
Indonesia, Jakarta.
Pukul 8 pagi Angga sampai tanah air, dengan semangat ia berjalan dengan memukau siapa saja yang melihat. Menelpon supir pribadinya agar menjemput tanpa sadar ia menabrak seseorang.
BRUG
"Aaakhh..." pekik seseorang.
Angga baru menyadari kesalahannya berusaha membantu mengambil barang yang tercecer karena tubrukannya.
"Maaf, saya tidak lihat," ucap Angga merasa bersalah.
"Angga..." panggil orang itu saat melihat dengan jelas siapa yang membantunya mengambil barang.
Anga mengerutkan kening ketika namanya dipanggil, matanya berbinar kala tau ternyata orang itu adalah kenalannya.
"Tania,"
"Apa kabar Angga? Makin ganteng aja," goda wanita itu.
"Hahaha, gak salah? Aku sama aja dari dulu, yang beda tuh kamu," Angga menunjuk highhels yang terpasang cantik di kaki jenjang wanita itu. "Bukan kamu banget, kemana sepatu kets mu?" ejek Angga melucu.
"Ah kamu, kenapa ungkit dulu seh? Malu tau!" rajuk Tania.
"Sorry, yang di kepala aku ingatan kamu tuh tomboy abis."
"Jadi kamu masih ingat aku? Seneng dengernya."
"Ya inget lha, kita kan sahabatan. Gak mungkin aku lupa!"
Wanita itu tersenyum kecut, Angga mengingatnya hanya sebatas sahabat tanpa embel-embel apapun.
"Mau kemana atau darimana?" tanya Angga membuyarkan lamunan wanita cantik itu.
"Hm, baru pulang dari Bali. Ada nikahan saudara di sana, kalo kamu?"
"Aku baru dari Swiss, aku pulang mau siapin nikahan aku minggu ini. Dateng ya!"
Tanpa Angga tau ucapannya itu bagai belati yang menancap dalam ke jantung Tania. Sakit sekali namun tidak berdarah. Tania adalah sahabat Angga waktu kuliah dulu, sebenarnya wanita itu sempat mengutarakan perasaannya pada Angga namun ditolak karena Angga tidak mau persahabatan mereka putus.
"Me-menikah?" bibir wanita itu bergetar menahan sesak di dada.
"Iya, dateng ya! Sini bagi no. Hp kamu, kita udah lama lost contact," Angga menyodorkan ponselnya pada Tania.
Dengan senyum pahit wanita itu mengetikkan tiap nomor. Saat nomor sudah tersimpan, terpampanglah wajah Mia di layar ponsel Angga. Gadis dengan tubuh gendut, meski begitu tetap tidak menutupi kecantikan pada wajah gadis itu. Susah payah Tania berusaha menekan perasaan cemburu dan tidak rela.
__ADS_1
"Ini... calon mu?" tanya Tania sambil mengembalikan ponsel Angga.
"Iya, namanya Mia. Cantik kan? Aku memujanya," seloroh Angga tanpa malu-malu mengutarakan perasaannya.
Tania hanya bisa mengulas senyum tipis, seolah ikut bahagia mendengar penuturan Angga. Tubuhnya tiba-tiba lemas tidak bertenaga, sepertinya Tania syok dengan kenyataan Angga yang sebentar lagi akan menjadi milik orang lain.
"Wajahmu pucat, kamu gak apa-apa Tania?"
"Ah, ya. Aku gak apa-apa, selamat ya! Moga acara kamu lancar,"
"Makasih," Angga tersenyum sumringah.
Ponselnya berbunyi, panggilan dari supirnya. "Supirku udah sampe, kamu mau bareng aku? Rumah kamu masih yang dulu kan?" ajak Angga.
Wanita itu menggeleng, saat ini ia ingin sendiri. Mungkin untuk merapati hatinya yang selalu bertepuk sebelah tangan.
"Nggak usah, kebetulan aku ada janji sama temen aku di dekat sini." sanggahnya.
"Owh, ya udah kalo gitu aku duluan ya. Bye Tania," Angga melambaikan tangan kemudian melenggang pergi meninggalkan wanita itu dengan luka di hatinya.
Kamu selalu tidak tergapai olehku, Angga.
🌷🌷🌷
Pagi ini terjadi keributan di rumah Pak Tarjo. Pria paruh baya itu bangun kesiangan. Hebohnya seperti kebakaran jenggot, bagaimana bisa ia kesiangan di hari kepulangan Angga sebagai orang yang berjasa dalam hidupnya?
"Yanti! Cepetan donk mandinya, gak usah luluran. Kulit kamu sudah sawo matang dari lahir, tidak mungkin bisa putih jadi kaya artis Korea," teriak Pak Tarjo sambil menggedor pintu kamar mandi.
Yanti merutuki sang Bapak yang berteriak mengenai kulitnya. Ia agak minder di kantor karena hampir semua karyawan berkulit putih, sedangkan ia berkulit tan. Tanpa ia tahu jika warna kulitnya itu seksi dan jarang dimiliki orang lain. Warna kulit eksotis.
"Makanya jangan begadang! Ngapain juga Bapak nonton Kingkong tengah malem, katanya gak suka, sekarang nyalahin aku yang lagi mandi. Jangan ganggu Pak, kalo nggak aku mandinya makin lama!" ancam Yanti sambil berteriak pula.
Ibu Ani hanya bisa mengurut pangkal hidungnya karena pening melihat tingkah Bapak dan Anak yang sama saja.
Pria itu hanya bernostalgia, mengingat masa-masanya di Swiss bersama Bara calon menantunya. Kebetulan pria paruh baya itu melihat tayangan film tersebut di salah satu saluran TV swasta, tanpa mengingat bahwa esok ia harus bangun pagi untuk ke rumah Angga.
Pak Tarjo menghentak kakinya kesal. "Anak siapa seh?"
"Anak sampean," sahut Bu Ani malas.
Pak Tarjo menghempas tubuhnya ke sofa dekat Bu Ani duduki. Bu Ani memekik karena ia tehnya tumpah karena hempasan Pak Tarjo. Ia menghujani bahu Pak Tarjo dengan pukulan gemas.
"Kelakuan kayak anak kecil, sofanya nanti rusak. Tuh liat teh Ibu, tumpah gara-gara Bapak!"
"Ampun Bu, ampun... aduh!"
__ADS_1
Pukulan terhenti saat pintu kamar mandi terbuka berbarengan dengan Bara yang mengucap salam dari luar, sontak membuat Yanti dan Pak Tarjo kelabakan.
"Waduh, Bara udah dateng. Bapak belum mandi!" Pak Tarjo melesak ke kamar mandi tanpa perduli dengan Yanti yang ia senggol cukup keras hingga membuat baju dan handuk yang melilit Yanti hampir terlepas.
"BAPAAAKKK!!!" teriak Yanti gemas.
Pak Tarjo malah cekikikan di dalam kamar mandi. Emang dasar Pak Tarjo, bikin Yanti cepet tua sebelum waktunya.
🌷🌷🌷
Kediaman Sastroadji
"Mah..." panggil Angga saat sampai kediamannya. Ia rindu wanita yang telah melahirkan dirinya ke dunia.
Nyonya Anggun yang sedang asik menyiram tanaman tidak mendengar panggilan Angga, Angga pun memilih mencari Mamanya. Mengendap-endap dan memeluk tiba-tiba wanita paruh baya itu dari belakang. Nyonya Anggun sempat terkejut sebelum ia tau siapa pelaku yang memeluknya.
"Angga! Ya ampun anak Mama," wanita itu membalik badan dan memeluk sang putera dengan erat.
Ditinggal buah hati selama 1 tahun tanpa kabar, hanya do'a yang terus wanita itu rapalkan mengiringi setiap langkah anaknya. Rindu tertahan hingga tanpa sadar menitikan air mata haru.
"Mama rindu, Nak. Mama kepikiran kamu terus, selama 1 tahun gak kasih kabar apa-apa. Mama udah mikir yang nggak-nggak," isak tangis Nyonya Anggun pecah.
Sungguh jika bukan karena kebahagiaan sang putera mana rela ia melepas Angga ke Palestina. Hati Angga ngilu, selama ini ia hanya sibuk memikirkan perasaannya sendiri tanpa perduli dengan Mamanya yang begitu tersiksa dengan keputusannya.
"Maaf... maafin Angga Ma," Angga pun tidak dapat membendung air yang keluar dari sudut matanya.
"Jangan pergi lagi, Nak! Jangan tinggalin Mama," Nyonya Anggun memohon dengan suara serak. Pria itu mengangguk dalam pelukan sang Mama.
Setelah Nyonya Anggun tenang, Angga mengajaknya untuk berbicara 4 mata. Angga lebih dekat dengan Mamanya di banding dengan Papanya yang sering ke luar negeri. Dengan lembut ia menggenggam tangan yang mulai terdapat garis halus itu.
"Ma... aku sudah mendapat restu. Dan kami akan menikah minggu ini, setelah menikah kami akan tinggal di sini. Jadi nanti Mama gak sendiri lagi," ucap Angga lembut.
Mata Nyonya Anggun berbinar, ia sungguh bahagia mendengar kabar baik itu. Dengan penuh semangat Nyonya Anggun menyambut rencana Angga.
"Mama bahagia mendengarnya, niat baik memang harus segera di laksanakan. Biar Mama bantu kamu menyiapkan semuanya!" pinta Nyonya Anggun yang diangguki oleh Angga.
Please rate, vote dan likenya yach!
Sertakan Comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!
Maaf ya readerku sayang... lagi gak enak badan. Effect turun mesin 4x mungkin ya... ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
Rencana pengen cepet tamat jadi tertunda beberapa part, mohon dukungannya ya readerku semua... muach!
__ADS_1