Cintaku Berat Di Timbangan

Cintaku Berat Di Timbangan
CBT 111


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Bik Surti dikejutkan dengan keadaan dapur dan meja makan yang berantakan.


"Ada apa ya semalam? Apa ada kucing?" gumam Bik Surti sambil membereskan peralatan makan yang hampir jatuh ke lantai.


Nyonya Anggun baru bangun dari tidur berjalan ke arah dapur dengan sweter tebal membalut tubuhnya. Mengusap-usap lengannya agar tubuhnya hangat, hari ini cuaca cukup dingin.


"Kenapa Bik?" tanya Nyonya Anggun melihat Bik Surti memungut taplak meja di lantai.


Wanita paruh baya itu sempat terkejut karena panggilan Nyonyanya mengaburkan lamunan. "Eh... Nyonya, selamat pagi. Tidak ada apa-apa Nya, hanya sedang merapikan meja makan yang berantakan," jelasnya.


Alis Nyonya Anggun mengerut. Meja makan berantakan? Ia tidak menyadarinya semalam karena tertidur di ruang TV.


"Kok bisa berantakan? Setahu saya kemarin Mia masak soto daging untuk Angga," ia berjalan mendekati kompor, membuka tutup panci. Terdapat soto daging di dalamnya.


"Kucing kali Nya," Bik Surti menebak-nebak.


"Kucing? Di daerah kita gak ada yang piara kucing Bik. Atau jangan-jangan..."


Ucapan Nyonya Anggun terhenti saat mendengar langkah kaki dari arah anak tangga. Angga sudah rapi dengan pakaian kantornya, wajah pria itu secerah kemarin.


Nyonya Anggun menghampiri Angga, ia menelisik putranya yang tampan paripurna. Belum Nyonya Anggun bertanya, Angga sudah melontarkan kata.


"Jangan ganggu Mia ya mah, kasian dia kurang istirahat," ucapnya seraya mengecup kening Nyonya Anggun. Wanita itu mendengus, ternyata benar apa yang ia pikirkan. Angga lah pelaku kekacauan di meja makan.


"Pagi Bik," sapa Angga. Ia tersenyum manis. Berjalan ke arah coffemaker dan menuang kopi ke dalam cangkir, menyeruputnya dengan mantap hingga membuat Bik Surti diam karena terkesima.


"Tuan Muda kayak yang di iklan kopi," celetuk Bik Surti Polos. Angga hanya terkekeh mendengarnya.


Nyonya Anggun ikut ke dapur dengan ucapan yang membuat Angga tersedak.


"Iya Bik, semalam ada kucing kawin di meja makan," ucapnya sambil melenggang pergi ke arah tangga. Ia hendak menghampiri menantunya yang pasti sedang terkapar tidak berdaya.


Uhuk, uhuk, uhuk.


"Duh, Tuan Muda. Pelan-pelan minumnya," ucap Bik Surti menahan tawa. Ia tau maksud dari Nyonyanya. "Saya gak akan bilang siapa-siapa kok," tambahnya semakin membuat wajah Angga merah karena tersedak campur malu.


Apa-apaan seh Mama, masa aku disamain sama kucing?

__ADS_1


Nyonya Anggun kini sudah di depan pintu kamar Angga, ia memutar daun pintu dan masuk ke dalam dengan perlahan. Wanita paruh baya itu menggeleng melihat keadaan kamar yang tidak kalah kacau.


Ya ampun Angga, itu anak bener-bener deh!


Nyonya Anggun menatap khawatir pada Mia yang tertidur hanya berbalut selimut. Dia mendekat dan duduk di sisi ranjang, pergerakan Nyonya Anggun membuat Mia menggeliat. Matanya sontak membeliak saat melihat Mama Mertua ada di sampingnya. Ia hendak bangkit namun di tahan Nyonya Anggun. Gadis itu makin mengeratkan selimut saat tangan Mama Mertua menyentuh bahunya yang polos.


"Ah, Mama. Maaf Mia bangun kesiangan, Mia-"


"Stss.. sudah tidak apa-apa. Kamu istirahat lagi, duduk manis saat pelayan yang lain membersihkan kamar kamu," Nyonya Anggun meletakkan telunjuknya pada bibir Mia.


Mia menunduk malu, Nyonya Anggun tersenyum melihatnya. "Maafin Angga ya, maklum perjaka tua. Baru sekarang ia bisa menyalurkannya di tempat yang benar," tambahnya.


Kata-kata Nyonya Anggun malah membuat rona merah di pipinya Mia semakin padam. Kenapa Mama mertuanya membahas hal itu? Mia sungguh malu.


"Tidak apa-apa Ma, udah kewajiban aku melayani suami,"


"Begitukah? Kamu tau dari mana?"


"Mommy yang pesan, agar aku jadi istri yang baik, Ma," jawab Mia jujur.


"Mommymu benar, meski dia lebih muda dari Mama. Tapi ia berhasil mendidikmu dengan baik, Mama bangga sama kamu."


"Sama-sama, dan Soto daging buatan kamu enak!" pujinya. Mia tersenyum senang.


"Boleh aku ikut gabung?" Angga tiba-tiba datang dari arah pintu. Ia menatap nakal pada Mia, sedangkan gadis itu langsung pias. 2 hari di gempur berturut-turut membuat tubuhnya remuk.


Nyonya Anggun menghadang, ia menjewer telinga pria tersebut di hadapan Mia. Gadis itu menutup mulut tidak percaya.


"Aduuhhh Ma, sakit!"


"Sakit ya? Lihat tuh menantu Mama kamu bikin pucat seperti kehabisan darah, tahan diri sedikit kenapa seh!" omel Nyonya Anggun.


"Ampun Ma, iya maaf. Angga salah, lepasin Ma!" ringis Angga membuat Mia iba.


"Ma, kasian Angga. Lepasin Ma," pinta Mia segera di kabulkan oleh Nyonya Anggun.


Angga mengusap telinganya yang merah, ia memandang heran pada Mamanya. Nyonya Anggun mendelik tajam pada putranya.

__ADS_1


"Sudah sana berangkat!" usirnya pada Angga. Pria itu meringis masih mengusap telinganya yang panas akibat pelintiran maut Mamanya. Ia mendekati Mia.


"Mau ngapain?"


"Cium Ma, masa gak boleh? Mia kan istri aku," jawab Angga kesal.


Nyonya Anggun mendengus membiarkan Angga mencium Mia, ia mengecup bibir gadis itu lembut.


"Aku berangkat dulu ya, sayang!" bisik Angga yang segera diangguki Mia. Angga beralih pada Mamanya. "Jaga Mia ya Ma,"


"Ya, Mama akan jaga dia dari kamu," jawab Nyonya Anggun ketus. Angga hanya bisa tersenyum kecut lalu pergi meninggalkan 2 wanita yang paling berarti dalam hidupnya.


🌷🌷🌷


Hotel ***


Seminggu sudah berlalu, Bara akhirnya mempersunting Yanti. Mereka mengadakan resepsi di Hotel yang Angga siapkan, pestanya berlangsung lancar. Kini mereka sedang menikmati santap siang ditemani lagu dangdut koplo andalan Pak Tarjo. Pria itu sepertinya beralih profesi menjadi penyanyi dalam acara pernikahan. Banyak yang memberikan saweran padanya. Bu Ani menahan geram saat Tante hebring ikut berjoged bersama suaminya.


Zaman sudah mau kiamat, si tua bangka masih dilirik Tante-tante. Awas ya kamu Pak kalo sudah di rumah! Aku bikinin sambel geprek!!! batin Bu Ani mencak-mencak.


Angga tidak lepas dari Mia, ia menempel layaknya perangko pada kartu pos. Mereka menghampiri pengantin untuk mengucapkan selamat.


"Selamat ya kak Yanti dan Mas Bara," ucap Mia tulus.


Gadis itu berbinar, ia mengagumi Mia dengan tubuh gendutnya. Wajah campuran eropa membuatnya terlihat seksi. "Makasih ya Nona Mia," jawabnya.


"Panggil Mia saja Kak," pinta Mia.


Yanti menoleh pada suaminya, Bara mengangguk menyetujui. "Iya, Makasih ya Mia," ucap Yanti. Mereka saling bersalaman.


Ponsel Angga berdering, ia melepas rangkulan pada pinggang Mia. "Sayang, aku terima telpon dulu ya. Di sini bising," ucap Angga sebelum ia pergi meninggalkan Mia yang bahkan belum mengangguk sama sekali.


"Ya, Tania..." suara Angga terdengar samar menyebut nama seseorang di ponselnya. Mia memandang Angga yang berjalan menjauhinya.


"Siapa tadi?" gumamnya.


Mau nyuci dulu ahhhh... 🤭🤭🤭

__ADS_1


Please rate, vote dan likenya yach!


Sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!


__ADS_2