Cintaku Berat Di Timbangan

Cintaku Berat Di Timbangan
CBt 109


__ADS_3

Sebuah sentakan kuat dari Angga sebagai tanda jika pria itu sudah sampai pada ujung puncaknya, namun kali ini ia menyemburkannya diatas bokong Mia. Tangan kekar yang tadinya menahan pinggul Mia yang membungkuk di hadapannya melingkar ke leher sang pasangan, dan membantunya untuk tegap.


Dia tempelkan bibirnya pada ceruk leher Mia dan mengecup, mengusap dengan hidung mancungnya membuat satu lenguhan lolos dari bibir Mia. Gadis itu masih menikmati sisa-sisa kenikmatan yang baru didapat.


Ini adalah ronde kedua mereka, Angga benar-benar seperti tidak merasakan lelah. Mia sendiri sudah merasakan ngilu di pusat tubuhnya. Setelah tenang dari gelora panas yang menyerbu keduanya, Mia melepas diri untuk berbaring di ranjang. Dadanya naik turun karena nafasnya yang masih tersengal, Angga menatapnya tanpa berkedip.


Menyadari arah tatapan suami, Mia menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang polos.


"Kenapa ditutup?" Angga menahan selimut yang Mia tarik.


"Aku capek, Om... eh maksudnya sayang," jawab Mia kikuk.


"Karena kamu manggil Om lagi, kamu harus dihukum!!"


Mia bergidik ngeri, pria dewasa di depannya ini seolah ingin melampiaskan hasrat tertahannya selama ini. Seperti ayam jantan yang baru lepas dari kandang, ia memburu betina dengan menggebu. Angga menyibakkan selimut yang menutupi separuh tubuh istrinya. Dengan cepat menarik tungkai kaki Mia dan membukanya lebar.


Kali ini Mia hanya bisa pasrah saat lidah panas Angga bermain-main dilembah surganya. Pekikkan tertahan Mia terdengar indah di telinga Angga.


"Aaaakkh...!!"


Pria itu tersenyum melihat istrinya yang tidak berdaya, wajah merah Mia membuat hasratnya kembali naik. Ia mengangkat tubuhnya dan mencium bibir Mia dengan menuntut. Didekapnya tubuh gadis itu bersamaan hentakan miliknya pada pusat tubuh Mia.


Pandangan Mia sudah kabur, tubuhnya sudah mati rasa hingga puncak kenikmatan yang Angga raih akhirnya Mia tidak sadarkan diri.


🌷🌷🌷


Pendar cahaya matahari menerpa wajah Mia, gadis itu menyipitkan mata karena silauan cahaya yang terpantul dari kaca. Ia menggeliat, merasakan tubuhnya yang remuk redam. Mengedarkan pandangan yang jatuh pada Angga yang tertidur di sofa.


"Kenapa tidur di situ?" gumam Mia.


Ia berusaha bangkit dari pembaringan, mencoba mendudukkkan diri menyandar pada kepala nakas ranjang. Gerakannya mengusik tidur Angga, pria itu langsung terjaga.


"Sudah bangun sayang? Apa ada yang sakit? Maafkan aku yang tidak bisa menahan diri," ucapnya khawatir.

__ADS_1


Mia tersenyum, ia mengusap pipi suaminya lembut. Bukankah sudah kewajibannya untuk memberikan kepuasan pada Angga, suaminya. Dia hanya belum bisa mengimbangi permainan Angga. Sepertinya ia harus banyak belajar pada Tantenya Catherine.


"Kamu begitu hangat dan nyaman, sulit untuk berhenti. Bahkan sekarang, di bawah sana sudah kembali berdiri tegak," tambahnya sambil mengecupi tangan Mia.


Gadis itu segera menarik tangannya, ia belum siap jika harus diserang lagi. Angga terkekeh, dia hanya ingin menggoda istrinya meski kenyataannya memang ada yang tegak namun bukan keadilan.


"Aku tidak akan memakanmu lagi, sayang. Kamu harus istirahat, setelah itu kita ke Dokter," Angga mengusap rambut Mia.


Mia tertegun sesaat. "Ke Dokter? Ngapain? Aku gak sakit," jelas Mia.


Pria itu terdiam kemudian menghela nafas pelan. "Kamu harus pasang alat kontrasepsi," tambah Angga.


"KB?"


Angga mengangguk, ia beranjak dari sofa ke arah meja rias. Ia mengambil nampan berisi makanan dan minuman. "Ayo makan dulu, habis itu kamu tidur lagi," ia membawa nampan itu dan menaruhnya di hadapan Mia.


Angga mengambil beberapa roti isi dan menyodorkannya pada Mia. Gadis itu tidak bergeming, ia memandang Angga dengan tatapan yang sulit diartikan.


Sebelah alis Angga naik. "Apanya?"


"Kenapa aku harus KB?"


Tangan yang menggantung itu akhirnya turun. Angga menaruh kembali roti ke piring. Ia mengurut pangkal hidungnya karena pening yang tiba-tiba melanda.


"Om gak mau punya anak dari aku?" suara Mia terdengar serak. Ia menekan rasa nyeri yang menyeruak menyesakkan dada.


Pria itu mendongak menatap Mia dengan matanya yang merah. Hatinya mendadak sakit melihat ekspresi sedih istrinya.


"Bukan... aku mau banget punya anak dari kamu sayang, 10 kalo perlu," sanggahnya panik. Ia mendekat dan meraih tangan istrinya. "Kamu, masih terlalu muda. Belum saatnya untuk mempunyai anak, karena itu aku minta kamu pasang KB."


"Hanya alasan itu?" Mia masih tidak terima dengan alasan yang Angga berikan.


"Dengarkan aku," Angga mendekap tubuh Mia yang diam saja tanpa ingin menolak. "Usia mu saat ini tidak dianjurkan untuk hamil dikarenakan rahimmu yang belum cukup matang, banyak kematian yang terjadi pasca melahirkan karena hamil usia dini," jelas Angga panjang lebar. Ia semakin mengeratkan pelukan. "Dan aku gak mau itu semua terjadi sama kamu, aku gak mau..."

__ADS_1


Tubuh pria itu bergetar, sungguh ia tidak akan sanggup jika harus kehilangan Mia. Cintanya... nafasnya...


Mia terharu, sebegitu cintanya Angga padanya. Ia tidak pernah memikirkan hal sejauh itu. Tapi yang ia tau adalah, penggunaan KB pada orang yang belum memiliki anak dapat membuat peranakannya mengering.


Gadis itu mengusap punggung suaminya lembut, ia mengurai pelukan memandang Angga penuh cinta.


"Kita pakai cara lain selain KB ya, aku gak mau sampe peranakanku kering," pinta Mia yang diangguki sang suami.


"Aku mencintaimu, Angga..." kata cinta Mia menghantarkan mereka pada pergumulan panas untuk yang kesekian kalinya.


🌷🌷🌷


Bara merasa silau saat memasuki ruangan Tuannya. Harusnya ia memakai kacamata hitam. Angga dengan senyum menawan duduk di kursi kebesaran, terlihat pancaran positif menguar dari tubuh pria itu membuat Bara mau tidak mau bertanya.


"Anda sedang senang Tuan?"


"Lebih dari itu,"


Potongan kejadian sebelum ia berangkat kantor terus membayanginya. Gadis itu dengan suka rela memberikannya ronde ke-4. Apalagi saat Mia menjerit memanggil namanya disertai ucapan cinta membuatnya merinding.


Ah... rasanya ingin cepat pulang.


tok, tok, tok


Suara pintu diketuk. Masuklah seseorang yang membuat Angga terkejut sekaligus senang. Pria itu bangkit dari duduknya dan menghampiri orang tersebut. Saking senangnya, Angga sampai merangkul orang itu, Bara sedikit terkejut dibuatnya.


Siapa dia? batin Bara.


Dilanjut ntar yaaa... hahahahaha ini udah 5 wat.


Please rate, vote dan likenya yach!


Sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!

__ADS_1


__ADS_2