Ia mulai berdiri dari duduknya.


"Tania bilang sama kamu, Mia! Dia bilang sama kamu waktu kamu sama dia telponan tempo hari. Apa alasan kamu lakuin ini? Apa salah dia sama kamu?" Angga mulai meninggikan suara.


Sontak itu membuat Mia terkejut, Tania sama sekali tidak bilang. Ada apa ini? Menatap nanar suaminya, bulir itu pun akhirnya menetes kembali. Angga menyadari mata Mia yang sembab, hanya saja ia terlalu kesal dengan sikap kekanakan Mia. Ia menepis rasa ibanya pada Mia.


"Alasan cemburu hingga kamu tega meracuni orang lain? Tania hampir mati, Mia!" hardik Angga.


"Ya Tuhan," Mia terkekeh, geli akan diri sendiri. Mia tidak percaya akan berada di posisi menyedihkan ini. Difitnah. "Dengar, aku tidak pernah tau dia alergi. Dia bilang jika kamu suka olahan udang, ia menyuruhku membuatnya," jelas Mia dengan nada tegas. Rasa tegang mulai menguasainya.


"Lalu kamu pikir dia sengaja mencelakai diri sendiri?" ucap Angga tidak percaya.


Perut Mia mendadak sakit, ia mengeryitkan kening saat merasakan itu. Mia berusaha menahannya di hadapan Angga. Tidak mau terlihat semakin menyedihkan, ia memilih untuk pergi meninggalkan suaminya.


"Sebenarnya, seberapa berarti aku ini untukmu? Hingga kamu tidak bisa membedakan mana yang benar dan salah?" Mia membalikkan tubuh hendak pergi.


Perkataan Mia membuat Angga bergeming, ada rasa sakit yang menikamnya saat Mia melontarkan kata itu. Benarkah ia tidak bisa membedakan yang benar dan salah? Apakah ia sudah salah menuduh Mia atas perkataan Tania? Pekikan suara Mia membuyarkan lamunannya.


"Aakkkhh..." rintih Mia sambil memegangin perutnya.


"Mia!!!" Angga menghampiri Mia yang terduduk di lantai. Emosinya yang memuncak tadi langsung raib digantikan rasa khawatir amat sangat. Angga merangkul Mia namun gadis itu menghindar.


"Panggilkan Bik Surti," suaranya pelan menahan sakit, perutnya melilit tidak karuan.

__ADS_1


"Biar aku, sayang. Kita ke rumah sakit!" Angga kembali merangkul bahu Mia, namun lagi-lagi gadis itu menepisnya.


"Tidak, aku mau dengan Bik Surti!!!" ucap Mia sedikit keras. Angga terperangah, Mia tidak mau ia membantunya. Apa Mia marah padanya?


Bik Surti yang kebetulan ke dapur langsung terpogoh-pogoh melihat Nonanya terduduk di lantai. Matanya membelalak kala cairan merah merembes di balik dress Mia.


"Ya ampun, Nona Mia!!! Ada darah!!!"


Ucapan Bik Surti membuat Angga semakin kalut, Mia kesakitan karenanya, hingga mengeluarkan darah. Apa yang telah ia lakukan?


Tidak memperdulikan Mia yang terus menolak, Angga langsung menggendongnya. Membawa gadis itu ke mobil. Darah Mia membasahi tangan Angga, jantung pria itu bergemuruh. Nafasnya tercekat karena rasa takut yang membekap paru-paru.


"KITA KE RUMAH SAKIT, CEPAT!!! teriak Angga pada supirnya.


Mia yang sejak tadi berontak kini terdiam dengan mata terpejam. Angga menepuk-nepuk pipi Mia agar gadis itu bangun, pria itu seperti kehilangan arah. Tanpa terasa ia pun menitikkan air mata.


"Maaf... maafkan aku sayang... Mia..." ia memeluk Mia dengan tubuh bergetar. Menciumi kening gadis itu berulang kali.


"Maaf..."


🌷🌷🌷


Rumah Sakit ***


Angga berlari dengan Mia di gendongannya menuju lobby.


"TOLONG!!! TOLONG ISTRI SAYA!!! pria itu berteriak seolah berada di hutan rimba. Ia sudah tidak perduli dengan orang-orang yang menatapnya heran.


Beberapa suster segera menghampiri dan membawa Mia ke ruang UGD. Angga yang bersikeras ingin ikut masuk di tahan oleh suster.


"Baiknya Bapak tunggu di luar, biar kami yang menangani," pinta salah satu suster yang sudah cukup berumur.


"Tapi saya suaminya, saya ingin bersamanya," sergah Angga masih bersikukuh.


"Mohon kerja samanya ya, agar kami bisa segera menangani istri Bapak!" Suster itu gemas dengan sikap Angga yang keras kepala.


Pria itu pun pasrah dan mengikuti permintaan sang suster agar menunggu di luar.


Please rate, vote dan likenya yach!!!


Sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!!!!

__ADS_1


waduh... abis kamu Om. Aku gak ikut2an ah...


__ADS_2