Cintaku Berat Di Timbangan

Cintaku Berat Di Timbangan
CBT 127


__ADS_3

"Apa yang Daddy lakukan?" Maya memekik saat tau Jack membujuk Angga untuk melepas Mia. "Daddy mau anak kita jadi janda diumur semuda itu? Lagipula Mia sudah memaafkannya, Mia bilang sama Mommy kalo dia mau memberikannya kesempatan. Untuk apa lagi Daddy minta dia lepas Mia?" Maya tidak habis pikir dengan pemikiran Jack yang diluar batas.


Jack hanya terdiam, dia masih tidak bisa merelakan Mia. Maya mendekati Jack yang duduk di kursi tunggu rumah sakit.


"Daddy, tidakkah Daddy ingat sesuatu?"


Jack mendongakkan kepala melihat ke arah istrinya.


"Saat ini Daddy di posisi Paman Bagas, dan Angga di posisi Daddy saat itu. Sebenarnya, Angga tidak selingkuh secara garis besar. Dia tidak bisa menjaga batasan antara sahabat hingga terjadi lah peristiwa buruk itu. Mommy berusaha memahami hal itu,"


Jack termenung mendengarkan setiap perkataan Maya yang benar adanya.


"Setiap manusia pasti membuat kesalahan, tidak ada yang luput akan hal itu. Dan setiap manusia berhak mendapatkan kesempatan, sebesar apapun kesalahannya. Daddy yang sangat mengerti... karena Daddy pernah mengalaminya, bukan begitu?" tanya Maya berusaha membuang sisi ego dalam diri Jack. "Jangan buat Mia semakin bingung akan pilihannya, baik untuknya menurut kita... belum tentu benar-benar baik untuk hidupnya." Maya mengusap bahu Jack.


Jack meraih tangan Maya, mengecupnya. "Daddy hanya tidak mau dia merasakan sakit lagi, Daddy gak sanggup melihatnya."


"Karena itu jangan sampai terjadi, tidak hanya untuk Angga dan Mia. Ini juga pelajaran buat kita berdua ke depannya. Daddy, ikhlaskan semua. Dengan begitu hati kita tenang," Maya mengusap pipi pria yang menemaninya selama ini. Mengarungi rumah tangga bersama.


Jack mengangguk, dia tidak pernah berhenti bersyukur karena memiliki pendamping hidup seperti Maya. Istri, ibu dan teman yang baik dalam berbagi keluh kesah.


🌷🌷🌷


Angga menatap kosong pada jendela kamar nya. Suasana semakin dingin dan suram karena hujan mengguyur cukup deras. Rintik hujan terlihat membasahi taman hingga mengeluarkan aroma tanah yang basah.


Ucapan Jack terus terngiang di telinga Angga. Benarkah kebahagiaan Mia bukan pada dirinya? Rasa sesak tiba-tiba menyusup dada pria itu, Angga bukanlah pria cengeng. Dia adalah pria yang dikenal keras kepala yang penuh ambisi, tidak ada kata berhenti sebelum hal yang diinginkan tercapai. Tapi jika sudah menyangkut Mia, dia seolah tidak berdaya. Bagai budak cinta yang siap mati kapan saja, Mia adalah melemahannya yang paling besar.


Pintu kamar terdengar membuyarkan atensinya pada jendela. Mia memasuki kamar dengan bajunya yang sedikit basah. Gadis itu mengibas-ngibaskan rambutnya yang lepek.


Kenapa bajunya basah? Apa dia tidak memakai payung.


Angga mengamati Mia dalam diam, ada kerinduan yang begitu besar ingin pria itu salurkan. Namun, urung mengingat apa yang Jack katakan padanya tadi siang. Mia menatap heran pada Angga yang diam saja tanpa menyambutnya.


"Ada apa?" tanya Mia berjalan mendekat. Gadis itu hendak mendaratkan bokongnya pada kursi di samping ranjang Angga.


"Apa... kita bercerai saja?" tanya Angga tanpa melihat wajah Mia.

__ADS_1


"Apa?" Mia menoleh cepat pada Angga, ia seolah salah mendengar kata pria itu. "Tadi bilang apa?" tanya Mia kembali.


Angga menatap Mia dengan matanya yang kosong. "Kita bercerai saja,"


Hening sesaat setelah sebuah kata kramat tercetus dari mulut Angga yang pucat. Mia masih mengumpulkan nyawanya yang sempat hilang. Dia terkekeh kemudian, Angga memandang Mia dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Jadi... akhirnya begini? Kamu mau lepas begitu saja setelah membuatku keguguran?" suara Mia bergetar, emosinya memuncak begitu saja.


"Bukan kah kamu mau lepas dariku?" Angga kembali bertanya, membuat Mia semakin naik pitam. "Dan kamu belum benar-benar memaafkan aku, kamu masih mengungkit hal itu. Kamu tersiksa di sisiku?"


Mia menatap nyalang pada Angga. "Apa kamu sudah baikan?" Mia menanyakan hal yang membuat alis Angga mengeryit.


"Ya, aku sudah baik-baik saja," jawab Angga heran.


Setelah menanyakan itu Mia melakukan hal yang membuat Angga terperangah.


PLAK


"Ini untukmu yang melupakanku selama 8 tahun!"


PLAK


BUGH


"Untuk anakku yang sia-sia karena kamu membela sahabatmu!"


Mia menampar Angga dan membogem pria itu untuk yang terakhir dengan derai air mata. Angga meringis merasakan nyeri pada rahang dan rasa perih pada kedua pipinya. Mia meluapkan kekesalannya yang terpendam selama ini, tangannya masih terkepal dengan nafas memburu.


"Katakan sekali lagi jika kau ingin melepasku!!! Aku akan pergi saat itu juga!!!" Mia berkata dengan lantang untuk pertama kalinya Angga melihat Mia semarah ini. Pria itu bukan menjawab malah diam dengan wajah syoknya.


Mia memilih untuk pergi, saat ia membalikkan tubuh tangannya dicekal Angga hingga gadis itu terjatuh dalam pelukan pria itu. Mia berontak hendak melepaskan diri, namun Angga menahannya dengan sama kuatnya. Pria itu membenamkan kepalanya di ceruk leher Mia.


"Luapkan semuanya, tidak perlu ditahan. Pukul lagi aku, sayang..."


"Lepas!!!"

__ADS_1


"Maafkan suamimu yang tidak berguna ini, ternyata begitu banyak kesalahanku, tapi aku masih egois menahanmu,"


"Kau adalah manusia paling egois di dunia!!!"


"Benar..."


"Brengsek!!!"


"Itu juga benar..."


"Jahat!!!"


"Iya..."


"Kamu adalah orang paling kejam! Kamu gak percaya aku, kamu fitnah aku, kamu buat dia pergi!!!"


"Maaf... jika aku bisa, aku akan menukar waktu dengan hidupku agar semua itu tidak terjadi,"


Tubuh Mia bergetar, ia menangis dengan pilu. "Meskipun begitu... aku masih mencintaimu... aku sangat mencintaimu..." Mia berkata di tengah isakannya membuat Angga semakin mengeratkan pelukan. Pria bodoh itu begitu dicintai oleh gadis yang sudah berkali-kali disakitinya.


"Berarti kita tidak jadi bercerai, karena kamu sangat mencintai aku," bisik Angga hampir tidak terdengar. Pria itu mengecup seluruh wajah Mia sambil merapalkan kata cinta.


Ternyata tidak bisa... mereka memang tidak bisa terpisahkan, meski berbagai masalah menerpa mereka. Hati Angga dan Mia adalah satu.


🌷🌷🌷


Mia tertidur di ranjang Angga seusai menangis hebat. Angga menatap sendu pada istrinya dengan mata sembab. Ternyata ada baiknya dia melontarkan kata kramat itu hingga tau bagaimana isi hati Mia, segala beban yang gadis itu pendam dan rasa kekecewaannya. Karena selama ini Mia selalu baik-baik saja, menerima dan tidak pernah protes membuat Angga lupa akan batasan. Andai Mia terbuka dan mengutarakan rasa tidak sukanya. Mungkin Angga akan merubah sikapnya. Harusnya Angga lebih mengerti keadaan karena usianya yang jauh lebih dewasa. Tapi di sini Mia malah terkesan lebih dewasa dari Angga sendiri.


Mia dengan segala kedewasaannya yang mampu membuat Angga semakin mengagumi gadis itu.


"Kamu... begitu dewasa... dan aku begitu kekanakan. Bagaimana bisa kamu begitu mencintaiku yang seperti ini?" Angga mengecup kening Mia. Hatinya masih membengkak mendengar kata sangat mencintai dari Mia. "Terima kasih, sayang."


Please rate, vote dan likenya yach!


Sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!

__ADS_1


Ok kita bikin baikan aja ya... biar mereka bisa bikin anak lagi, 🤣🤣🤣


__ADS_2