
...πΊπΊπΊπΊπΊ...
Di dalam pesawat mata Ayana tidak berhenti mengeluarkan air mata, entah kenapa dia bisa merasakan akan ada sesuatu yang terjadi.
Jangan buat hatiku gundah Tuhan, jika kami memang di takdirkan untuk terus bersama, maka mudahkanlah.
Ayana terus berdoa dalam hati, setiap harapan yang selalu dia panjatkan tidak jauh dari sosok yang sangat di sayanginya.
Lamunannya langsung buyar kala sebuah tangan menepuk pelan lengan kirinya.
"Papi Devan." Kaget Ayana melihat sahabat dari Daddy nya
"Kenapa kaget ya?" Kekeh Devan tanpa dosa
"La, Eyang mana? Kok mala jadi papi yang duduk di sini?" Heran Ayana bertanya sambil mencari sosok wanita baya kesayangannya
"Tuh, lagi duduk di belakang. Eyang mau istrirahat, kalau duduk dekat kamu ngga akan tenang." Tunjuk Devan di kursi bagian belakang
Ayana mencebikkan bibirnya mendengar jawaban dari Devan.
"Daddy mu tadi kirim pesan, katanya kalau sudah tiba segera menghubunginya." Sambung Devan memberitahu
"Takut Eyang marah?" Tanyanya seakan paham kegelisahan Ayana
"Takut lah papi, biar bagaimanapun Eyang sudah melarang kami saling komunikasi." Jawab Ayana lirih
Hanya membayangkannya saja hati Ayana seakan tersiksa, sehari tanpa kabar dari Daddy nya membuat hati dan pikiran Ayana terganggu.
Devan terus mengajak Ayana bicara demi mengalihkan perhatian gadis itu, kupingnya sangat gatal bila terus mendengarkan gumaman Ayana.
"Ayana kebelet pipis." Bisik Ayana pelan
"Jalan sedikit ke belakang, nanti ada pramugari yang akan membawa Ayana ke toilet." Tunjuk Devan mengarahkan Ayana
Tanpa menunggu lama Ayana langsung berjalan ke arah belakang, di lihatnya seorang wanita cantik memakai seragam pramugari tengah berdiri di depan pintu.
"Maaf kak, bisa antar Ayana ke toilet?" Pinta Ayana sedikit malu
"Boleh dong cantik, mari kaka antar." Sahut wanita tersebut seraya menuntun Ayana
Sesampainya di depan toilet, Ayana meminta wanita itu kembali tidak lupa mengucapkan terima kasih karena sudah mengantarnya.
Lima menit kemudian Ayana keluar dengan perasaan lega, matanya tidak sengaja melihat seorang wanita yang hampir terjatuh.
Dengan langkah cepat dia berjalan menuju wanita tersebut, entah apa yang terjadi.
"Nyonya tidak apa-apa?" Tanya Ayana sedikit khawatir
Mata wanita itu menatap lekat manik mata Ayana, seulas senyum menghiasi wajah cantiknya.
"Aku tidak apa-apa hanya sedikit pusing saja." Jawab wanita itu tanpa mengalihkan tatapannya
__ADS_1
"Di mana tempat duduk Nyonya? Biar saya antar." Tanya Ayana sambil membantu wanita itu berdiri
Wanita tersebut belum menjawab pertanyaan Ayana, matanya terus menatap lekat wajah cantik alami yang di miliki gadis itu.
Entah kenapa ada rasa yang tidak asing bersemayam dalam hatinya, seperti mengenal sosok cantik yang masih setia tersenyum ke arahnya.
"Kamu tidak keberatan mengantar ku?" Jawab wanita tersebut
"Tentu saja tidak Nyonya, bagaimana kalau anda tiba-tiba merasa pusing lagi. Saya khawatir anda bisa saja pingsan di sini tanpa ada yang tahu." Balas Ayana dengan tersenyum manis
"Baiklah, kalau begitu maaf merepotkan mu." Ucap wanita tersebut menerima bantuan Ayana
Dengan senang hati Ayana menuntun wanita itu sampai ke tempat duduk yang ternyata tidak jauh dari tempatnya.
"Terima kasih ya, kalau ngga ada kamu mungkin saya sudah terjatuh." Tutur wanita itu
"Sama-sama Nyonya, kebetulan tempat duduk saya berada di bagian depan." Balas Ayana
"Kalau begitu, saya permisi dulu Nyonya. Takut Eyang dan papi mencari saya karena lama." Pamit Ayana
Baru saja akan melangkah pergi, tiba-tiba wanita itu kembali bersuara.
"Siapa namamu?" Tanyanya
Ayana kembali menoleh ke arah tempat di mana wanita itu duduk.
"Rindayana Rendra, panggil saja Ayana." Jawab Ayana singkat
"Ayana, nama yang sangat cantik seperti orangnya." Gumam wanita itu pelan namun masih bisa di dengar Ayana
"Tidak ada, saya hanya ingin tahu namamu. Mungkin di kemudian hari kita akan bertemu kembali." Balas wanita itu sedikit sungkan bertanya lebih
"Baiklah, kalau begitu salama kenal Nyonya. Semoga kita bisa bertemu lagi." Ucap Ayana kemudian kembali melanjutkan langkahnya menuju tempat duduk
Dari arah jauh Devan melihat interaksi antara wanita asing itu dengan Ayana, sedikit yang Devan tahu jika wanita cantik yang sedang berbincang dengan Ayana bukanlah orang biasa.
"Papi Devan." Panggil Ayana saat sudah tiba di hadapan Devan
"Apa yang papi lihat?" Lanjut Ayana bertanya
Dia begitu penasaran dengan orang yang di perhatikan Devan.
"Aaa, tidak ada. Oh iya, kenapa lama sekali ke toilet? Tidak mungkin kamu sampai muntah, kan?" Jawab Devan sengaja mengalihkan topik pembicaraan
Ia tidak ingin sampai Ayana tahu dengan siapa gadis itu bertemu barusan, bukankah selama ini informasi mengenai wanita itu sangat rahasia dan tertutup? Lalu mengapa sekarang justru tiba-tiba muncul? Pikir Devan
"Papi bisa duduk di kursi Ayana? Tukaran tempat mau ya." Pinta Ayana memelas
Mata Devan menatap tajam ke arah gadis itu.
"Bukankah sama saja mau duduk di dekat jendela atau di tempat papi." Cebik Devan
__ADS_1
"Oh, ayolah papi. Jangan mencari alasan lagi, memangnya papi pikir Ayana tidak tahu siapa orang yang sejak tadi papi perhatikan." Kesal Ayana
"Cih, benar-benar mengganggu ketenangan orang lain." Ketus Devan akhirnya mengalah dan berpindah tempat
Selama perjalanan Ayana memilih tidur agar otak dan hatinya kembali tenang, bayangan wajah tampan milik sang Daddy terus berputar di benaknya.
...****...
#Australia
Dua jam perjalanan akhirnya mereka tiba juga di negara tetangga tersebut.
Sudah ada dua buah mobil yang menjemput kedatangan mereka, tujuan utama yaitu kediaman milik salah satu sahabat Eyang.
"Ayana." Panggil Devan berbisik
Gadis itu refleks menoleh ke arah samping dimana Devan tengah duduk sambil memperlihatkan layar ponselnya.
"Daddy kirim pesan?" Tanya Ayana ikut berbisik
Ada rasa bahagia menyelimuti hati Ayana kala mengetahui pria tampan yang sangat di sayanginya ternyata tidak berbohong.
Sesekali matanya melirik ke arah depan dimana Eyang tengah duduk tenang tanpa merasa terganggu.
"Nanti Eyang akan mampir sebentar di Restaurant tidak jauh dari sini, kalian langsung menuju rumah milik sahabat Eyang." Ucap Eyang tiba-tiba
Devan dan Ayana saling pandang seraya tersenyum kemenangan.
"Baik, Eyang." Sahut keduanya secara bersamaan
Mobil berhenti tepat di depan Restaurant, Eyang kuluar dari dalam mobil setelah berpesan pada orang suruhannya untuk mengantar Devan dan Ayana sampai rumah dengan selamat.
Dua puluh menit kemudian akhirnya mereka sampai juga di rumah milik sahabat Eyang, terlihat sangat besar dan luas.
"Terima kasih, paman." Seru Ayana langsung berlari masuk ke dalam rumah sambil membawa ponsel milik Devan
Rasa tidak sabar ingin segera menghubungi sang Daddy membuat gadis itu hampir saja terjatuh jika salah satu pelayan wanita tidak cepat menahan tubuhnya.
"Jangan berlari sembarangan Nona, kalau sampai terjatuh nanti bisa di marahi Nyonya besar." Ucap pelayan tersebut mengingatkan
Ayana tersenyum sembari menutupi rasa malunya, baru saja ingin berbicara tiba-tiba ponsel milik Devan berbunyi.
"Maaf Bibi, lain kali Ayana akan hati-hati." Sahut Ayana sudah berlalu meninggalkan pelayan tersebut
Dengan cepat Ayana mengangkat telefon dari sang Daddy, berharap semoga tidak ada yang tahu dan melaporkannya pada Eyang.
.
.
πππππ
__ADS_1
Maaf ya baru bisa up lagi, kemarin lagi kurang enak badan.π
Like dan komennya yuk ikut ramaikan.ππ