Daddy I Love You

Daddy I Love You
DILY Bab 10 ~ Mendapat Hukuman


__ADS_3

Sudah satu jam lamanya Ritz memberi hukuman pada adik sepupunya dan juga putri angkatnya.


Keributan yang mereka timbulkan telah mengganggu ketenangan orang lain.


"Paman Radit sih ngapain pake bohong segalah sama Daddy, di hukum 'kan jadinya." Kesal Ayana tidak suka dia pun ikut mendapatkan hukuman


"Enak ajah main salahin aku, yang teriak sama nangis-nangis ngga jelas 'kan kamu gadis kecil. Udah di bilangin ngga usah main yang itu tetap ajah ngeyel, giliran kena hukuman baru ngomel-ngomel." Sahut Radit membela diri


Jika bukan gadis itu yang keukeh ingin bermain di ruangan Ritz mungkin kejadian ini tidak akan terjadi.


Kedua orang yang mendapat hukuman tersebut tidak pernah bisa diam, ada saja tingkah rusuh Ayana yang tidak terima ikut di hukum Daddy nya.


"Daddy ..."


"Dad ..."


"Daddy, sayang."


Ritz menulikan telinganya pura-pura tidak dengar saat putrinya terus memanggilnya.


"Kakak ..."


"Ayolah Kak, kakiku sangat sakit."


"Bukan aku yang ngajak main kenapa aku ikutan di hukum."


Rengekan dan keluhan adik sepupunya tidak juga dihiraukan Ritz.


Rasa sakit di kepalanya karena memikirkan masalah dengan sang kekasih belum juga hilang, sekarang malah di hadapkan dengan adik dan juga putrinya angkatnya.


"Jangan membantah, bukankah kalian sangat ingin di hukum? Lebih baik renungi kesalahan kalian dan jangan mengeluh." Ritz menatap tajam kearah dua orang yang diam menunduk


Ayana tidak henti-hentinya mengumpat kesal, hanya karena bermain di ruangan Daddy nya dan tidak sengaja merusak salah satu barang berharga milik pria itu. Mau tidak mau dia juga ikutan di hukum, ya memang salahnya juga karena tetap keukeh ingin bermain di ruangan Daddy nya.


🍀


Malam semakin larut, Ayana dan Radit yang hampir satu jam lebih di hukum membuat Ritz segera mengakhirinya dengan catatan besok Radit akan di tugaskan ke cabang perusahaan untuk menangani masalah disana, sedangkan Ayana tentu lain lagi.


Gadis cantik itu di kurung dalam kamar milik Ritz.


"Ish, Daddy jahat. Masa Paman Radit di kasih hukuman yang ringan giliran aku malah di kunci dalam kamar." Sungut Ayana menahan kesal sambil menghentakkan kakinya di lantai


Perginya Ritz entah kemana membuat gadis itu uring-uringan, mendapatkan hukuman dengan berdiam diri di kamar milik Daddy nya kadang membuat Ayana bosan, apalagi jika harus memikirkan kemana perginya pria itu.

__ADS_1


"Kalau mau ketemu tante Maira 'kan tinggal kasih tahu aku ajah, ngga perlu harus kurung aku dalam kamar seperti ini." Ucapnya Lirih menahan sesak di dalam hatinya


"Aku takan berulah jika memang Daddy ingin menemuinya, dan aku sadar di mana posisiku. Setidaknya beri tahu aku kemana Daddy pergi, jika begini pikiran ku hanya tertuju pada satu orang saja." Lanjutnya membuang napas kasar


Malam ini, Ayana di buat bimbang dengan kenyataan pahit yang menimpanya, mana mungkin pria tampan dewasa yang terpaut 15 tahun dengannya akan menjadi sandaran hatinya.


Bukankah mereka bertemu hanya karena sebuah kecelakaan, dan bisa saja jika sudah tiba waktunya sangat memungkinkan bila Ritz akan mengantarnya kembali lagi ke negara asal.


"Tahu aaa, ngga ada gunanya aku mikir yang ngga penting. Lagian toh tidak ada yang tahu seperti apa kedepannya nanti."


Gadis cantik yang sudah mengantuk itu beberapa detik kemudian langsung terlelap menuju alam mimpi.


🍀


Sementara di tempat lain, atau lebih tepatnya sebuah Club malam yang cukup terkenal dengan pengunjung yang ramai.


Beberapa pria tampan tengah duduk santai menikmati minuman beralkohol tanpa adanya gangguan dari wanita malam atau pasangan mereka.


"Gila ya si Ritz, ngga biasanya larut malam begini ngajakin kita buat ngumpul bareng. Bukannya pria dingin itu sangat sulit keluar rumah karena ada si gadis kecil cantik?" Ucap Seorang pria yang merupakan salah satu sahabat Ritz


"Ngga usah heran kalau tiba-tiba di ajak ngumpul, mana tahu mungkin ada hal penting yang akan disampaikan Ritz."


"Kita tunggu saja Ritz datang."


Keempat pria tampan yang merupakan sahabat dekat Ritz, mulai duduk santai seraya menunggu kedatangannya.


Lima menit kemudian orang yang di tunggu-tunggu akhirnya datang juga.


"Sorry aku telat." Ucap Ritz merasa bersalah sudah membuat para sahabatnya menunggu


"Ckck, abis kelonin si gadis kecil kayaknya sampai telat datang kemari." Ejek Dafa menatap malas kearah Ritz


"Bukan bro, kan ada tunangannya. Mungkin abis setor dulu baru mampir," timpal pria tampan dengan lesung pipi di sebelah kanan.


"Bisa ajah, Kal. Kalau ngomong jangan suka benar." Alga ikut meledek pria tampan tersebut


"Ngga usah pada ribut napa sih, aku malas tiap kali kita ngumpul selalu saja pada main ngurusin hidup pria dingin ini, kalian salah besar justru Ritz baru habis dari hotel bawa wanita seksi." Sahut pria ke empat yang langsung mendapat tatapan malas dari para sahabatnya


Ketiga pria yang barusan hanya menggoda Ritz langsung menyoraki satu sahabat mereka yang justru tidak ada bedanya.


"Tapi tunggu dulu, Ritz ngapain nyuruh kita semua harus ngumpul?" tanya Alga mulai bicara serius.


Ritz yang sedari sampai hanya diam belum juga buka suara membuat ke empat pria tampan di hadapannya merasa keheranan.

__ADS_1


"Kamu sakit?" tanya Dafa khawatir


"Atau ada masalah?" sambung Haikal


"Lagi berantem sama gadis kecil?" timpal Alga


"Pertanyaan kalian semua ngga ada yang benar, coba baca berita hari ini. Kalian akan tahu jika sudah melihatnya."


Seorang pria yang kebetulan sempat memainkan ponselnya tidak sengaja melihat sebuah berita yang hanya dalam beberapa menit sudah tersebar luas.


Pria tampan yang sering di panggil Kafka itu sempat dibuat terkejut dengan isi berita yang menampilkan seorang wanita cantik tengah makan malam bersama seorang pria yang cukup terkenal di kalangan para pengusaha.


"Sumpah demi apa, aku lagi ngga salah lihat kan?" Kaget Alga melihat tunangan dari sahabatnya sedang makan malam bersama pria lain di salah satu Restaurant ternama


"Tampan juga tuh orang, udah gitu kabarnya ia termasuk dalam daftar pengusaha sukses terkaya nomor dua di kota B. Meski di bilang Ritz lah yang pemegang kendali saat ini, tapi tidak menutup kemungkinan juga kalau misalnya pria itu menyukai kekasih Ritz." Timpal Dafa ikut membenarkan


"Pada bisa diam ngga sih," sentak Ritz yang akhirnya mulai angkat bicara.


"Maksud aku ngumpulin kalian bukan untuk membahas berita tersebut, ngga ada urusannya sama dia." Lanjutnya menyandarkan punggungnya di sofa


Informasi yang di terimanya beberapa saat lalu membuat kepalanya pusing, rasa takut dan gelisah menyelimuti hati dan pikirannya. Bagaimana jika semuanya benar terjadi, bukankah akan ada masalah bila sampai saat itu tiba.


Ke empat sahabatnya yang semula bingung akhirnya mulai mendengarkan semua yang dikatakan Ritz, mereka membicarakan sesuatu yang sangat penting.


🍀


Hampir jam tiga pagi Ritz baru sampai rumah, Ayana yang kebetulan di kurungnya dalam kamar tentu jam segini sudah terlelap terbuai mimpi.


Ceklek


Langkah kaki panjangnya berjalan pelan menuju arah tempat tidur, senyum tipis langsung menghiasi bibirnya kala melihat betapa nyamannya Ayana yang tidur dengan posisi menyamping.


"Sayangnya Daddy," gumam Ritz ikut merinsek naik ke atas ranjang membaringkan tubuhnya di samping sang putri.


Wajah damai gadis itu begitu menengkan hatinya yang semula sempat di landa kegelisahan, di usapnya dengan lembut pipi putih dan mulus seperti bayi tersebut.


"Kalau tidur gini semuanya aman terkendali, beda kalau lagi sadar. Serasa perang dunia ketiga tidak pernah usai."


Pria tampan itu mengecup lembut kening putrinya dengan penuh rasa sayang, setiap kali berada di dekat gadis itu selalu saja jantungnya berdetak cepat.


_Maaf jika Daddy kadang membuatmu menangis_. Ucap lirih Ritz berbicara dalam hati.


Rasa kantuk yang tidak dapat lagi di bendungnya akhirnya ikut terlelap dengan posisi memeluk putrinya. Tidak ada yang lebih nyaman selain mendekap hangat gadis kecil yang sudah tujuh tahun dijaga dan ia rawat dengan sepenuh hati.

__ADS_1


🍃🍃🍃🍃🍃


__ADS_2