Daddy I Love You

Daddy I Love You
Hanya Ingin Sendiri


__ADS_3

...☘☘☘☘...


Ritz ikut masuk ke dalam ruangan miliknya dengan Maira mengekor di belakang, ada sedikit perasaan tidak nyaman mulai ia rasakan ketika pelukan yang tiba-tiba di berikan wanita cantik itu.


"Aku sangat merindukan mu, sayang" bisik Maira dari arah belakang punggung Ritz.


Perlahan Ritz melepaskan pelukan Maira dari tubuhnya, membuat suasana dalam ruangan menjadi dingin dan mencekam.


Pria tampan itu berdehem kecil seraya kaki panjangnya melangkah pelan menuju sofa panjang samping kamar di mana ada sang sekertaris beserta si gadis kecil kesayangannya tengah bersembunyi di dalam.


"Kenapa tidak menghubungi ku lebih dulu sebelum datang ke perusahaan?" tanya Ritz berusaha bersikap biasa, meski jauh di dalam hatinya ingin marah dan memaksa Maira agar berbicara jujur.


Maira sedikit terkejut mendapat pertanyaan semacam itu dari pria yang sampai detik ini masih berstatus kan kekasihnya.


"Apa itu perlu aku lakukan?" jawab Maria justru balik bertanya.


"Oh, ayo lah Ritz. Bukan itu yang ingin aku dengar keluar dari mulut mu," lanjutnya seraya berjalan cepat mendekat ke arah Ritz kemudian ikut duduk di samping pria tampan itu.


Susah payah Maira berusaha meyakinkan Kenzo agar memberinya izin untuk menemui Ritz kala masalah kian membesar, tetapi tanggapan yang di berikan Ritz seolah kedatangan wanita cantik itu tidak begitu penting.


"Apa selama satu bulan lebih ini kamu tidak sedikit pun merindukan ku? Bahkan ketika aku datang pun kamu seolah bersikap biasa saja," ungkap Maira mengutarakan apa yang ada dalam hatinya.


Semasa kehamilan yang memasuki minggu ke enam kadang kala mood wanita itu sering berubah-ubah, mudah menangis bila Kenzo sampai salah atau sangat sensitif pada hal-hal kecil seperti yang terjadi sekarang ini.


Dan Ritz tentu paham betul akan gerak-gerik Maira tanpa harus bertanya, ingin rasanya mengumpat kesal saking bodohnya ia selama ini ternyata hanya di perdaya oleh keserakahan yang di miliki oleh pria tua bernama Hendra atau ayah kandung kekasihnya tersebut.

__ADS_1


Aku menyayangi mu tapi caramu lah yang membuat ku ingin marah. Bathin Ritz


Di tatapnya wajah cantik Maira yang kini semakin bercahaya dan jauh lebih berseri, mungkin karena pengaruh hamil.


"Kamu menanyakan apakah aku merindukan mu selama kita berpisah?" tanya Ritz yang hanya di balas anggukan kepala dari Maira.


Sejenak hening hanya terdengar suara jarum jam yang berputar.


.


.


"Jawabannya tidak sama sekali," lanjut pria itu dengan tegas sembari menatap dingin ke arah Maira.


Sangatlah bosan mencoba tetap diam sementara di dalam kamar pribadi miliknya ada sosok cantik yang begitu ia lindungi sepenuh hati, bisa bahaya andai gadis kecil kesayangannya sampai nekat keluar kamar dan membuat keributan.


"Ada apa dengan mu, Ritz?" cecar Maira belum mengerti akan respon pria di hadapannya tersebut.


Untuk pertama kalinya wanita itu melihat betapa dinginnya sikap Ritz saat ini, hanya ada tatapan mengintimidasi yang Maira rasakan.


Tanpa sadar kedua telapak tangannya mulai mengeluarkan keringat dingin, jantungnya berdetak kencang berharap apa yang dia pikirkan salah.


"Tidak ada apa-apa, bukannya tadi kamu ingin tahu apa aku merindukan mu atau tidak dan jawabannya adalah tidak sama sekali." Jawab Ritz kembali menegaskan perkataannya


"Aku rasa itu cukup membuat akal sehatmu terbuka lebar Maira," tambahnya lagi sengaja menekan kalimatnya.

__ADS_1


Jika di dalam ruangan Ritz dan Maira tengah berbicara serius dengan sesekali pria itu memberi sindiran halus, agar wanita yang masih berstatus kan kekasihnya itu sadar.


Jauh berbeda dengan kedua anak manusia yang sejak masuk ke dalam kamar mulai heboh sendiri.


"Adek yakin ngga mau keluar?" goda Amalia sengaja ingin memancing emosi Ayana.


Si cantik yang awalnya hanya diam tidak menanggapi, kini mengalihkan fokusnya dari membaca novel menatap tajam ke arah sekertaris kepercayaan Daddy nya tersebut.


"Diamlah Aunty!" sahut Ayana sebenarnya malas meladeni.


"Bisakah Aunty membiarkan ku sendiri?" pintanya kemudian sambil menatap penuh permohonan pada wanita cantik dan anggun di hadapannya tersebut.


"Aunty tidak bisa," tolak Amalia cepat tidak ingin membiarkan gadis cantik kesayangan sang Bos sendirian di kamar.


Di luar sana pasti kedua orang dewasa tersebut tengah berdebat dan tentunya Amalia tidak ingin ambil resiko yang hanya akan membahayakan mereka.


"Cobalah untuk mengerti sayang, semua demi kebaikan Adek juga kan?" tambahnya sedikit merayu seraya mengelus sayang punggung tangan Ayana.


Tidak di sangka rayuan Amalia ternyata berhasil membuat gadis cantik kesayangan Bos-nya menurut tanpa harus ada paksaan yang mungkin akan dia lakukan jika Ayana tetap keras kepala.


"Aunty selalu bisa membuatku tidak bisa berbuat apapun," kekeh Ayana langsung berhambur ke dalam pelukan Amalia.


"Padahal tadinya Ayana hanya ingin sendiri saja di dalam kamar, tapi Aunty ngga ijinin ya udah." bisiknya pelan semakin erat memeluk tubuh langsing Amalia.


Sosok sang sekertaris yang menjadi satu-satunya kepercayaan Ritz dalam menjaga Ayana tidak bisa di ragukan lagi kelebihannya.

__ADS_1


Tatapan teduh dan penuh kasih sayang Amalia mampu meluluhkan hati Ayana jika sedang merajuk seperti sekarang ini.


🍃🍃🍃🍃🍃


__ADS_2