Cintaku Berat Di Timbangan

Cintaku Berat Di Timbangan
CBT 85


__ADS_3

Di sebuah kamar terlihat seorang pria masih bergelung dengan selimut membungkus tubuhnya. Sejak tadi malam, pria itu tidak dapat memejamkan matanya karena suhu tubuh yang mendadak dingin di bagian telapak kaki, namun terasa panas saat memegang leher dan keningnya. (Bilang adja meriang Om!)


Pria itu jarang sakit, tubuhnya selalu bugar karena ia rajin berolah raga dan mengkonsumsi makanan sehat serta istirahat yang cukup. Tapi seminggu ini semua serasa serba terbalik, makannya tidak teratur dan sering begadang. Semua ini karena seseorang yang membuatnya gundah gulana. Siapa lagi kalau bukan karena gadis gendutnya, Mia.


Angga berusaha membuka matanya yang berat, kerongkongannya kering karena haus. Ia beranjak dari ranjang dengan susah payah menahan nyeri ngilu yang menjalar di setiap sendi tulang.


Baru saja ingin menenggak air putih, telepon kamarnya berdering memekakkan telinga. Ini adalah ke-5 kalinya telepon itu berdering. Angga sudah tau siapa yang menghubunginya, dengan malas ia mengangkatnya.


[Yes, Erlangga here!]


[Good Morning Mr. Erlangga, I am Scarlet of Human Resources. I would like to ask your attendance today.] (Selamat Pagi Pak Erlangga, saya Scarlet Bagian Kepegawaian. Saya ingin menanyakan kehadiran anda hari ini)


[Sorry I forgot to tell you if I couldn't enter because I was sick.] (Maaf saya lupa memberitahukan jika saya tidak bisa masuk dikarenakan sedang sakit)


[Ah, Mr. Erlangga is sick? What hurt sir? Do you want to call the doctor?] (Ah, Pak Erlangga sakit? Sakit apa Pak? Mau di panggilkan dokter?)


[No need, I just need a break! thanks.] (Tidak Perlu, saya hanya butuh istirahat! Terima kasih)


Angga mematikan panggilan secara sepihak, kepalanya semakin pusing mendengar suara wanita yang histeris tidak jelas menanyakan ini itu padanya. Pria itu merutuki keadaannya saat ini.


"Damn it! Aku seorang Sastroadji harus meminta ijin tidak masuk kelas, benar-benar luar biasa!" Angga menggerutu sambil meletakkan telepon dengan kasar.


Kembali berjalan ke pantry untuk meminum air yang tadi sempat tertunda, rasa haus sudah membuatnya tidak nyaman. Sepertinya ia bisa menghabiskan 1 liter air minum dalam sekali teguk. Lagi, acara minum airnya terganggu, ada saja yang mengganggu.


Kali ini suara ketukan pintu kamar terdengar, Angga memejamkan mata berusaha menahan emosi yang entah mengapa selalu meledak akhir-akhir ini. Jika bukan hal yang penting, ia akan melempar orang itu dari lantai 3 kamarnya.


Pria itu berjalan dengan langkah lebar menuju pintu kamar, membuka kasar dan bersiap menyemprot orang yang mengganggu acara minum untuk ke-2 kalinya.


"What else?" (Ada apa lagi?) Hardik Angga, tanpa melihat siapa yang berdiri di depan kamarnya.


Hening, membuat manik hitam itu akhirnya melirik orang yang mengetuk kamarnya. Amarah yang menggunung tiba-tiba menyusut berubah menjadi debaran hangat di hatinya. Siapa sangka orang yang membuatnya sakit secara tidak langsung ada di hadapannya saat ini. Ya, Angga menyalahkan gadis pujaan yang berhasil membuatnya tidak karuan.


Sedangkan gadis itu terhenyak sesaat karena nada tinggi Angga, merasa kehadirannya tidak diinginkan. Membawa kotak bekal yang semula ada di depan menjadi ke belakang tubuhnya, menahan malu karena berani datang menghampiri orang yang sudah ia tolak tempo hari.


"Maaf mengganggu, permisi." Mia mundur selangkah hendak pergi.


Angga melihat pergerakan Mia segera menyadari kesalahannya karena menghardik gadis itu. "Jangan pergi! Maaf, tadi ku kira bukan kamu yang datang."


Gadis itu terdiam, masih dengan posisinya. Pria itu menangkap sesuatu yang di sembunyikan di balik tubuh Mia. "Kau membawakan sesuatu untukku?" Pancing Angga.


Mia terkesiap ketika ketahuan membawa kotak bekal, dengan gugup ia menjawab. "Ti-tidak, ini untukku sendiri!"


Angga menarik tangan yang terdapat kotak bekal. "Kebetulan aku lapar," Pria itu tersenyum senang, rasa sakitnya seolah hilang karena kehadiran Mia. Mia tidak menjawab, ia malah membulatkan mata bukan karena tarikan Angga. Tapi karena suhu tubuh pria itu.

__ADS_1


"Om! Badan mu panas," Mia menempelkan punggung tangannya pada kening Angga. Nada khawatir terdengar merdu di telinga Angga, bolehkah ia merasa bersyukur dengan sakitnya ini?


"Ya, aku sakit! Sepertinya sangat parah," Angga berkata dengan memelas, memancing iba Mia yang semakin terlihat. Ia menyeringai, terlintas berbagai rencana licik di kepalanya.


Mia melihat wajah Om gantengnya yang pucat, tapi sama sekali tidak mengurangi kadar ketampanan pria itu. Rasa khawatir dan bersalahnya bercampur menjadi satu.


"Apa Om sakit karena aku?" Gadis itu berkata lirih.


Angga melihat celah baik di sini, dengan lantang ia menjawab. "Ya, aku sakit karena memikirkan mu sepanjang malam,"


"Maafkan aku," Mia menunduk menyesal.


"Aku akan memaafkan mu, tapi..."


"Tapi apa?"


"Rawat aku sampai sembuh!"


Tanpa perlawanan seperti biasa, Mia menjawab dengan lembut. "Baiklah,"


🌷🌷🌷


Suasana hati Angga sangat baik hari ini, maniknya tidak henti menatap Mia yang sedang sibuk menakar suapan bubur pada dirinya.


Pria itu melahap setiap suapan dari Mia dengan senyuman tipis, padahal dalam hati ia ingin melompat kegirangan.


Ya Tuhan, rasanya aku ingin sakit setiap hari jika begini.


Pikiran konyol memenuhi kepala Angga, entah bagaimana ekpresi Mia jika tau.


"Benarkah bubur ini bukan untukku?"


"Kenapa memangnya?"


"Karena aku merasakan cinta di setiap suapan,"


Perkataan Angga membuat wajah gadis gendut merah merona, sejak kapan Om ganteng ini pandai merayu?


"Hm, awalnya memang buat Om. Tapi karena tadi Om seperti tidak senang dengan kedatangan ku, jadi ini bubur untukku,"


"Siapa bilang aku tidak senang kamu datang, Mia?" Angga memicingkan matanya.


"Ok, selesai bahas itu!" Mia hendak merapikan kotak bekal, namun noda bubur di bibir Angga menarik perhatiannya. Jarinya terulur mengarah ke wajah Angga. "Makan aja masih belepotan,"

__ADS_1


Tangan itu menggantung karena Angga menahannya. "Bersihkan dengan bibir mu!"


Mia membelalakkan matanya, apa karena suhu tubuh Om terlalu panas hingga meminta hal aneh?


"Apa?" Mia mencoba meyakinkan kembali.


"Bersihkan dengan bibir mu!" Angga tidak bergeming setelah mengucapkan itu, matanya menatap Mia dalam, membuat gadis itu salah tingkah.


Tidak ingin berakhir panjang dengan orang yang sedang sakit, Mia mencoba memenuhi permintaan pria itu. Mia mendekatkan wajah secara perlahan, Angga yang gemas menarik tengkuk Mia saat nafas gadis itu menerpa wajahnya. Bukan membersihkan sisa bubur akhirnya yang terjadi, tapi pangutan antar bibir hingga menimbulkan suara decapan memenuhi ruangan.


Angga merengkuh gadis itu dalam pelukannya, hingga terjatuh bersama dalam ranjang. Membalik Mia di bawah kungkungannya tanpa melepas pautan bibir yang merekat. Detak jantung Mia seperti mau meledak, Omnya ini sangat lihai menjeratnya. Seperti lalat yang terjebak dalam sangkar laba-laba yang siap menyantapnya dengan rakus.


Angga membelai wajah Mia yang terpejam setelah ciuman panas mereka, ciuman itu panas karena suhu tubuh Angga tersalurkan lewat lidahnya. Mia membuka mata membalas tatapan Angga yang menghipnotis.


"Jadilah milikku! Mia,"


🌷🌷🌷


Jakarta


Akhirnya Bara dan Pak Tarjo menginjakkan kakinya ke tanah air, meski sempat terjadi drama saat turun dari pasawat karena Pria Tua itu meminta no. ponsel salah satu pilot. Alasan klasik, ingin mengenalkannya pada Yanti anaknya. Bara yang mendengar hal itu menahan geram, bagaimana bisa pria itu menawarkan anaknya ke setiap lelaki?


"Jadi, bapak menambah calon menantu baru?" Nadanya dingin.


"Saya cuma ikhtiar, Nak Bara sendiri tidak mau kan jadi menantu saya?" Pak Tarjo berkata dengan sedih.


"Siapa bilang saya tidak mau?" Jawab Bara.


Pria tua itu tersenyum senang, oh benar-benar pandai sekali orang ini bersilat lidah. Menjebak Bara dengan permainan kata. Bara menggigit lidah karena terpancing, bisa kah ia menarik perkataannya?


"Kalau Nak Bara sudah bilang begitu, saya jadi tenang. Yanti akan Bapak jaga baik-baik untuk Nak Bara sampai lamaran nanti."


Sudah tidak bisa berkata-kata lagi, Bara memilih diam dan melangkahkan kaki meninggalkan pria tua itu.


Please rate, vote dan likenya yach!


Sertakan comment kalian agar aku semakin baik lagi, Enjoy!


Maafkan aku yang sering telat setoran part, kebetulan lagi main ke rumah ipar. Sedikit penggalan cerita Bara dan Pak Tarjo biar gak tegang-tegang amat. Hehehehe...


Makasih buat reader yang masih setia stay di lapak aku, ikuti terus ya kisah Mia dan Om ganteng... see you!


__ADS_1


__ADS_2