
Setelah kejadian kemarin di rumah utama.
Dimana Ritz sampai membuat keributan hanya karena masalah sepele.
Tepat hari ini, Ayana setuju untuk tinggal bersama Eyang sementara waktu. Meski harus melalui banyak drama lebih dulu, membujuk pria tampan posesif kesayangan gadis cantik itu.
Selain Ritz dan kedua orang tuanya, Eyang tidak memberi tahu anggota keluarga yang lain perihal pindahnya Ayana dari rumah yang Ritz tempati selama tujuh tahun bersama putri angkatnya tersebut. Rasa berat dan tidak rela tergambar jelas di wajah tampan Ritz, yang menatap sendu putri kesayangannya.
Eyang sangat mengerti dengan perasaan cucunya, ada rasa bersalah bersemayam dalam hati wanita baya itu. Tetapi, apa yang dia lakukan sekarang tidak lain semuanya demi kebaikan Ayana dan Ritz.
"Percayalah pada Eyang!" Yakinnya sembari mengelus pelan lengan sang cucu yang merenggut kesal
"Aku hanya takut dengan psikologisnya, Eyang. Selama ini Ayana tidak pernah tidur tanpa pengawasan dariku." Khawatir Ritz masih belum merelakan putrinya tinggal dengan sang Eyang
Eyang menatap jengah kearah Ritz, seolah cucunya itu meragukannya.
"Jadi, kamu pikir Eyang tidak bisa menjaganya begitu?" Cetus Eyang menatap jengkel sang cucu
Ritz tertawa sumbang seakan ia ragu dengan kepercayaan diri wanita baya kesayangannya itu.
"Jika Eyang tidak percaya maka cobalah, aku akan menganggap Eyang adalah orang yang hebat seandainya mampu membuat Ayana terbuka pada orang lain selain aku." Kekehnya sengaja membuat kesal Eyang
Melihat tatapan tajam wanita baya itu seolah ingin menerkam Ritz hidup-hidup.
Langsung saja pria itu berlari cepat menjauh pergi menuju putrinya.
"Ritz," teriak Eyang memanggil Ritz yang berlari kearah Ayana.
Dari jauh, gadis itu tampak keheranan melihat Daddy nya yang berlari bagaikan anak kecil.
"Itu Daddy kenapa, Mah?" Tanya Ayana bingung.
"Biasa, paling lagi gangguin Eyang." Jawab Mama Ritz dengan kekehan
Ayana mengangguk paham.
"Emang Daddy suka gitu ya, Mah? Kalau lagi sama Eyang?" Tanya gadis itu lagi
"Mmm, iya sayang. Dari dulu Ritz memang lebih dekat dengan Eyang."
"Kalau sama Mama dan Papa dekat juga?" Mama Ritz menggelengkan kepala, saat Ayana bertanya perihal kedekatannya dengan sang anak.
"Ngga sayang, sejak kecil Ritz di rawat oleh Eyang. Padatnya kesibukan Papa membuat waktu kami sangat sedikit untuknya, kamu bisa lihat sendiri betapa ia lebih dekat dengan Eyang di banding Papa dan Mama." Jelas mama Ritz dengan perasaan sedih menahan sesak dalam hatinya
Sebagai seorang ibu yang hanya memiliki satu orang anak saja membuat wanita itu merasa telah gagal menjadi orang tua, banyaknya alasan yang sering dia berikan saat anaknya membutuhkan kehadirannya, membuat sang putra tumbuh menjadi pribadi yang pendiam dan dingin.
__ADS_1
Kurangnya perhatian dan juga kasih sayang dari orang tua, menyebabkan anak sangat sulit di ajak bicara apalagi sampai di atur. Bagi mereka semua yang di lakukan orang tua bukanlah perhatian, melainkan tekanan yang hanya dapat mengganggu ketenangan mereka.
Mama Ritz, langsung tersadar dari lamunannya saat melihat Ayana sudah merentangkan kedua tangan menyambut Ritz, bersiap memeluk sang Daddy.
Ayana sampai terkejut melihat pria tampan itu begitu erat memeluk tubuh mungilnya, bahkan dia bisa dengan jelas merasakan detak jantung Ritz yang begitu kuat.
"Eyang jahat Baby," adu Ritz merengek manja di pelukan Ayana.
"Kok jahat sih? Memangnya Eyang ngapain sampai di bilang kaya gitu?" Tanya Ayana berusaha menahan diri agar tidak tertawa
"Pokoknya Eyang jahat." Jawab Ritz masih mengatakan sang Eyang jahat
Melihat tingkah konyol Ritz yang berlaku manja pada putrinya baik Papa, Mama dan Eyang sampai menggelengkan kepala.
"Segitu sayangnya kah Ritz pada Ayana?" Tanya Eyang masih terus memperhatikan sang cucu dari arah dekat
"Ya begitulah Mih. Semenjak Ayana hadir dalam kehidupan Ritz, semuanya seakan berubah total. Ia yang dulu sangat sulit di ajak bertemu apalagi sekedar makan malam kini mulai mengiyakan permintaan aku dan Papanya, semua berkat gadis itu." Jawab mama Ritz seraya tersenyum bahagia
"Apa Mami sudah salah bila memisahkan mereka berdua?" Tanya Eyang dengan nada sendu
"Ngga Mami. Apa yang Mami lakukan sudah benar sebab Ayana bukan lagi gadis kecil, usianya makin hari semakin bertambah dan dia juga sekarang terlihat lebih dewasa. Jika membiarkan gadis itu tetap tinggal bersama Ritz takutnya akan menimbulkan masalah yang besar."
Eyang nampak berpikir, apa yang dikatakan menantunya memang benar, jika masih dibiarkan kedua anak itu tinggal bersama takutnya nanti akan ada kejadian yang tidak diinginkan bisa saja terjadi.
"Maksud Mami bicara seperti itu apa?" Tanya Mama Ritz penasaran
Eyang tersenyum mendengar pertanyaan dari menantunya.
"Apa kamu tidak bisa melihatnya sayang? Anak nakal itu sangat menyayangi putri angkatnya," jawab Eyang santai.
"Lalu, apa hubungannya Mami? Bukankah semua tahu bagaimana Ritz sangat menyayangi putrinya?"
"Justru karena itu, rasa sayang yang di miliki Ritz terhadap putrinya bukan rasa sayang antara ayah dan anak pada umumnya."
"Maksud Mami, apa jangan-jangan ..." Mama Ritz seakan paham dengan apa yang di katakan sang Mami.
"Benar, gadis itu tanpa sadar sudah memenuhi hati dan pikiran Ritz. Kamu bisa menilainya sendiri bagaimana ia begitu posesif dan sangat menjaga Ayana dengan ketat, bahkan kekasihnya pun merasa cemburu pada gadis itu. Selama ini Mami sering memantau kehidupan Ritz, jadi tidak heran kalau Mami lebih memilih diam daripada mencampuri masalah hidupnya."
Eyang sangat tahu jelas bagaimana Ritz melewati hari-harinya semenjak hadir sosok gadis cantik yang bahkan mampu mencuri hati cucunya itu.
Jika cucunya saja yang terkenal dingin dan kejam pada akhirnya hatinya luluh juga di depan gadis itu, lantas bagaimana dengan Eyang yang baru saja bertemu namun nyatanya Ayana juga mampu membuat wanita baya kesayangan Ritz itu langsung terpesona.
Beberapa menit kemudian semua sudah bersiap naik ke mobil masing-masing, dimana Ritz begitu keukeh ingin satu mobil dengan Ayana dan tentu tidak ada yang berani menolak keinginan pria tampan itu.
Di dalam mobil yang di tumpangi Mama Ritz dan juga Eyang, tampak kedua wanita beda usia tersebut masih membahas masalah Ritz dan Ayana.
__ADS_1
"Kalau sudah sampai begini selanjutnya apa yang akan Mami lakukan?" Tanya wanita itu ingin tahu rencana yang dibuat sang mertua
"Jika sudah tiba waktunya kamu akan tahu nanti." Jawab Eyang singkat tidak ingin benyak bicara
Perjalanan yang memakan waktu hampir satu jam itu mereka gunakan untuk istirahat sejenak.
Mobil yang melesat dengan kecepatan sedang, akhirnya sudah tiba di depan rumah besar milik Nyonya besar Bachtiar.
Orang tua Ritz dan Eyang sudah turun dari mobil, mereka masih menunggu dua orang yang belum juga keluar dari dalam mobil.
Di dalam mobil yang di naiki Ritz dan Ayana masih ada Paman sopir yang juga belum turun.
Pria itu hampir saja tersedak air liurnya sendiri akibat ulah dari pasangan ayah dan anak angkat tersebut.
"Turun yuk," ajak Ritz dengan nada begitu lembut.
"Ayana takut," sahut si cantik dengan manjanya.
"Kan masih bisa bertemu sayang." Ritz dengan sabar merayu putri kesayangannya itu
"Daddy ikut nginap juga ya," pinta Ayana dengan wajah menggemaskan.
Hal itu membuat Ritz langsung mencium seluruh wajah gadis itu tanpa ampun.
"Kalau itu nanti kita diskusi dulu sama, Eyang." Kekeh Ritz merasa lucu saat wajah putrinya berubah jadi masam
"Au aaa, Daddy suka PHP." Ketus Ayana berlalu keluar mobil tanpa menunggu Daddy nya
Beberapa pelayan terlihat sudah berjejer rapi berdiri di depan pintu utama menyambut kedatangan mereka.
Si cantik yang masih takut dengan cepat di gandeng Ritz menuju ruang tengah, di sana sudah ada Papa, Mama dan Eyang duduk santai di depan layar TV yang terpasang.
Mata Ayana menatap takjub melihat keindahan rumah besar dan mewah milik Eyang, rasa nyaman dan tenang dapat gadis itu rasakan saat mengamati setiap sudut rumah.
"Kalau rumahnya ajah adem begini mana bisa Ayana merasa bosan apalagi tidak nyaman." Gumamnya pelan namun masih bisa di dengar oleh Ritz
"Jadi sekarang sudah betah tinggal di rumah Eyang?"
"Ngga tahu, lihat saja nanti. Asalkan Daddy ngga pernah absen buat temui Ayana di rumah Eyang." Kekeh si cantik langsung berhambur ke pelukan Ritz
Ayana tidak menyangka jika niat baik Eyang, ternyata bukan sesuatu yang boleh dia takuti. Apa yang gadis itu pikirkan semalaman justru jauh berbeda dengan kenyataan yang ada.
Betapa nyaman dan tenang dapat Ayana rasakan, berada dalam rumah milik Nyonya besar Bachtiar tersebut.
🍃🍃🍃🍃🍃
__ADS_1