
...πΏπΏπΏπΏ...
Puas menjahili gadis manjanya sampai mengancam akan mengurung Ayana dalam kamar hotel andai tidak memakai cincin pemberiannya.
Akhirnya dengan segalah perdebatan kecil Ritz membawa gadis manjanya itu kembali ke Aula, mereka sudah terlalu lama menghilang.
...πΏ...
"Jika ada yang bertanya katakan saja dari toilet!" ucap Ritz santai.
"Mana ada orang akan percaya begitu saja," sahut Ayana sedikit kesal.
"Kan kita hanya pergi selama 2 jam lamanya sayang, paling juga Eyang dan lainnya tahu kemana kita pergi." Bela Ritz tidak mau di salahkan
"Lebih tepatnya Daddy sengaja mengajak ku ke tempat itu," sindir si cantik yang mulai kehabisan kata-kata menghadapi kegilaan pria tersebut.
"Itu tidak penting, kalau ada yang tanya itu cincin apa. Jawab saja cincin tunangan dari Daddy"
PLAKK!!
"Aw, sakit Baby."
"Katanya tadi di suruh jaga rahasia, kenapa malah jadi lain lagi ceritanya."
...πΏ...
...****...
Sesampainya di Aula, semua orang langsung menoleh ke arah pasangan ayah dan anak angkat tersebut, beberapa dari mereka ada yang sampai meneriaki Ritz saking tidak percaya dan tentu saja ikut bahagia.
Jangan salah, tamu undangan yang hadir dalam pesta ulang tahun Ayana bukan lah orang-orang biasa saja.
Mereka adalah para petinggi perusahaan, rekan kerja dalam bisnis, sahabat Eyang dan tentunya orang-orang kenalan Ritz sendiri.
Semuanya termasuk orang-orang kepercayaan seluruh anggota keluarga Rendra Group, jadi tidak usah takut bila nanti ada yang mengetahui sejauh apa hubungan antara Ritz dan putri angkatnya.
__ADS_1
Sang Nyonya besar sebagai pengendalinya sudah pasti satu langkah lebih dulu menjaga privasi keluarganya.
.
.
.
"Terima kasih Eyang," ucap Ritz setelah pelukan keduanya terlepas.
Mata teduh wanita baya itu langsung tertuju di jari manis Ayana, seutas senyum terukir indah di wajah cantiknya meski umur tak lagi muda.
"Kamu sudah menakutinya Ritz," kesal Eyang tak habis pikir kalau cucu kesayangannya itu ternyata bergerak sangat cepat.
"Dari awal dia memang milik ku, Eyang." Bela Ritz pada dirinya
"Eyang tahu, tapi kamu juga lihat situasinya lebih dulu sebelum mengambil keputusan."
"Aku hanya ingin mengikatnya di dekat ku, Eyang. Di dalam hati gadis itu tersimpan niat untuk segera pergi jauh meninggalkan ku, cukup membuatnya menerima cincin itu sudah bagus."
Wanita paruh baya itu hanya mampu menggelengkan kepalanya tanpa ada keinginan membalas ucapan sang cucu.
.
.
Selama wanita itu hidup, belum pernah sekalipun dia melihat bagaimana sang cucu memperlakukan dengan tulus sepenuh hati seorang gadis.
Maira saja yang jelas sudah menjadi calon istri dari cucunya tersebut, belum pernah sekalipun di perlakukan bak seorang Ratu, sebagaimana Ritz memperlakukan Ayana dengan begitu penuh kasih sayang.
"Eyang ngapain?" seru Radit dari arah belakang.
Pria tampan yang hampir mirip dengan Ritz itu merasa heran saat melihat sang Eyang duduk termenung sendirian di meja makan.
"Apa ada yang Eyang rasakan?" tanya Radit sedikit khawatir.
__ADS_1
"Tidak ada. Eyang hanya sedang memperhatikan kakak mu. Lihatlah! Bahkan ia tidak peduli dengan orang-orang di sekitarnya, fokus Ritz hanya tertuju pada gadis cantik itu." Jawab Eyang sambil mengamati Ritz dan Ayana dari kejauhan
"Berarti Eyang terlambat menyadarinya," ejek Radit merasa menang karena kali ini ia justru satu-satunya orang yang lebih tahu bagaimana kehidupan sang kakak.
"Kamu mengejek Eyang?" sentak wanita baya tersebut memelototi cucu keduanya.
Dia tidak terima kalah cepat menyadari sifat diam dan abu-abu sang cucu kesayangan yaitu Ritz.
"Sudahlah Eyang, mengalah sedikit untuk cucu mu ini apa susahnya sih? Lagi pula Eyang tetap akan mengetahuinya dari mulut ku sendiri tanpa harus susah paya menyewa orang-orang itu untuk mencari tahu." Papar Radit memberi pengertian pada wanita baya kesayangannya bersama sang kakak.
Mau tak mau Radit harus ekstra sabar menghadapi sikap cemburu sang Eyang, semua ini tidak akan terjadi andai ia sendiri memilih untuk diam saja barusan.
Gini amat punya satu wanita yang cemburuan, padahal aku hanya menang sedikit masih saja di cemburui, dasar Eyang posesif. Ucap pria itu dalam hati
...****...
Hampir pukul 3 dini hari, acara pesta ulang tahun baru selesai.
Banyaknya tamu undangan bukan lagi hal baru di keluarga Rendra, hampir tiga sampai empat kali dalam setahun mereka akan mengadakan pesta.
Tentu semua tidak jauh dari perayaan ulang tahun anggota keluarga Rendra sendiri, dan Ayana pun bukan baru kali ini ulang tahunnya ikut di rayakan.
Selama menjadi anak angkat dari pewaris tunggal harta kekayaan Rendra Group, gadis itu sudah terbiasa menerima semua kemewahan yang ada.
Jadi tidak heran bila setiap kali ada acara baik itu berasal dari pihak luar atau keluarga Rendra sendiri, Ayana sudah di kenal banyak orang.
Tentu Ritz yang sengaja memperkenalkan gadis cantik tersebut.
Bila jauh sebelumnya ia akan memperkenalkan Ayana sebagai putri angkatnya, tentu lain hal lagi dengan malam ini.
Di pesta ulang tahun sang tuan putri yang ke 18 itu, dengan santainya Ritz mengatakan kalau Ayana merupakan calon istrinya di masa depan.
Kaget? Tentu saja semua orang akan kaget dengan kebenaran tersebut.
Akan tetapi, semuanya cukup menjadi pendengar yang baik.
__ADS_1
Perihal masalah keluarga rekan bisnis mereka tersebut, biarlah itu menjadi urusan sang pewaris tunggal Rendra beserta keluarganya.
ππππ