
Dering ponsel terdengar memakan telinga Bara yang sedang asik makan siang dengan sekretaris ++ nya. Maksud ++ disini bukanlah yang berbau dewasa melainkan adalah ++ sebagai tunangannya.
Sudah 1 tahun Yanti menjadi sekretaris Bara menggantikan Bapaknya yang awalnya mengemban jabatan itu namun, demi mencegah hal yang tidak diinginkan terjadi Bara langsung meminta Yanti untuk menjadi sekretarisnya.
Hal tidak diinginkan di sini adalah mencegah Randy mantan pacar tunangannya itu untuk mendekati Yanti kembali. Karena 2 hari setelah lamaran Bara pada Yanti, Randy gencar mendatangi rumah Pak Tarjo.
Pria itu mengiba-iba memohon ampun pada Yanti agar memaafkan dirinya. Membujuk gadis ayu itu agar kembali menjadi kekasihnya. Mendengar kabar itu dari calon mertua membuat Bara naik pitam, ditambah dengan tambahan cerita yang dilebih-lebihkan oleh Pak Tarjo semakin menambah sulut amarah Bara yang sudah menggebu. Ibarat kompor, Pak Tarjo adalah kompor meleduk.
Tampak Bara masih asik dengan makannya, tanpa ia tau siapa yang menelpon. ia mengabaikan panggilan dari Angga, malah sibuk menyuapi Yanti dengan telaten. Yanti yang mendengar dering ponsel tanpa henti jadi tidak enak.
"Pak, ponselnya bunyi. Gimana klo penting?" keluh Yanti setelah menerima suapan dari Bara.
"Panggil Mas klo lagi berdua, kebiasaan!" ucap Bara gemas sambil menjawil hidung kecil milik Yanti.
Gadis itu mengaduh kesakitan karena jawilan Bara padanya. Mengusap hidung sambil mengerucutkan bibir karena kesal. Jika tidak sedang di area umum mungkin Bara sudah mengecup bibir mungil yang mengerucut itu.
"Kamu lagi goda Mas?"
"Hah, goda?"
"Itu, bibir kamu minta dicium."
Yanti menyadari sikapnya, ia langsung mengatupkan bibir rapat. Bara terkekeh geli melihat Yanti yang kikuk.
Kembali ponsel Bara berbunyi setelah tadi panggilan tidak terjawab itu berhenti. Bara mendengus kesal, dengan malas ia meraih ponselnya dan seketika matanya melebar melihat nama yang tertera di panggilan tersebut.
[Maaf Tuan, saya tadi sedang meeting,] bohong Bara dengan nada bersalah.
Yanti yang mendengar itu memutar bola matanya.
Rasakan, suka usil seh. Ketauan boong tau rasa kamu Mas. Batin Yanti bersorak.
[Tidak apa-apa, aku pulang hari ini. Siapkan dirimu, karena aku butuh bantuanmu untuk mengatur persiapan pernikahanku 1 minggu lagi,]
[Tuan pulang hari ini? Biar saya jemput Tuan!] Bara segera berdiri dari duduknya.
[Tidak perlu, kamu nanti langsung ke rumahku saja,]
__ADS_1
[Tapi Tuan-]
[Aku bilang tidak usah, Ok aku tutup]
Panggilan pun usai, Bara kembali duduk untuk menikmati makan siang yang tertunda. Yanti penasaran siapa yang menelpon tunangannya itu, sekilas ia dengar kata Tuan dan begitu sungkan Bara pada orang yang menelponnya. Karena selama ini ia hanya sering mendengar kata Tuan Erlangga sebagai atasan Bara.
"Tadi itu, Tuan Erlangga yang telpon Mas?"
"Iya, beliau pulang hari ini dari Palestina."
"Pa-Palestina? Ngapain di sana? Gak takut di Bom?"
Bara menjetikkan jari ke dahi tunangannya. Pertanyaan aneh menurutnya sama seperti yang sering Pak Tarjo tanyakan. Anak sama bapak sama saja.
"Ih... Mas suka banget sih nyiksa aku!" sungut Yanti. Ia mengusap dahinya yang sakit karena jentikkan Bara.
"Kamu nanya nya aneh, siapa juga yang mau ke sana buat kena Bom? Tuan Angga ke sana jadi relawan mewakili perusahaan Adinata Group untuk memenuhi persyaratan restu dari calon mertuanya," jelas Bara panjang lebar.
Yanti yang mendengarkan terkagum-kagum dengan keberanian Tuan Erlangga memperjuangkan cintanya.
"Kamu mau kirim Mas kemana? Biar gak iri sama Nona Mia yang di perjuangkan sampai Palestina," ucap Bara dingin.
Gadis itu menyadari ucapannya yang menyinggung Bara memilih mencari aman, karena baginya Bara adalah pria yang sangat baik selama ini. Dan Yanti telah mencintai pria itu, dengan lembut Yanti mengusap tangan Bara di atas meja.
"Yanti mah di sukai Mas Bara sudah beruntung sekali, di minta langsung di depan orang tua Yanti sudah merupakan pengorbanan Mas Bara untuk aku. Jadi tidak perlu itu Mas jadi relawan di negeri orang. Maafin Yanti yah udah nyinggung Mas," ucap gadis itu penuh sesal. Bara mengulum senyum. 1 hal lagi yang sama dari Yanti dengan Bapaknya yaitu, pandai merayu.
"Kamu memang benar-benar anak Pak Tarjo," jelas Bara. Kembali pria itu menyuapi Yanti.
"Kok jadi ke Bapak? Dan lagi, aku gak stroke Mas! Aku bisa makan sendiri," gerutunya menolak disuapi.
Sudah seminggu ini Bara selalu menyuapinya makan. Yanti tidak enak karena menjadi tontonan orang di restoran.
"Kamu kalo gak disuapin makannya dikit, kamu pikir Mas gak perhatiin?"
"Iya aku makan banyak, biar gendut!" sarkas Yanti.
"Bagus, memang itu lebih baik. Biar enak peluknya," Yang terbayang di kepalanya adalah sosok Mia dengan wajah Yanti. Ada-ada saja Bara ini.
__ADS_1
🌷🌷🌷
Setelah makan siang, mereka berdua kembali ke kantor untuk melanjutkan pekerjaan yang tertunda. Menghadiri beberapa rapat hingga waktu pulang tiba. Kemungkinan Tuannya sampai tanah air esok hari, Bara memilih pulang cepat dan tidur lebih awal agar esok dapat menyambut Tuannya dengan keadaan prima. Bara mengantar Yanti pulang terlebih dahulu sebelum kembali ke kediamannya.
"Mas langsung pulang ya," ucap Bara setelah mobilnya terhenti di parkiran umum ddkat gang rumah Yanti.
"Gak mampir dulu, Mas?" tanya Yanti.
Bara melepas seltbeltnya juga Yanti. Ia membelai rambut Yanti dan menjepitnya diantara telinga gadis itu. Sikap Bara membuat jantung Yanti berdegub kencang, dengan was was gadis itu menunggu kelanjutan apa yang akan Bara lakukan padanya. Tanpa Yanti sadari jika wajahnya sudah memerah layaknya tomat yang sudah matang. Bibir pria itu berkedut menahan senyum melihat perubahan pada wajah gadisnya.
"Tidak, kamu bilang saja kalau Tuan Angga besok pulang pada Bapak. Dan minta besok pagi datang kerumahnya, Ok!" bisik Bara mengirim genyar pada tubuh Yanti seperti tersengat listrik.
"I-iya Mas," sahut Yanti gugup.
Bara meraih bahu Yanti menghadapnya dan mendekatkan wajahnya pada gadis itu. Ciuman manis pun tidak terelakkan, sedangkan Yanti di dalam hati bersorak gembira. Ternyata sedari tadi Yanti menantikan moment kissing, romantis menurutnya.
Setelah ciuman berakhir Yanti tidak bergeming, ia masih duduk di kursi mobil tanpa ingin pergi. Bara mengerutkan kening melihat Yanti yang terdiam.
"Kenapa Yanti?"
Yanti memandang tunangannya yang tampan paripurna. Ia meremas kemeja Bara dan melontarkan kata yang sanggup membuat Bara malu bukan main.
"Cium lagi donk, Mas!"
Oh, ternyata Yanti mewarisi semua yang ada pada diri bapaknya, yaitu Agresif. Tentu saja hanya pada Bara, karena saat bersama Randy Yanti selalu dimandori oleh Pak Tarjo kemana pun. Dan perasaan Yanti tidak sekuat saat bersama Bara, ada perasaan takut dalam diri gadis itu jika Bara akan diambil orang. Tunangannya yang terlalu macho ini dapat menarik kaum hawa hanya dengan sekali melihatnya.
Bara yang diminta itu malah bergidik ngeri, ia memilih mengecup kening Yanti dan meminta Yanti segera pulang ke rumah. Dengan lesu akhirnya Yanti mengiyakan permintaan Bara.
Bukannya tidak mau, Bara hanya takut tidak bisa menahan diri. Apalagi jika pasangannya pasrah seperti itu, bisa-bisa hal yang diinginkan pun terjadi. Bersabar sedikit lagi tidaklah rugi.
Please rate, vote dan likenya yach!
Sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!
Wah... Yanti neh yang nyosor... tahan iman ya Bara... 🤣🤣🤣
__ADS_1