
Cafe***
Angga masih berdiri memandang punggung Mia yang menjauhinya. Tanpa ia sadari bibirnya melengkung indah. Masih segar diingatan bagaimana interaksinya dengan Sophia, gadis gendut yang menurutnya manis. Manis? Kata itu seolah mengingatkannya pada seseorang.
"Tuan, apa anda ingin pulang sekarang?"
Bara memutus atensinya, Angga menoleh. "Hm, ya kita pulang sekarang."
Bara yang melihat raut wajah sang Tuan yang berbeda dari tadi pagi jadi penasaran. "Sepertinya suasana hati Tuan sedang baik."
Angga menggaruk ujung hidungnya. "Apakah terlihat jelas?"
"Sangat! Gadis tadi berhasil merubah mood anda Tuan?"
Angga hanya tersenyum menanggapi perkataan Bara. Apa benar begitu? Dia sendiri tidak mengerti. Yang jelas ada harapan agar bisa bertemu lagi dengannya.
"Sebaiknya kita pergi, sebelum Hani kembali menelponku." Angga berjalan keluar Cafe diikuti oleh Bara dari belakang.
🌷🌷🌷
Kediaman Adinata
__ADS_1
Ceklek
Mia memasuki kamar dengan langkah gontai. Tubuhnya lelah seperti habis lari marathon, sakit semua. Sakit badan dan sakit hati, lengkap sudah. Mia memejamkan matanya setelah menghempaskan diri pada tempat tidur.
Bayangan wajah Om ganteng sang pujaan hati terlintas, setiap senyum dan tutur katanya yang membuatnya merindu selama 8 tahun. Entah sekarang Mia harus bagaimana, hati ingin menyerah tapi kenyataannya tidak bisa.
Mia kini hanya berharap agar tidak bertemu kembali dengan pria itu, mencoba berdamai dengan hatinya dan belajar melupakan seiring waktu berjalan.
"Jahat banget kamu Om, sampe gak ngenalin aku." gumam Mia.
Air matanya jatuh lagi untuk kesekian kalinya, Mia sesegukan sambil membenamkan kepala pada bantal. Hingga kantuk menyerang, Mia masih merutuki Omnya itu.
🌷🌷🌷
Senandung riang tidak henti terdengar di sepanjang jalan menuju apartement, sesekali matanya melirik pada kantong platik yang dibawanya. Lagi-lagi sudut bibirnya terangkat, kenapa dia bisa sesenang ini? Ini hanya coklat... bukan coklatnya tapi siapa yang memberinya.
Saat memasuki apartemen alis Farel mengkerut, ada sepatu wanita di rak sepatunya. Siapa?
"Babe, kok baru pulang?" Farel menoleh pada asal suara.
Raut wajah cerianya berubah seketika. Raisa menghampiri dengan mengenakan kemeja Farel tanpa bawahan. Ia merangkul leher Farel hendak menciumnya, namun Farel memalingkan wajahnya.
__ADS_1
Farel merutuki diri sendiri karena sudah memberikan sandi apartemennya pada sang pacar.
Besok gue harus ganti passwordnya!
Raisa yang mendapat penolakan menatap tajam Farel. "Kamu kenapa nolak aku?"
Farel menghela nafas kasar, ia melepaskan rangkulan Raisa darinya. "Gue capek, pengen istirahat!" Farel berjalan kearah sofa dan mendudukinya.
Selama ini Farel tidak pernah bersikap dingin pada Raisa, sepanjang hubungan mereka meski baru 1 bulan berjalan Farel selalu memanjakannya. Raisa mencoba memaklumi, mungkin benar Farel lelah karena belajar seharian. (Iya belajar pedekate sama Mia ðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤)
Tidak ingin menyerah, Raisa kembali mendekati sang pacar dan duduk di pangkuannya. Farel tersentak dengan apa yang Raisa lakukan, dengan sengaja Raisa menggesekan bokongnya untuk memancing hasrat Farel.
"Aku bisa ilangin capek kamu, Babe!" ucapnya manja, tangannya menelusuri rahang Farel.
Farel tidak bergeming, semenjak pertemuan terakhirnya dengan Haris ia bertekad ingin berubah. Tidak mau lagi menjadi pria brengsek yang main celup sana celup sini. Meski itu dengan sang pacar, entah hatinya seperti apa.
Sebenarnya Farel hanya ingin bersenang-senang dengan Raisa, ia tidak melibatkan emosi perasaan di dalam hubungannya. Atau memang hanya nafsu yang ia rasakan?.
Hai... aku baru up... lagi buanyak kerjaan.
Ini visual Angga Saputra. Aku pikir Nico cocok...!
__ADS_1