
Hari sudah menjelang sore saat pasangan dimabuk asmara keluar dari studio, namun ada yang lain. Karena pasangan wanitanya menunjukkan raut wajah ditekuk seperti jemuran kusut.
"Jangan ngambek! Nanti kita nonton lagi, gimana?" bujuk Angga.
"Gak mau!" Mia mengerucutkan bibirnya kesal.
Angga tidak bisa menahan senyum jahilnya, ia senang sekali hari ini. Tidak sia-sia mengajak Mia nonton, sambil menyelam minum air. Sambil menonton ia pun melakukan hal lain, hal yang menyenangkan menurutnya.
Berbeda dengan pria itu, Mia merasa dicurangi. Waktu nontonnya terganggu dengan tingkah dan serangan Angga baik itu pelukan maupun kecupan. Om nya berubah menjadi pria mesum tidak kenal tempat. Mia memalingkan wajah dari Angga yang berusaha merayu.
"Sayang... udah marahnya ya," Angga menunjukkan raut wajah memelas agar Mia iba padanya.
Gadis itu menyipitkan mata, masih sebal karena gagal nonton dengan khikmat. "Lagian, kan Om bilang 1 kali cium. Kenapa berkali-kali? Dasar mesum," Mia mendaratkan cubitan ke tangan Angga hingga yang empunya meringis.
"Abis, kamu ngegemesin. Pengen aku masukin kantong, terus dikurung di kamar gak boleh keluar!" jawab Angga sambil mengusap bekas cubitan Mia. Rasanya perih-perih enak. Dasar bucin!
"Emangnya aku dompet, dimasukin kantong? Ada-ada aja Om ini," kekeh Mia.
Tangan kekar itu pun merangkul bahu Mia, mengeratkan tubuhnya. "Gitu donk senyum, kamu itu makin manis kalo senyum. Bikin pengen gigit, boleh gak?" sambil mencubit pipi Mia, gemas.
"Nggak!" Mia melepas rangkulan dan berlari menghindari Angga. Pria itu terhenyak sesaat sebelum mengejar Mia sambil tertawa.
"Kalo ketangkep, aku gigit beneran ya!"
"Coba aja klo bisa, bwee.." Mia menjulurkan lidah mengejek.
Pria itu mengejar Mia yang berlari menuju parkiran mobil, gadis itu tertawa geli saat akhirnya Angga berhasil menggapai pinggang dan mendekapnya dari belakang.
"Ampun... ampun Om," Mia berusaha bernegosiasi.
"Tidak ada kata ampun," Angga berbisik kemudian menggigit bahu Mia hingga gadis itu memekik.
"Aakhhh!"
Angga menyeringai saat Mia menoleh dengan tatapan ngeri, pria itu benar-benar meggigitnya.
"Om zombie ya? Main gigit aja, atau jangan-jangan Om vampir?"
"Iya, vampir yang minum darah perawan," ekspresi Angga dibuat-buat.
Bulu roma Mia meremang, kenapa jadi merinding? "Udahan ah main gigit-gigitnya, gak asik!" ucap Mia mencari aman, dia mulai parno sendiri.
Angga tergelak, Mia sungguh membuat suasana hatinya menghangat. Tidak pernah ia merasa sangat bersemangat seperti ini, serasa menjadi lebih muda karena pengaruh gadis yang telah menjadi kekasihnya kini.
__ADS_1
"Ok!" Angga membukakan pintu mobil untuk Mia.
"Makasih..." gadis itu tersipu malu.
Kali ini Mia tidak lupa memasang savetybeltnya hingga Angga tidak bisa mengambil kesempatan lagi. Angga merengut lucu membuat gadis itu terkekeh.
"Jadi, mau kemana lagi kita?" tawar Angga.
"Ya balik ke sekolah, Om. Ini udah sore lho!" sanggah Mia.
"Gak apa-apa, aku udah kasih alasan kamu libur hari ini."
"Apa alasannya?" tanya Mia penasaran.
"Ada deh," jawab Angga dengan kerlingan mata yang sanggup menancapkan panah cinta di dada Mia.
JLEB
Huuuhh... untung jantungku kuat, batin Mia.
🌷🌷🌷
Semilir angin menerpa wajah Mia, ia memejamkan mata menikmati suasana menjelang malam. Tampak lampu jalan kota yang mulai menyala menjadikan pemandangan semakin indah ditambah ditemani sang kekasih mendekap hangat tubuhnya.
"Hari ini benar-benar hari paling indah buatku," Mia mengusap lengan Angga yang melingkar di pinggangnya. Angga memeluk gadis itu dari belakang sambil memandang pemandangan malam di pinggiran kota Bern.
"Ya, sekali lagi makasih!" Mia menoleh ke arah Angga dengan senyum tulus.
"Sama-sama! Makasih juga karena menerimaku," Angga mengecup pelipis Mia. Mereka kembali menikmati suasana malam yang romantis.
🌷🌷🌷
Jakarta, Kediaman Pak Tarjo.
Sepulang dari toko buku Yanti mengurung diri di kamar, masih segar di ingatannya ajakan Bara untuk menikah. Bagaimana bisa pria itu mengajaknya menikah, sedangkan mereka belum terlalu saling mengenal.
Bukan berarti tidak mau, Bara seorang pria mapan dan rupawan menurut Yanti. Ia merasa tidak sederajat, dan lagi Yanti ragu karena selama ini Bapaknya sangat getol menjodohkan mereka. Yanti tidak mau Bara meminangnya karena terpaksa atau karena sesuatu.
Baru saja dikejutkan akan kenyataan kekasih yang berselingkuh, di hari yang sama pula Yanti dikejutkan dengan lamaran tidak romantis dari Bara. Oh, dasar pria datar. Tidakkah seharusnya ia mencari hari lain untuk mengutarakan hal itu. Yanti menenggelamkan wajahnya pada bantal.
Tidak romantis sama sekali!
Terdengar Pak Tarjo yang berlari terpogoh-pogoh, ia mengetuk pintu kamar Yanti dengan keras.
__ADS_1
Tok, tok, tok!
"Yanti! kamu sedang apa? Keluar cepat, kasih tau Bapak kemarin Bara bilang apa sama kamu?" Ketukan beruntun mendarat di pintu menyebabkan suara yang nyaring dan mengganggu telinga.
Cklek
"Ya Ampun Pak, sabar kenapa seh!" gerutu Yanti.
"Kemarin Bara bilang apa?" berondong Pak Tarjo memburu Yanti.
Yanti sempat terkesiap, namun segera menampilkan ekspresi biasa saja. Menurutnya sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk membahas ucapan Bara kemarin.
"Gak bilang apa-apa kok," bohong Yanti.
Pak Tarjo memicingkan mata, ia tau anaknya menyembunyikan sesuatu. "Jangan bohong sama Bapak!"
"Ih, beneran Pak!" sanggahnya.
"Lalu itu apa?" Pak Tarjo menunjuk sebuah dus ukuran cukup besar.
"Memangnya itu apa?" Yanti yang penasaran pun mendekati dus itu dan membukanya. Dahinya mengeyit ketika melihat apa saja yang ada di dalam dus. "Peralatan mandi? Banyak amat ini Pak, buat siapa?"
Pak Tarjo tidak menyahut, masih memperhatikan anaknya yang asik mengamati barang-barang di dalam dus.
"Ini komplit banget Pak, kaya yang ada di hotel. Malah lebih bagus!" matanya berbinar saat melihat 1 barang yang menarik menurutnya. "Ada cukuran bulu juga! Aku dari kemarin mau beli tapi malu Pak, kebetulan banget. Ini Bapak yang beli semua? Uang dari mana? Bukannya belum gajian ya?"
"Semua itu dari Nak Bara!"
"Hah?"
"Waktu di Swiss Bara bilang mau antar peralatan mandi buat mahar kamu, jadi beneran kemarin Bara lamar kamu?" ucap Pak Tarjo antusias ia tidak menyadari wajah Yanti yang berubah menjadi pucat pasi.
Bukan masalah lamaran Bara yang ia pikirkan, tapi cukuran bulu itu.
Berarti kemarin Mas Bara lihat bulu kakiku, sampai mengirim cukuran ini! Ya ampun...!
Yanti memilih pergi dan melesak memasuki kamar, menguncinya rapat. Tanpa tahu sebenarnya cukuran itu 1 paket sebagai peralatan mandi, namun terlanjur gadis itu berfikir yang tidak-tidak.
"Yanti, kok malah pergi? Ceritain ke Bapak donk kamu kemarin ngobrol apa aja? Yanti... Yanti..." kembali pria tua itu mengetuk dengan membabi buta.
Sedangkan Yanti menutup kepalanya dengan bantal, ia malu bukan main.
Please rate, vote dan likenya yach!
__ADS_1
Sertakan comment kalian agar aku kebih baik lagi, Enjoy!!!
Duh, bulu kakiku juga panjang kok Yanti, ini yang jadi daya tarik author... hohoho.