
...💕💕💕💕...
Ketika Syifana memeluk penuh kerinduan pada putrinya, ada rasa hangat dan nyaman di rasakan Ayana.
Gadis cantik itu seperti memeluk sosok yang begitu di rindukannya selama ini, sedari bayi hingga usianya kini sudah menginjak 18 tahun belum pernah merasakan kehangatan akan pelukan seseorang seperti yang di lakukan oleh wanita cantik di hadapannya itu.
Perasaan apa ini Tuhan? Mengapa pekukannya terasa tidak asing bagiku. Ucap Ayana di dalam hati
.
.
Cukup lama keduanya terdiam dalam posisi saling memeluk meluapkan rasa kerinduan yang bercampur jadi satu bersama rasa sedih dan terluka.
Entah apa yang harus di lakukan Syifana saat ini, memiliki kuasa penuh atas putri yang di lahirkannya belasan tahun lalu nyatanya tidak mampu merebut dan mengambil alih gadis cantik itu dari rangkulan orang lain.
Ibu mana yang tidak merasa sedih dan kehilangan melihat cahaya hidupnya akan semakin jauh untuk di gapai.
Andai saja pria itu tidak mencari mama, mungkin sekarang kita berdua bisa bersama putri ku, sayang. Bathin Syifana lirih
.
.
.
Hampir setengah jam lamanya Ayana berdiam diri dalam dekapan penuh kehangatan dari wanita cantik yang sering di panggilnya dengan sebutan Bibi Cantik, di rasa sudah cukup baru gadis cantik itu mengurai pelukannya seraya tersenyum manis ke arah Syifana.
Tangan lembut wanita itu mengusap sayang kedua pipi sang putri, meski berat melepaskan bukan berarti dia menjadi seorang ibu yang egois.
Mata Syifana tanpa sengaja melihat sebuah kalung yang melingkar indah di leher Ayana, perlahan jemari lentiknya terulur memastikan benda yang begitu familiar baginya.
Kalung itu? Bathin Syifana
.
.
__ADS_1
"Kalungnya cantik sekali, sayang." Puji Syifana ketika kalung itu sudah terlihat
"Benarkah? Kata Daddy ini pemberian ibu kandung Ayana, pernah sekali terjatuh waktu tidak sengaja Ayana berlari dan menabrak beberapa orang di jalanan." Sahut Ayana begitu antusias
"Terus?" tanya Syifana penasaran akan cerita sang putri
"Ayana nangis pas tahu kalungnya terjatuh, untung ada Daddy yang nemuin di jalan." Jawabnya sambil tertawa lucu
"Bibi Cantik tahu tidak, pas Daddy nemuin kalung milik Ayana di jalan waktu itu sempat berantem dengan seorang gadis cantik, dia dengan percaya diri mengaku jika kalung itu miliknya, sampai nekat fitnah Daddy di katain pencuri." Curhat Ayana
"Dan mereka percaya?" tanya Syifana semakin asik mendengar celotehan putrinya.
Gadis cantik itu menggeleng cepat.
"Yang ada malah gadis itu yang di teriakin orang-orang, hampir semua orang yang ada di sana begitu mengenal siapa Daddy. Mustahil kalau sampai ada yang nuduh Daddy sebagai pencuri, mana itu kalung ada nama Ayana jelas bangat lagi." Kekeh si cantik kesayangan Ritz
Tanpa sadar senyum bahagia menghiasi wajah cantik Syifana kala melihat sang putri begitu senang dan nyaman berbicara dengannya.
Seandainya ayah kandung mu bukan berasal dari keluarga yang haus akan kekuasaan, lebih baik tetap biarkan semuanya seperti ini. Kata Syifana dalam hati
...****...
Telat sedikit saja mungkin keberadaan wanita itu dan Ayana di temukan dengan cepat oleh orang suruhan dari pria misterius selaku suami dan ayah dari kedua wanita tersebut.
"Kenapa sih, papi Devan? Hampir saja jantung Ayana copot keluar waktu dengar teriakan papi dan paman Alfi." Cecar Ayana sedikit kesal karena pertemuannya bersama Bibi Cantik begitu cepat berakhir
"Ada tikus yang suka mengganggu ketenangan orang lain," sahut Devan asal.
Mata Ayana membulat sempurna, rasa penasarannya mulai timbul.
.
.
"Wih, apa kayak cacing beracun yang sering di basmi Daddy bukan?" seru Ayana menebak ucapan asal yang keluar dari mulut Devan.
"Hmm, tapi yang ini lebih berbahaya sayang. Jadi kamu lebih aman bersama Daddy, habis dari perusahaan papi mau pergi ke rumah sakit dulu." Kata Devan serius dengan mata fokus melihat ke depan
__ADS_1
Lima belas menit kemudian mobil milik Devan memasuki area perusahaan tanpa menuju parkiran, pria itu hanya menurunkan Ayana tepat di depan pintu masuk gedung pencakar langit tersebut.
"Daaah papi," teriak Ayana berlari masuk ke dalam perusahaan milik sang Daddy
Devan melajukan kembali mobilnya menuju rumah sakit, beberapa data yang penting mengenai Ayana harus di lindunginya sebelum orang lain tahu.
.
.
.
TRINGG!
Lift berhenti tepat di lantai paling atas, tiga ruangan yang tertutup rapat berjejer di depan gadis itu.
Matanya langsung tertuju pada satu pintu ruangan paling besar, kakinya melangkah pelan menuju pintu tersebut.
BRAKK!
Dengan sengaja tangan Ayana membuka pintu cukup keras, sosok tinggi tegap yang baru saja keluar dari satu ruangan pribadi sampai terlonjak kaget akibat ulah kejahilan gadis cantik itu.
"Kangen Daddy banyak-banyak," teriak Ayana melepas asal tasnya kemudian berlari ke arah Ritz.
Sejenak gadis cantik kesayangan Ritz itu melupakan kejadian semalam, di gantikan dengan rasa rindu yang begitu besar.
"Kebiasaan," tegur Ritz mencubit gemas pipi chubby gadis manjanya
"Ternyata rasa rindu mengalahkan semuanya," sahut Ayana dengan kekehan.
Ritz tersenyum manis mendengar kata rindu keluar dari bibir mungil gadis kesayangannya itu.
"Berarti marahnya udahan dong?" goda Ritz tertawa pelan.
"Hmmm, ngga kuat kalau kelamaan marah ke Daddy." Jawab Ayana jujur
Terlalu membesar besarkan masalah hanya akan merugikan diri sendiri, lebih baik Ayana diam mengalah dar pada jarus bersikap terlalu berlebihan hanya akan memperkeruh suasana.
__ADS_1
🍃🍃🍃🍃🍃