
Mia terkesiap dengan perlakuan Angga, terlalu dekat bahkan ia belum siap akan banyaknya sentuhan yang diberikan Angga. Membuatnya gemetar gugup karena jantungnya yang berdebar. Wajahnya memerah malu.
"Jangan marah...! Aku hanya kesal. Begitu banyak pemuja mu sayang..."
"Apa?"
"Pesan dari Pria bernama Haris dan Farel itu, mereka terlalu berlebihan! Mereka menyukaimu... Aku tau itu." Angga cemberut.
Mia terkekeh, sungguh lucu ucapan Om gantengnya ini. "Gak lucu Om, beneran deh!" Mia menangkupkan wajah Angga hingga bibirnya mengerucut lucu. "Apanya yang mereka lihat coba dari aku?"
Sorot mata Angga jatuh pada bibir Mia, dia sudah tidak mendengar apa yang gadis itu katakan. Memperhatikan setiap gerakan bibir Mia saat berucap, hingga akhirnya Angga membungkam Mia dengan ciuman panas.
"Hmmpp!" Mia sempat memekik sebelum ia ikut larut pada permainan lidah Angga. Dua menit mereka berciuman hingga kehabisan nafas.
Angga mengusap pipi Mia setelah melepas ciuman. "Lulus sekolah, kita menikah!"
Mia melotot ngeri. "Menikah?"
"Iya, kamu gak mau nikah sama Om?"
"Hm... Bukan gitu. Aku masih mau kuliah." Mia meremas tangannya, ia mau menikah. Siapa yang tidak mau menikah dengan orang yang dicintai, hanya saja Mia takut tidak bisa menjadi istri yang baik nantinya.
"Kamu bisa kuliah setelah kita menikah, Om tidak akan melarang mu mengejar cita-cita." Angga kembali meyakinkan Mia. "Jadi... Mau kan?"
🌷🌷🌷
Gadis kecil itu kini telah dewasa, menjadi gadis yang cantik dengan banyak kelebihan. (termasuk berat badan ðŸ¤).
Mata nya berbinar sama seperti 8 tahun yang lalu. Saat pria idamannya memberikan harapan akan masa depan.
Dan sekarang di hadapannnya, pria itu bersimpuh dan menawarkan ikatan pernikahan. Adakah kebahagiaan lebih dari ini?
Meski tidak ada lamaran romantis dengan lilin menghiasi ruangan, tanpa bunga sekaligus coklat kesukaannya. Ia tetap bahagia. Mimpinya selama ini menjadi nyata, ia menganggukkan kepala sambil tersenyum mempesona. Ia mencintai pria itu. Sangat.
"Iya, aku mau nikah sama Om," ucapnya mantap membuat Angga langsung memeluknya erat, binar bahagia pun terpatri di wajah tampannya. Seolah bebannya hilang, Angga merasa begitu lega dan damai.
"Terima kasih... Terima kasih...!"
Mia membalas pelukan hangat prianya. Boleh kah ia menyebut Om ganteng sebagai prianya? Mia tidak perduli, cinta memang bisa membuat orang buta.
🌷🌷🌷
__ADS_1
Meja itu penuh dengan makanan, bahkan hidangan penutup serba coklat dengan berbagai jenis tersedia disana.
"Makanannya banyak banget Om, ada tamu ya?" Tanya Mia heran.
"Bukan tamu, tapi calon istri," sanggah Angga.
"Ini buat aku? Semua?"
"Iya!"
"Om mau bikin aku makin gendut ya?" seloroh Mia.
"Kamu gak boleh kurus, begini aja!" Angga memeluk Mia dari belakang. Membuat Mia bungkam seketika. Angga memindahkan rambut Mia kesamping hingga tengkuknya terpampang jelas. Angga mengecup dan menjilat sesekali menggigit kecil membuat bulu kuduk Mia meremang.
"Om... Geli!" Mia berusaha menghindar.
"Kamu lembut dan hangat, sulit untuk berhenti!" bisik Angga.
Tiba-tiba terbesit sesuatu dipikirannya. "Om..."
"Hm" Masih sibuk menciumi tengkuk Mia, wangi cherry menguar dari tubuhnya.
"Om, begini juga sama dia?" Mia bahkan tidak sanggup memanggil nama calon istri Angga kemarin, yakni Hani.
"Kenapa gak dijawab? Om udah ngapain aja sama dia?"
"Kamu cemburu?"
"Aku cuma mau tau, aku harap Om jujur!" desak Mia.
Keringat dingin membasahi keningnya, ia harus menjawab apa? Apa saja yang dilakukan sepasang pasangan yang bahkan akan menikah? Tidak mungkin hanya berpegang tangan. Tapi jika ia menjawab yang sebenarnya, pasti akan menyakiti hati gadis itu.
Angga benar-benar dalam dilema. Dengan tarikan nafas pelan Angga memilih menjawab seadanya, kejadian baru-baru ini yang hampir membuatnya khilaf lebih baik tidak di sampaikan. Toh, Hani dan dirinya sudah berakhir. Berbohong demi kebaikan tidaklah buruk pikirnya.
"Hanya peluk dan cium..," Angga menatap Mia yang langsung berubah ekspresi. "kami hampir menikah, Mia." Kata itu menimbulkan rasa nyeri yang aneh di dalam dadanya.
"You sleep with her?" bibir Mia bergetar.
"Of course not!"
Hampir
__ADS_1
Angga menggelengkan kepala, raut wajah sedih Mia membuat sembilu di hatinya. "Berhenti menyakiti diri sendiri dengan pertanyaan tidak penting!"
"Bagiku penting, aku disini menjaga hati. Sedangkan Om berbahagia bahkan membagi cinta!" hatinya ngilu saat bayangan Angga mencium, bermesraan dan berpelukan dengan Hani terlintas dikepalanya tanpa permisi.
"Kamu tau Mia, itu karena aku-"
"I know! Karena itu aku ingin tau semuanya dan menerima dengan lapang hingga tidak akan menjadi bomerang di kemudian hari." Air mata Mia akhirnya membasahi pipi.
Angga merengkuhnya ke dalam pelukan, jika bisa ingin rasanya ia mengulang waktu dan setia menunggu tanpa harus melakukan hal yang menyakiti gadis itu.
"Lupakan semua, kita buka lembaran baru. Aku salah, kamu boleh marah! Tapi jangan pergi atau berhenti mencintaiku... Karena aku tidak akan sanggup tanpamu," ucap Angga lirih.
Lagi hati Mia luluh, dia selalu bisa memaafkan Angga yang berkali-kali menorehkan luka di hatinya. Berawal dengan Angga yang tidak mengenalinya, kemudian berita dirinya yang akan menikah dengan wanita lain dan sekarang kenyataan bahwa dia bukan yang pertama menerima ciuman dari pria itu, lalu pelukan.
Sudah lah, Mia memilih menutup semuanya. Menerima pria itu apa adanya dengan segala kekurangan, seperti dirinya yang tidak sempurna. Mia akan melengkapi kekurangan Angga begitu pula sebaliknya.
🌷🌷🌷
Kediaman Raisa Reena Wijaya
PLAK
Raisa tersungkur di lantai oleh tamparan Ayahnya. Sang Ibu hanya bisa memekik histeris saat melihat darah mengalir di sudut bibir putrinya.
"Sudah Ayah! Kasian Raisa," sang Ibu terus memohon bahkan bersimpuh di samping suaminya.
"Ini semua karena kamu yang selalu memanjakannya, Lihat sekarang! Dia berani berbuat kriminal, menjebak seseorang di kamar Hotel!" teriak Pak Wijaya.
Raisa masih setia dengan kebisuannya. Ibunya menghampiri sambil mengiba. "Minta maaflah sayang, tidak akan membuatmu kehilangan harga diri," bujuk ibunya.
"Tidak, aku tidak mau! Semua salah dia!" Raisa berteriak.
"Kamu pikir kamu siapa? Masih keras kepala dan tidak mau meminta maaf?" Tuan Wijaya menghardik Raisa. "Kamu membullynya selama ini tapi dia diam, sekarang keluarganya tau dan tidak terima. Semua rekan kerja ayah adalah anak perusahaan Adinata Group, kamu tau artinya kan?"
"Maksudnya?"
"Kita akan tinggal di jalan, dan menjadi pengemis!" Pak Wijaya mencengkeram pipi Raisa. "Tadi pihak sekolah memberitahu jika kamu dikeluarkan dari sana, tidak masalah. Malah bagus jadi aku tidak perlu mengeluarkan uang untuk hal yang sia-sia."
Mata Raisa memerah. "Dikeluarkan?"
"Apa yang kamu harapkan dari semua perbuatan mu? Masih untung kamu tidak di masukkan ke penjara!" Pak Wijaya kembali emosi dan mencengkeram lebih keras membuat Raisa meringis kesakitan kemudian menghempasnya.
__ADS_1
Air mata yang sedari tadi ia tahan kini luruh juga. Raisa masih dengan egonya yang keras tidak ingin meminta maaf. Tapi saat mendengar ia dikeluarkan dari sekolah membuat harga dirinya terinjak-injak.
Dia tidak merasa salah sama sekali, baginya ia melakukan hal wajar. Semua adalah bentuk pertahanan diri dari mereka yang berusaha merebut miliknya. Raisa merasa Mia ingin merebut Farel darinya.