Cintaku Berat Di Timbangan

Cintaku Berat Di Timbangan
CBT 06


__ADS_3

London, Inggris.


Seorang pria dewasa sedang berdiri gagah di balkon apartemennya. Tangannya memegang gelas berisi wine, ia menikmati setiap tegukan yang membasahi kerongkongannya sambil menatap pemandangan malam di Kota London.


Tidak lama ada tangan halus yang menelusup mendekap pinggang pria itu dari belakang.


"Sayang..."


Pria itu menoleh, tersenyum tipis memandang siapa yang memeluknya. "Kau belum tidur?"


"Belum, melihatmu tidak ada disampingku membuatku terjaga." Sang wanita bergelayut manja sambil memeluk.


Pria itu melepas pelukan dan menuntun wanita itu memasuki kamar apartemen. Ia mendudukkannya di sisi ranjang. "Tidurlah, sebentar lagi aku menyusul."


Wanita itu tersenyum simpul. "Baiklah, jangan lama-lama ya Angga." Ia segera berbaring, Angga menyelimuti dan mencium keningnya.


Angga beranjak dari ranjang meninggalkan kamar, pergi menuju ruang kerjanya. Getaran ponsel terdengar, sejenak ia terdiam dan mengangkat telepon.


"Ada apa Ma?"


"Angga, kamu tidak lupa kan pernikahan kalian tinggal beberapa bulan lagi."

__ADS_1


Angga mendesah pelan. "Ya, Ma aku tidak lupa. Ada lagi?"


"Kapan kamu ke Jakarta? Kamu jangan santai gini donk, udah berapa kali kamu menunda pernikahan. Kasihan Hani!"


"Lusa Angga pulang." Setelah itu telepon pun dimatikan.


Angga melempar ponselnya ke sofa, kepalanya pening. Pusing karena rongrongan Ibunya yang selalu mendesak dirinya untuk menikah. Usianya memang sudah tidak muda, 35 tahun adalah usia matang seorang pria melepas masa lajang.


Tapi hingga kini Angga seolah hilang arah, seperti tidak mempunyai tujuan hidup. Semua hambar, meski mencoba menjalani hubungan dengan Hani kekasihnya selama 3 tahun ia tidak merasakan apapun. Tidak ada debaran, tidak ada rindu, tidak ada cinta...


Pernahkah Angga merasakan yang namanya cinta? Entahlah, yang ia tau perasaan itu hanya ia rasakan ketika bersama Maya. Namun kenyataan bahwa Maya milik orang lain membuatnya patah hati, Bunga cinta yang ingin tumbuh justru mati sebelum berkembang.


Apa memang nasibku menghabiskan hidup dengan orang yang tidak aku cintai?


🌷🌷🌷


Kediaman Jack Adinata


Mia bangun kesiangan, semalam ia bermimpi bertemu dengan Om ganteng pujaannya. Bahkan saat Mia mandi pun bayangan Om ganteng terus memutari kepalanya. "Aduh Om, udah dong. Aku bisa ga konsen belajar neh!"


Mia frustasi, dan terus menggeleng-gelengkan kepala mengusir Om ganteng yang terus tersenyum di bayangannya.

__ADS_1


Dengan kecepatan kilat Mia bersiap-siap untuk berangkat, dengan setengah berlari Mia menghampiri keluarganya yang sedang ada di ruang makan. Mia menenggak susu coklat kesukaannya hingga tandas, Maya, Jack dan Cristhoper menatap Mia tanpa berkedip.


"Mia langsung berangkat ya Mom, Dad. Udah telat soalnya." Mia mengecup pipi Maya dan Jack tidak lupa Cristhoper.


Saat langkah kakinya sampai ruang keluarga Maya berseru dengan membawa kotak bekal. "Kamu belum sarapan, jangan lupa makan bekalnya saat sampai sekolah, Ok."


"You are the best Mom, tidak akan tersisa satu remah pun." Mia membusungkan dada mantap. Maya tersenyum lucu melihatnya.


"Bye Mom." Mia melambaikan tangan saat didalam mobil.


Maya tersenyum dan melambaikan tangan sampai mobil Mia menghilang dari pandangan.


🌷🌷🌷


SMA***


Sekolah masih terlihat sepi saat Mia sampai. Mia sengaja datang pagi, karena hari ini ada ulangan Matematika. Ia berniat untuk belajar dahulu di perpustakaan, sekalian Mia bisa membaca novel lawas sampai bel masuk berbunyi.


Meski besar dan tumbuh di zaman milenial, Mia sangat menyukai Novel-novel lama. Salah satunya karya Jane Austen yang jadi favoritnya.


"Hm... belum ada yang datang. Belajar sambil sarapan gak apa-apa kali ya?" Mia menoleh ke kiri dan ke kanan. Ia segera mencari tempat duduk di pojok ruangan, tempat yang sempurna menghindari pengawas perpustakaan.

__ADS_1


Please rate, vote dan likenya yach!


Sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!


__ADS_2