Daddy I Love You

Daddy I Love You
Siapa Yang Hamil?


__ADS_3

...🌿🌿🌿🌿...


Pukul 03 pagi Ayana terbangun, dia merasa lapar yang luar biasa menyiksa.


Padahal saat makan malam, gadis itu banyak makan juga ada beberapa cemilan yang sengaja di siapkan Ritz habis tak tersisa.


Susah payah Ayana membuka mata sambil menyesuaikan cahaya lampu tidur, pandangannya langsung tertujuh ke arah balkon dimana terdengar suara seseorang tengah berbicara.


Ayana menajamkan indra pendengarannya tanpa berniat untuk menghampiri ke arah sumber suara.


Samar-samar suara yang sangat familiar terdengar seperti memarahi seseorang, rasa penasaran membuat Ayana turun dari ranjang dan melangkah pelan menuju balkon.


...****...


#Di Balkon Kamar Ayana


Beberapa saat yang lalu ponsel milik Ritz berdering, seseorang yang selama ini menjadi kepercayaannya tiba-tiba saja menghubungi.


Tidak tahu apa yang ingin orang itu sampaikan membuat Ritz bangkit dari tempat tidur menuju balkon.


"Hallo,"


".........."


"Ada apa tiba-tiba menghubungi ku di jam begini?"


".........."


"Jangan memberikan informasi yang salah jika masih sayang dengan nyawa mu,"


".........."


"Benarkah yang kamu lihat itu?"


".........."


"Katakan siapa yang dia temui?"


".........."


****


Sejenak Ritz terdiam setelah menerima laporan dari orang suruhannya yang sengaja ia perintahkan untuk mengawasi seseorang.


Sedikit banyak yang ia ketahui dari informasi tersebut mampu memancing emosi dalam dirinya.


"Siapa pria itu?"


".........."


"Kamu yakin dia pergi ke rumah sakit beberapa hari lalu?"


".........."


"Terus awasi! Pastikan semua informasinya real, jika memang dia tengah hamil"

__ADS_1


"Satu lagi,,,"


Tuutt!


Belum sempat Ritz menyelesaikan ucapannya dari arah kamar terdengar suara khas bangun tidur Ayana.


Pria itu sontak membalikkan badannya agar bisa melihat gadis manja kesayangannya tersebut.


Semoga saja gadis ku tidak mendengar apa yang aku katakan barusan. Bathin Ritz berharap


.


.


Akan tetapi, harapan tinggal lah harapan karena Ayana justru mendengar hampir semuanya.


"Sayang," panggil Ritz segera mendekat ke arah si cantik manja kesayangannya.


Wajah bangun tidur Ayana nampak cantik dan alami, membuat jantung Ritz berdetak tidak karuan.


"Kenapa bangun sayang?" tanya Ritz setelah sampai di depan gadisnya.


"Daddy kok bisa ada di sini, terus tadi lagi telefon dengan siapa?" bukannya menjawab pertanyaan dari Ritz, justru Ayana balik bertanya.


CUP, CUP, CUP.


Ciuman bertubi-tubi Ritz layangkan di wajah cantik Ayana.


Ia tahu sebenarnya apa yang di pikirkan gadis manjanya sekarang.


"Tadi pas nungguin Ayana tidur, Daddy juga ikutan tidur saking nyamannya meluk Ayana." Jawab Ritz terkekeh


Pria tampan itu mengangguk pelan pertanda iya.


"Terus yang bicara di telefon tadi siapa? Jawab jujur!" mata gadis itu tidak lepas dari wajah tampan pria kesayangannya.


"Kemarilah! Sebaiknya kita masuk ke dalam kamar dulu sebelum Daddy menjawabnya, OK."


Ritz membawa Ayana dalam gendongannya kemudian masuk ke dalam kamar, hawa dingin menembus kaos tipis yang pria itu kenakan.


Sesampainya di dalam kamar, Ritz segera menurunkan tubuh mungil Ayana di atas ranjang.


"Sekarang jawab pertanyaan Ayana barusan!" sosor Ayana tidak sabaran.


"Benar-benar tidak bisa di bohongi," kekeh Ritz merasa gemas sampai mencubit pipi chubby gadis itu.


"Ish, ayo jawab Daddy!" sentak Ayana mulai kesal.


Gadis cantik yang mulanya terbangun karena merasakan lapar secara tiba-tiba entah sudah hilang kemana, sekarang yang ada hanya rasa penasaran dengan siapa sang Daddy berbicara di telefon.


"Daddy habis terima laporan dari orang suruhan Daddy, sayang." Jelas Ritz akhirnya di jawab


Ayana mengangguk paham namun sedetik kemudian dirinya kembali bertanya dengan nada sedikit tinggi.


"Nah, tadi Ayana sempat dengar Daddy menyebut soal tas,, tas,, aduh apa ya kok bisa lupa sih" kesalnya lagi karena lupa dengan apa yang di sebut Ritz tadi.

__ADS_1


"Taspack maksudnya?" tebak Ritz tepat sasaran.


"Haa, itu dia. Tadi kenapa Daddy sebut benda itu? Bukannya itu benda yang biasa di gunakan oleh wanita?"


"Iya benar," jawab Ritz singkat.


"Terus kenapa Daddy,,"


Belum sampai kalimatnya selesai mata Ayana langsung melotot sempurna dengan rahang mengeras, kilat amarah terlihat jelas di matanya yang seakan baru saja mencerna sesuatu.


"Katakan siapa?" tanya Ayana penuh penekanan.


"Jawab Daddy!" lanjutnya setengah berteriak membuat Ritz sampai tersentak kaget.


Pria tampan itu mengusap pelan dadanya akibat teriakan singa betina.


Mampus kau, Ritz. Betapa bodohnya dirimu yang berani menerima telefon di dalam kamar gadis itu. Bathin Ritz takut


Maju kena mundur juga kena, di jawab salah ngga di jawab nanti sang empu mengamuk padanya.


"Kenapa diam? Ayana nyuruh Daddy buat jawab bukannya malah diam kayak orang bisu," omel si cantik mulai kehilangan batas kesabarannya.


"Tapi sayang, janji dulu jangan marah kalau Daddy jawab, OK." Pinta Ritz memelas


"Tergantung jawaban yang akan Daddy ucapkan," balas Ayana terkesan dingin.


Pria tampan itu sampai menelan salivanya kuat-kuat saking takutnya melihat raut wajah marah sang pujaan hati.


"Siapa yang hamil Daddy, sayang?" tanya Ayana untuk kesekian kalinya.


DEG!


Jantung Ritz rasanya ingin melompat keluar dari tempatnya, pertanyaan gadis kesayangannya seolah petir di siang bolong.


"Sayang," lirih Ritz ketakutan.


"Ayo di jawab dong tuan tampan ku tersayang,," bisik Ayana sedikit mengerikan menurut Ritz.


"Daddy,," panggilnya lagi.


Sudah terlanjur basah lebih baik ikut sekalian mandi.


"My Prince Handsome," bisik Ayana lagi terdengar menakutkan.


"Jawab!" teriaknya tiba-tiba, tidak peduli sudah sepucat apa wajah tampan Ritz, bahkan mulut pria itu sedikit menganga saking takutnya pada Ayana.


"Di jawab atau,,,"


Belum sempat gadis itu meneruskan ucapannya, apa yang keluar dari mulut Ritz semakin menyulut emosi dalam diri Ayana.


.


.


Maira!

__ADS_1


πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ


Mampus si Daddy.😝😝


__ADS_2