
SMA ***
Mia merapikan perlengkapan belajarnya saat bel istirahat berbunyi. Laras melirik kotak bekal yang terlihat dibalik tas Mia.
"Lo bawa bekel ga bilang-bilang, mau donk!" Laras mengambil kotak bekal Mia, dahinya mengkerut. "Kok enteng?" Laras menggoyang-goyang kotak bekal itu, hanya terdengar suara sumpit di dalamnya.
Mia melihat Laras yang memegang kotak bekal sambil cemberut. "Sorry, udah gue makan tadi pas di Perpus."
Laras memicingkan matanya. "Ah... gak asik neh big girl."
Mia hanya terkekeh, Laras memang suka sekali dengan bekalnya. Selain enak, 'gratis' adalah kata yang ia suka. Dasar tidak modal!.
"Tadi emang Mommy Maya bikin apa?" Laras masih membahas bekal yang sudah habis, seolah dengan mendengar akan membuat dia kenyang. Atau lebih tepatnya dia masih tidak rela tidak mencicipi bekal Mia.
"Bento." Ucap Mia singkat.
Laras makin merengut, ia pernah makan bento Mia 4 hari yang lalu. Rasanya enak sekali, sampai membuatnya berebutan dengan Mia.
Bibir Mia lagi-lagi berkedut, gemas dengan sahabatnya ini. Ya ampun... Hanya karena kotak bekal kosong Laras merajuk.
"Ya udah seh, besok gue minta Mommy bikin bento lagi, puas?!"
Mata Laras langsung berbinar, ia beranjak dari kursi sambil merangkul manja pada Mia. "Ih, lo emang paling ngertiin gue! Sini gue cium."
Mia menjauhkan kepala Laras dengan telapak tangannya. "No, ciuman gue cuma buat Om ganteng!"
"Ck, si Om itu... Emang tuh orang hidup? Dari dulu lo ceritain dia. Tapi sampe sekarang lo juga gak ketemu sama dia. Jangan-jangan udah almarhum."
__ADS_1
Satu jitakan mendarat di kepala Laras. "Klo ngomong suka sembarangan, doi lagi di London. Gue yakin dia bakal pulang dalam waktu dekat." Mia berucap dengan mantap.
"Yakin lo?" Laras mengusap-usap bekas jitakan Mia.
"Yakin donk, soalnya tadi malem gue mimpiin dia!"
Laras memutar bola matanya malas, temannya ini benar-benar terobsesi dengan si Om ganteng. "Emang lo dukun? tau cuma gara-gara mimpi."
"Lo gak tau seh, kita berdua itu ada ikatan batin."
Laras makin meringis, semoga saja benar apa yang dikatakan Mia. Laras mencoba mengerti sahabatnya itu, apapun yang membuat Mia bahagia menjadi prioritas utamanya.
"Ok deh yang punya benang merah." Laras duduk di depan meja Mia. "Btw, dari dulu lo panggil dia Om ganteng. Gak tau nama lengkapnya?"
Mia teringat sesuatu "Kemarin gue tanya Mommy, klo gak salah namanya Angga Saputra."
Laras terlihat mengutak-atik ponselnya. "Gak ada tuh, yakin namanya itu?"
Ia mengecek sendiri di ponselnya, mencari nama Angga Saputra di jejaring sosial. Tapi tidak ditemukan orang yang sesuai dengan wajah Om ganteng yang terekam di memory otaknya.
"Aneh, kenapa gak ada ya?" Mia bergumam. (Ya iya lah gak ketemu, kan nama lengkapnya Erlangga Saputra.🙄)
"Ya udah nanti di cari lagi, kita ke kantin yuk!" Laras menarik tangan Mia keluar kelas.
🌷🌷🌷
Sampai di kantin mereka memilih tempat duduk yang nyaman. Pojok ruangan adalah spot yang Mia sukai.
__ADS_1
"Mau makan apa lo? Gue pesenin."
"Gue mau siomay, batagor sama cilok kuah. Terus minumnya es teh manis gelas gede ya, haus." Mia menuturkan pesanannya. Layaknya pelayan beneran Laras mendengarkan dengan seksama.
"Ok, 3 menu dengan 1 minuman ukuran large. Ada lagi?"
"Lo udah kaya kasir Mcd ras." Mia mengulum senyum melihat tingkah Laras.
"Gue bukan kasir, tapi manager yang lagi bantu bawahan gue."
Ingat kasir yang pakai baju seragam rapi berwarna lain dengan seragam Mcd. Itu yang di maksud Laras.
"Iya, iya Bu Manager. Boleh nitip pesenan juga gak?" Haris ikut lagi nimbrung, entah kenapa dia selalu ada dimana-mana.
"Kayak jailangkung lo! Datang gak di jemput, pulang gak ada yang anter. Males!" Sarkas Laras.
"Sensi banget lo sama gue? Kenapa seh? Nanti naksir baru tau rasa!" Haris mendaratkan bokongnya di kursi sebelah Mia.
"Eh, itu tempat duduk gue. Get out!" Laras menggerakkan jarinya kearah Haris menyuruh bangun dari kursi. "Lagian, lo bukan tipe gue. Sorry de morry deh."
"Udah ih, kapan loe pesen tuh makanan klo malah ribut ma ketu." (Ketua Kelas)
"Nih duitnya! Pesen juga yang lo mau. Gue mau cilok kuah kaya Mia." Haris menyodorkan selembar uang berwarna merah.
"Gitu donk, baru ketu yang baik. Ok tunggu ya!" Laras segera pergi memesan makanan. Haris hanya menggelengkan kepala melihat Laras menjadi jinak ketika ia memberikan uang pelicin.
Pesanan pun datang. Mereka menikmati makanan dengan tenang. Seperti biasa Laras senang melihat Mia melahap makanannya.
__ADS_1
Please vote, rate and likenya yach!
Tinggalkan jejakmu dengan komentar agar aku lebih baik lagi, enjoy!