
Sampai di perusahan, Ritz segera menaiki lift menuju lantai paling atas dimana ruangannya berada.
_Tring_
Pintu lift terbuka lebar, dengan cepat pria itu masuk kedalam ruangannya sambil mencari-cari keberadaan Ayana.
"Kemana gadis itu pergi," gumamnya terus mencari sampai matanya tertuju pada satu pintu yang terbuka sedikit.
Dengan langkah tergesa ia masuk kedalam ruangan pribadinya yang selama ini belum pernah di masuki sang kekasih selain Ayana putri kesayangannya.
Dari arah pintu dapat di lihat Ritz bagaimana posisi Ayana yang tertidur pulas, dres selutut yang gadis itu kenakan sedikit tersingkap ke atas memperlihatkan sebagian paha mulusnya yang putih bersih.
"Anak gadis siapa sih ini," gemas Ritz melangkah pelan kearah ranjang dimana putrinya masih terlelap.
Satu kecupan mendarat sempurna di bibir Ayana, membuat gadis itu menggeliat kecil tanpa membuka matanya.
"Hey, bangun sayang." Bisik Ritz tepat ditelinga putrinya
Sesekali hidungnya memainkan pelan daun telinga putrinya, aroma harum yang menyeruak dari area leher gadis itu membuat Ritz sedikit terpancing.
_SIAL_. Umpatnya dalam hati
Pria itu kembali keluar kamar menuju meja kerjanya dengan perasaan yang aneh.
Setiap kali ia berada di dekat putrinya beberapa waktu terakhir ini, seperti ada perasaan aneh yang mulai timbul di hatinya.
Jika dulu saat Ayana tidak sengaja membaca pesan atau menerima telefon dari kekasihnya, dengan cepat Ritz akan pergi menemui wanita itu tanpa berpikir dua kali.
Tidak peduli akan seperti apa tanggapan dari putrinya yang mungkin sedikit merasa cemburu. Namun berbeda dengan sekarang. Melihat raut wajah muram Ayana membuat hati Ritz mencelos, ada perasaan tidak tega dan juga rasa bersalah yang besar timbul di hatinya.
_Ada apa denganku?_ DeSahnya berbicara dalam hati sembari menerawang jauh kedepan
Lumunannya buyar saat bunyi dering ponsel di saku celananya semakin kuat.
Satu nama yang selalu menjadi tempat Ritz mencurahkan segalah keluh kesahnya, saat ini terpampang indah di layar ponsel miliknya.
(Eyang)
Dengan cepat Ritz menjawab panggilan telepon tersebut.
"Hallo Eyang."
[Dasar anak nakal kemana saja kamu?]
"Ada apa Eyang?"
[Apa aku harus menunggu sampai lumutan di Bandara?]
"Maksud Eyang, Eyang di Bandara sekarang?"
__ADS_1
[Dua puluh menit, jika kamu tidak sampai dalam waktu dua puluh menit. Eyang akan bawa Ayana pergi darimu]
Tuttt.
🍀
Ritz tersentak kaget mendengar ancaman yang diberikan oleh wanita baya kesayangannya, tanpa menunggu lama lagi ia kembali masuk ke dalam kamar langsung meraih tubuh langsing putrinya yang masih terlelap.
Tidak adanya pergerakan dari gadis itu membuat Ritz lebih muda melangkah cepat menuju lift yang sudah dibuka oleh sekertarisnya.
"Si Tuan putri kenapa lagi, Bos?" Tanya Amalia penasaran
"Ketiduran, dari tadi dibangunin ngga bangun-bangun." Jawab Ritz singkat tanpa menoleh kearah Sekertaris nya
"Kamu ikut pergi ke bandara," titahnya.
"Untuk apa kita pergi ke bandara?"
"Eyang sudah kembali, pastikan semua masalah yang ada di perusahaan sudah selasai sebelum jam pulang kerja."
Glek
Tenggorokan Amalia tercekat seperti ada ribuan jarum yang menusuknya.
_Mampus Nyonya Besar sudah datang._ Teriak Amalia dalam hati
_Tring_
Dengan hati-hati pria itu masuk ke dalam mobil meski sedikit kesulitan sebab Ayana tidak terganggu sama sekali.
"Ke bandara, Pak!" Titah Ritz
Kereta besi itu keluar area parkiran melesat dengan kecepatan di atas rata-rata membela jalan raya yang sedikit macet.
Waktu yang mulai beranjak sore tentu membuat suasana jalan raya dipenuhi kendaraan yang berlalu lalang.
Masih ada lima menit sebelum waktu yang ditentukan sang Nyonya Besar Bachtiar pada Ritz, kini mobil yang mereka tumpangi sudah tiba dikawasan bandara.
Si gadis cantik yang kebetulan juga sudah bangun dari tidurnya dengan cepat merapikan diri sebelum ikut turun dari mobil.
"Lah Daddy mana Aunty?" Tanya Ayana bingung saat keluar dari mobil tidak menemukan Daddy nya
"Lari tadi sama Paman sopir," jawab Amalia santai berjalan anggun menyusul sang Bos.
"Ayana capek, Aunty." Rengek si gadis manja mulai menjadi
"Aunty gandeng ya, tapi janji jangan rewel kalau ketemu Nyonya Besar, OK." Rayu Amalia berharap gadis itu mengerti
"Nyonya Besar, siapa?" Tanya Ayana penasaran juga bingung sebab selain Mama Ritz yang sering dipanggilnya dengan sebutan Mami, siapa lagi nyonya besar yang di maksud Amalia.
__ADS_1
"Itu loh, Grandma si Bos yang tinggal di Amerika. Sekarang beliau sudah kembali dan katanya akan tinggal lebih lama disini." Jelas Amalia pada putri kesayangan Bos-nya
🍀
Di tempat lain atau lebih tepatnya ruang tunggu dimana seorang wanita baya yang masih kelihatan segar dan cantik itu, tengah mengumpati seseorang.
Ritz yang baru saja tiba di ruang tunggu segera menghampiri wanita baya tersebut.
"Assalaamu'alaikum, Eyang." Sapanya mengucap salam, tidak lupa mencium takzim punggung tangan sang Eyang.
"Wa'alaikumsalam," sahut Eyang membalas salam dari cucunya.
"Eyang pikir kamu tidak datang," lanjutnya dengan sindiran halus menatap kesal cucu kesayangannya itu.
"Eyang datang ngga bilang-bilang, untung aku ngga sibuk di perusahaan. Kalau pas Eyang datang dan aku sedang tidak ada di tempat bagaimana?" Omel Ritz tidak habis pikir dengan kelakuan wanita kesayangannya itu
Keduanya kembali berdebat mempeributkan masalah sepele yang seharusnya tidak penting untuk di perdebatkan.
Ritz menuntun Eyang menuju mobil yang terparkir di depan pintu masuk Bandara, saking senangnnya atas kepulangan si Nyonya besar. Pria itu lupa jika saat datang kemari tadi, ia membawa Ayana ikut bersamanya.
Dari arah jauh, Ayana melihat dua orang yang satunya dia kenal sedangkan satunya lagi baru pertama kali di lihatnya.
Tatapan Ayana dan Ritz saling bertemu membuat Eyang yang melihat sang cucu dengan seorang gadis kecil tidak jauh di depannya ikut keheranan.
Alih-alih ingin bertanya pada cucunya, Eyang justru melangkah sedikit cepat menuju Ayana, dimana posisi gadis itu tepat berdiri di samping mobil milik Ritz.
"Siapa namamu cantik?" Tanya Eyang dengan senyum hangat
Ayana yang kaget tidak langsung menjawab pertanyaan wanita itu, matanya jutru melirik kearah Ritz untuk meminta jawaban, pria itu hanya menganggukan kepalanya pelan.
Sadar jika di hadapannya merupakan Nyonya besar yang di ceritakan Aunty Amalia, sontak Ayana cepat menjawab.
"Ayana, Nyonya." Jawabnya dengan posisi menundukkan kepala, takut jika nanti dii mungkin akan di marahi habis-habisan.
Akan tetapi, dugaan Ayana justru salah. Eyang malah tertawa melihat tingkah kaku dan bingung gadis itu waktu menjawab pertanyaannya.
"Sepertinya Eyang akan punya teman ngobrol mulai sekarang," sorak Nyonya Besar Bachtiar dengan gembira dihadapan Ayana dan juga lainnya.
"Ayo sayang ikut Eyang!" Ajaknya menarik lengan Ayana agar masuk ke dalam mobil
Hal itu membuat Ritz nampak kebingungan bercampur keheranan, ia teringat kembali saat berbicara dengan sang Eyang di telefon tadi.
_Astaga, apa Eyang sudah tahu kalau aku membawa gadis kecil dari negara lain_. Terka Ritz bertanya-tanya dalam hati
Tanpa membuang banyak waktu, Ritz segera masuk ke dalam mobil di ikuti Amalia yang duduk di kursi belakang bersama dengan Ayana juga Eyang.
Mereka langsung menuju rumah utama, dimana sudah ada keluarga besar Bachtiar yang menunggu kedatangan sang Nyonya Besar.
🍃🍃🍃🍃🍃
__ADS_1