
...πΊπΊπΊπΊπΊ...
Sampai di FILA yang sengaja tidak di beritahu Ritz pada putrinya, sepasang suami istri berusia sekitar setengah Abad terlihat sudah menyambut mereka di depan pintu masuk.
Dengan cepat Ritz turun lebih dulu dari mobil, membukakan pintu bagian samping untuk Ayana, senyum manis mengembang di bibir mungil gadis itu kala melihat tempat yang baru di datanginya.
"Ini FILA milik siapa, Dad?" Tanya Ayana tanpa menoleh ke arah Ritz
"Kalau Ayana suka, Daddy bisa menjadikan FILA ini milikmu." Jawab Ritz tersenyum
"Benarkah? Asal Daddy ngga bohong ajah, Ayana suka suasananya. Sejuk, nyaman dan bisa membuat siapa saja merasa tenang bila datang kemari."
Si cantik yang terpesona dengan keindahan sekitar FILA terus saja berucap kagum dan begitu bahagia, Ayana tidak menyangka akan di bawa kemari.
"Mau masuk dulu atau jalan-jalan lihat pemandangan sekitar?" Tanya Ritz begitu gemas melihat tingkah lucu dan kekanakan putri angkatnya
"Masuk ajah yuk Dad, takut keburu malam apalagi sekarang udah mau Maghrib." Jawab Ayana memilih masuk ke FILA
Pasangan ayah dan anak angkat tersebut akhirnya masuk ke dalam FILA, keduanya langsung menuju kamar masing-masing guna membersihkan diri.
Tepat jam makan malam, Ayana baru keluar dari dalam kamarnya. Dia tidak membiarkan sang Daddy masuk meski pria tampan itu berkali-kali merengek, baru saja pintu kamar di buka Ayana secara perlahan, nyatanya di depan kamar sudah ada Ritz dengan tampang wajah masam.
"Lah, Daddy ngapain berdiri di situ? Kirain tadi sudah pergi." Kaget Ayana seraya menutup pintu kamarnya dari luar
"Jahat bangat sih, masa Daddy ngga boleh masuk." Ketus Ritz masih memperlihatkan mimik wajah masam
"Jangan aneh-aneh deh, Dad. Meski kita hanya liburan berdua saja, bukan berarti Daddy seenaknya. Ingat apa kata Eyang, di antara kita harus ada batas dalam berinteraksi. Apalagi,," Ucapan Ayana terhenti
"Sudahlah Dad, lebih baik kita turun ke bawah untuk makan malam!" Lanjutnya berjalan lebih dulu meninggalkan Ritz yang masih berdiri di depan kamar
Bukan maksud Ayana menghindar apalagi sengaja menjaga jarak dari pria tampan yang teramat sangat di sayanginya, kembali mengalami gangguan sampai masuk rumah sakit bahkan di operasi bukan berarti Ayana tidak menyadari dimana posisinya sekarang.
Ayana hanya ingin membiasakan hatinya agar tidak terlalu dalam menyelam, rasa sayang yang terlampau jauh coba gadis itu alihkan ke tempat lain, hatinya terlalu sakit bila harus terlihat masa bodoh dengan semua kejadian yang terus saja datang mendekatinya.
Sepanjang perjalanan menuju ruang makan, Ayana berusaha menahan rasa sesak di dadanya. Dia rindu kebersamaan mereka yang dulu, dia rindu bersikap manja seperti dulu, dia rindu masa-masa dimana sebelum pria yang paling di sayanginya sepenuh hati memiliki seorang kekasih yang sebentar lagi akan menikah.
Ingin egois tapi hatinya tidak bisa melalukan semua itu, terlalu lama memendam sebuah rasa yang tidak terbalaskan bagai racun mematikan yang di simpannya sendiri.
__ADS_1
Maafkan Ayana, Dad. Sungguh bukan maksud ku ingin menjauhi mu, di antara kita terlalu besar dinding penghalang sebagai pemisah. Aku takut menyakiti hatimu bila tahu bagaimana sifat asli dari putri yang Daddy sayangi dan banggakan ini.
Ayana menjerit dalam hati meluapkan semua rasa yang bersemayam dalam jiwa dan raganya.
Tidak ada lagi air mata yang menjadi saksi bisu betapa tersiksanya menjadi bayangan semu yang mustahil untuk di gapai, jurang pemisah yang tercipta semenjak kehadiran seorang wanita dalam hidup Ritz, menjadi satu-satunya alasan Ayana untuk mundur secara perlahan.
Dia butuh bahu seorang ayah untuk di jadikan sandaran, dia butuh pelukan hangat seorang ibu sebagai penenang luka hatinya. Akankah keinginannya terpenuhi? Sedangkan yang dia tahu selama ini kedua orang tuanya tidak di ketahui keberadaannya.
Si cantik yang terus saja melamun sampai di ruang makan, harus di panggil Bi Nani.
"Loh, ini cantik-cantik kok jalannya ngelamun." Tegur Bi Nani seraya menyentuh lengan Ayana
"Aaa, maaf Bibi. Tadi Ayana keasikan ngelamun," Kekeh si cantik tak enak hati
"Jangan di biasakan melamun apalagi Non Ayana baru saja sembuh, untung lagi ngga keluar jalan-jalan. Gimana kalau pas lagi di jalan dan Non Ayana melamun kayak tadi kan bisa bahaya, sukur-sukur kalau jatuhnya kesandung batu, tapi kalau jatuh di tabrak kendaraan kan runyam jadinya." Omel Bi Nani bagai sedang menegur anaknya sendiri
"Iya maaf, Bi. Janji deh ngga bakal kayak gitu lagi, habisnya terlalu banyak yang ada di otak." Elak Ayana
Bi Nani sampai menggelengkan kepalanya melihat kelakuan putri angkat dari sang majikan.
Seandainya takdir tidak mempermainkan kehidupan kalian, mungkin Bibi akan sangat bahagia jika kalian menjadi pasangan yang sesungguhnya. Bi Nani berbicara dalam hati
Makan malam berlangsung dengan tenang tanpa adanya obrolan, selama makan sikap diam Ayana mengundang banyak pertanyaan di otak Ritz.
Usai makan malam, Ayana lebih dulu meninggalkan ruang makan tanpa menunggu sang Daddy.
Ayana duduk bersandar di sofa panjang sambil bermain ponsel, banyaknya pesan masuk dari sang sahabat mengundang tawa gadis itu.
#Isi Pesan
@LettaπΉ
(Tega bangat sih, Aya. Ninggalin aku yang manis ini pergi liburan ke FILAπ)
(Aku juga mau di ajak liburanπ Jahat kamu, Aya. Pulang nanti aku ngga mau bicara sama kamu.π)
(Eitss, tunggu dulu. Kamu serius liburan cuma berdua ajah bareng Om Ritz?π² Ngga takut mulut sucimu itu kelepasan jujur?π)
__ADS_1
(Hati-hati loh, Aya. Kadang cuma berdua ajah bisa timbul perasaan lain, apalagi sikap Om Ritz ke kamu sangat sulit di prediksi.π)
(Pulang ajah yuk, Aya. Sungguh aku takut kamu bisa kebablasan ungkapin perasaan yang selama ini terpendam, eyyaa.π )
(Pulang Aya!π¬ Cinta yang bertepuk sebelah tangan itu kadang bisa membuat kita nekat, aku takut kelakuan bar-bar kamu keluar.π©)
...*****...
Asik membaca isi pesan dari Letta, sampai tidak sadar jika Ritz sudah duduk di samping Ayana. Terlalu sibuk membalas setiap pesan yang masuk entah dari siapa ajah, membuat fokus Ayana sama sekali tidak terganggu.
Eheemmm!
Deheman lumayan kuat dari Ritz, sukses mengagetkan Ayana.
"Ish, Daddy ngapain coba datang-datang langsung duduk menempel begitu." Kesal Ayana hampir saja isi pesannya dengan Letta di lihat oleh Ritz
"Tadi masuk kamar ngga boleh, sekarang cuma duduk ajah sampai harus protes juga, apa Daddy tidak boleh dekat-dekat dengan mu lagi?"
Pertanyaan yang di lontarkan Ritz, mampu menghentikan aktifitas Ayana bermain ponsel.
"Kamu aneh, sayang. Semenjak kejadian itu, Daddy tidak lagi melihatmu sebagai Ayana putri manja Daddy, sikapmu berubah tidak lagi sama seperti dulu."
"Apa Daddy tidak menjadi prioritas utama lagi dalam hidupmu? Rasanya ada yang hilang saat sikapmu seakan ingin menjaga jarak dari Daddy, sebegitu bencikah kamu pada Daddy? Sampai harus mengabaikan Daddy seperti ini."
Ritz bangkit dari duduk kemudian pergi begitu saja meninggalkan putrinya.
Tanpa di minta air mata Ayana jatuh megalir deras membasahi wajah cantiknya, ingin rasanya dia berlari mengejar Ritz dan memeluknya erat. Akan tetapi, Ayana menahan diri untuk tidak melakukannya.
Sebelum datang kemari, Ayana sudah membuat rencana selama mereka liburan. Dia ingin melihat bagaimana tanggapan Ritz ketika melihat perubahan sikapnya yang terbilang ini pertama kali di lakukannya.
.
.
.
.
__ADS_1
πππππ
Like & Komennya jangan lupaπππ