Cintaku Berat Di Timbangan

Cintaku Berat Di Timbangan
CBT 46


__ADS_3

Restoran ***


Alunan biola terdengar sangat merdu, menemani pasangan insan manusia yang sedang menikmati makan malam. Hani tampil dengan sangat cantik, ia mengenakan gaun merah marun tanpa lengan. Memperlihatkan bahu putih nan mulus, tidak lupa leher jenjangnya yang membuat siapa saja ingin membelai.


"Kamu terlihat beda." Ucap Angga sambil menyesap wine dengan pelan, menatap Hani yang sedang mengunyah makanan.


Kunyahan Hani terhenti. Ia menelan kemudian meminum air putih sebelum menjawab. "Mungkin karena sekarang aku sudah lega, tidak terbebani dengan perasaan berat sebelah." Sarkas Hani.


Angga menghela nafas pelan, kemudian meletakkan gelas yang sedari tadi dipegangnya. "Mau dengar kisah ku?"


Pandangan Hani kini tepat pada wajah Angga, pria yang selama ini dicintainya. Bahkan sampai saat ini.


"Kisah ku 8 tahun lalu." Angga berkata dengan nada serius.


"About her?" Jawab Hani malas.


Jari tangan Angga saling terjalin. "Lebih tepatnya tentang Maya,"

__ADS_1


Hani memicingkan mata. "Maya Adinata?" Ucapnya ragu.


"Ya, aku mencintainya. Tapi kau pasti tau jika dia sudah bersuami."


Mata Hani membulat dengan bibir setengah terbuka, dahi-nya sampai berkerut merespon hal yang baru saja di dengar.


"A-are you kidding me?" Hani menggelengkan kepala "Karena tidak dapat ibunya kini kamu menargetkan anaknya?"


Angga terkesiap dengan perkataan Hani. "Tidak seperti itu Hani! Aku dekat dengan Mia, berharap dia kelak menjadi anak sambung ku. Dan itu sebelum, sebelum aku memilih menyerah pada Maya." Angga mengusap kasar rambutnya.


Ia tidak memungkiri akan kenyamanannya ketika bersama Mia kecil. Dan saat tau bahwa Mia menunggunya selama ini, bahkan mencintainya. Membuat hatinya membengkak. Rasa dulu yang pernah hilang timbul kembali. Melihat Mia yang sudah dewasa mengutarakan perasaanya membuat jantungnya berdebar tidak karuan.


Angga merasakan rindu pada gadis itu setelah memeluknya. Bahkan rasa bibirnya masih membekas, manis dan memabukkan. Itu membuat Angga gila.


Buku-buku jari Hani memutih, ia mengepalkan tangan karena kesal. Semudah itu Angga memutus pertunangan hanya karena janjinya pada bocah kecil yang kini sudah besar. Sungguh candaan diluar nalarnya.


"Kamu memutuskan pertunangan kita hanya untuk omong kosong ini?" Hani berdecih meremehkan. "Tidakkah ini hanya obsesi mu pada Maya yang kamu lihat pada diri Mia?"

__ADS_1


"Aku tidak seperti itu, berhenti berfikir seperti itu!" Angga berteriak. Beruntung ia memesan ruang VIP yang hanya dia dan Hani disana. Tidak termasuk pelayan dan pemain biola, karena mereka harus tetap disana untuk melayani.


Hardikan Angga membuat Hani terperanjat. Responnya terlalu berlebihan, apa ini wajah asli Angga selama ini? Tempramen dan meledak-ledak. Angga menyadari sikapnya yang keterlaluan.


"Listen! I'm so sorry Hani." Ia beranjak dari kursi menghampiri Hani. "Sungguh, aku minta maaf atas ke egoisanku. Tapi kau tau, bahwa cinta tidak bisa dipaksakan." Angga mengusap bahu Hani lembut, membawanya kedalam pelukan.


"Berbahagialah, meski bukan dengan ku!" Hani terisak, ia membenamkan kepalanya pada dada Angga. Luruh sudah, memang hanya sampai disini. Hani sudah tidak bisa berharap lagi. Cinta Angga sudah menentukan dimana ia akan berlabuh.


🌷🌷🌷


SMA ***


Selama 3 hari ini Raisa terus mendekati Mia, sejak terakhir bertemu di Cafe. Malamnya Raisa menghubungi Mia lewat chating, Raisa bercerita apa saja. Bahkan menceritakan kisah awal pertemuan dengan Farel, seberapa sayangnya ia pada pria itu. Mia hanya mendengarkan dengan baik, meski terkadang ada rasa tidak nyaman saat mendengar seberapa romantisnya Farel pada Raisa.


Please rate, vote dan likenya yach!!


Sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!

__ADS_1


__ADS_2