
...πΊπΊπΊπΊπΊ...
Dua hari telah berlalu, waktu yang di tunggu-tunggu akhirnya tiba juga. Beberapa keperluan Eyang dan Ayana sudah di masukkan dalam koper besar, termasuk satu boneka besar yang di beli Ritz.
Hanya benda itulah yang akan mengobati rasa rindu Ayana pada sang Daddy ketika berada di rumah sakit.
#Rumah Ritz
"Janji ya ngga boleh nangis." Pinta Ritz di saat keduanya masih berada dalam kamar milik Ayana
Gadis itu bukannya menjawab melainkan sudah menangis sesegukan dalam dekapan hangat Ritz, rasa tidak rela akan berpisah lumayan lama membuat Ayana di runduh takut dan gelisah.
"Ayana benci Daddy." Kesal si cantik kesayangan Ritz
Belum juga berangkat nyatanya sikap posesif dan cemburu tingkat tinggi Ayana mulai timbul ke permukaan, sekelabat bayangan akan pertemuan pria kesayangannya dengan sang kekasih Maira terus berputar di otak Ayana.
Ayana tidak tahu saja kalau lamaran Maira telah di tunda.
"Kok benci Daddy sih, sayang? Memangnya Daddy melakukan kesalahan apa?" Tanya Ritz bingung
Pasalnya ia tidak merasa sudah berbuat salah, dua hari yang di berikan sang Eyang pun di gunakan Ritz hanya untuk bersama putri angkatnya tersebut.
Mendengar kata benci keluar dari mulut Ayana, sontak membuat Ritz bingung bercampur heran. Ia harus meyakinkan putrinya sebelum mereka nantinya akan berpisah, terlebih Eyang dengan cepat meminta Ritz untuk terbang ke Amerika di hari yang sama dengan keberangkatan Ayana ke Australia.
"Pokoknya Ayana benci Daddy." Jawab Ayana keukeh tetap mengatakan benci pada Ritz
"Iya, tapi alasannya apa sayang?" Gemas Ritz sampai mencium habis seluruh wajah putri angkatnya itu
Bibir mungil kemerahan tidak luput dari ciuman Ritz, hanya sekadar ciuman biasa tidak lebih.
"Daddy menyayangi mu." Bisik Ritz begitu lembut di telinga Ayana
"Ayana lebih sayang Daddy banyak-banyak." Kekeh si cantik yang menahan geli akibat ulah hidung mancung sang Daddy bermain di area telinga
Ayah dan anak tidak sedarah itu saling melepas kerinduan dan semua rasa bersemayam dalam hati, satu bulan bukan waktu yang singkat apalagi selama masa pemulihan Ayana di larang menghubungi Ritz apapun alasannya.
Selama perjalanan menuju rumah utama, banyak pesan yang Ritz berikan pada gadis kesayangannya itu.
"Iya Daddy, sayang. Kenapa mendadak Daddy jadi cerewet sekali?" Sahut Ayana menatap gemas ke arah Ritz
__ADS_1
"Justru yang harus jaga diri itu Daddy bukan Ayana." Cebik Ayana menatap tajam sang Daddy
"Kok malah Daddy?" Protes Ritz
"Iya lah, Daddy kan akhir-akhir ini suka bohong sama Ayana." Sindir si cantik kesayangannya
Mata Ritz membulat sempurna kala mendapat tuduhan dari putrinya.
"Mana ada, Daddy selalu berkata jujur kok. Tiap hari kamu sendiri lihat Daddy ngapain ajah, lengket mulu ikut ke kantor ngga pernah absen masa bilang Daddy suka bohong." Elak Ritz tidak terima merasa tuduhan gadis kesayangannya tidak masuk akal
Mendengar omelan Ritz, bukannya takut melainkan Ayana malah tertawa.
Mungkin bagi mereka yang tidak mengerti dengan situasi Ritz akan menilai apa yang di lakukannya adalah salah, mana ada hanya seorang anak angkat saja sampai di perlakukan layaknya seorang Ratu.
Selama tujuh tahun Ayana seakan lupa bagaimana rasanya hidup serba kekurangan, terlebih semua kebutuhan Ayana selalu terpenuhi. Apapun yang di inginkan tinggal minta Ritz belikan, namun semua itu mungkin tidak akan terjadi lagi bila akhirnya pernikahan yang sudah di tetapkan tetap berlanjut.
Bagi Ayana keputusan yang Eyang buat untuk membawanya melakukan pengobatan di negara tetangga tanpa adanya Ritz, sudah menjadi pilihan yang tepat.
Dengan begitu Ayana bisa belajar membiasakan diri melewati hari-harinya tanpa sosok Ritz sebagai satu-satunya yang dia percaya.
...****...
"Kuatkan hati ku, agar tidak bergantung dan berharap lebih jauh pada pria yang sebentar lagi akan menjadi milik wanita lain." Gumam Ayana begitu lirih
"Sekeras apapun aku menahannya tetap saja rasa ini semakin dalam dan jauh, andai pertemuan itu tidak terjadi mungkin sekarang aku menjalani hidup dengan tenang di negara ku."
Sesak rasanya berusaha menahan diri setiap kali rasa cemburu dan sakit hati mulai menghampirinya, selalu menjadi yang pertama tetapi pada akhirnya yang berdiri sejajar di samping pria kesayangannya adalah orang lain bukan dirinya.
Lamunan Ayana langsung buyar saat merasakan sebuah tangan menghapus air mata yang membasahi pipinya.
"Mama," Lirih Ayana melihat wanita cantik yang begitu menyayanginya duduk tetap di sampingnya
"Tenangkan hatimu sayang, lepaskan perlahan jika itu terasa sangat sakit. Mama tahu semuanya sayang, mama tahu selama ini Ayana berusaha menahan diri." Sahut Mama Ritz memeluk erat tubuh gemetar Ayana
"Maafkan atas kelancangan Ayana, Mah." Tangis gadis itu pecah mengingat bagaimana perjuangannya selama ini menahan diri
"Kamu tidak salah sayang, timbul sebuah rasa pada sosok yang telah menjaga dan memberikan kita rumah sebagai tempat berlindung bukan kesalahan. Mama yakin di hati Ayana sama sekali tidak memiliki niat buruk, dan mama akan tetap menganggap Ayana sebagai putri mama."
"Tapi Ayana tidak sanggup Mah, rasanya sakit membayangkan Daddy sebentar lagi akan menikah dengan tante Maira." Adu Ayana mengutarakan isi hatinya
__ADS_1
Gadis itu tidak peduli lagi dengan penilaian wanita yang merupakan ibu dari pria yang sangat dia cintai, sekarang ini Ayana hanya butuh sebuah pelukan, dia butuh sandaran di saat hatinya mulai lelah, dan semua itu Ayana dapatkan dari mama Ritz.
Dari percakapan mereka di dalam kamar milik Eyang, tanpa sadar seseorang telah mendengar semuanya dari balik pintu yang tidak tertutup rapat.
Ritz mendengar semuanya, apa yang keluar dari mulut gadis kesayangannya. Ia tidak menyangka selama ini ternyata Ayana memendam perasaan terhadapnya.
"Ngga, ini ngga mungkin. Bagaimana bisa semua berubah jadi begini, aku pasti salah dengar bukan? Mana mugkin seorang anak yang aku rawat selama tujuh tahun menyimpan perasaan yang mendalam terhadap ku."
Ia sama sekali tidak percaya dengan apa yang barusan di dengarnya, mustahil gadis itu menyukainya.
"Apa ini Tuhan, kebenaran apa lagi yang aku dengar sekarang?"
Mata Ritz memanas dengan tubuh yang bergetar hebat, sebuah kenyataan pahit perihal kebenaran tersembunyi harus di dengarnya lewat bibir mungil Ayana.
...****...
Tidak ingin berpikir terlalu jauh membuat Ritz memilih pergi meninggalkan rumah utama, yang ia butuhkan saat ini adalah tempat yang aman.
Sepanjang perjalanan tanpa arah tujuan, kalimat demi kalimat yang terucap dari mulut Ayana terus terngiang-ngiang di telinga Ritz.
Sebuah pengakuan yang jujur dan paling menyakitkan mampu menggoyakan hatinya.
"Aaarrrggghhh"
"Kenapa? Kenapa semua jadi begini?"
Ritz berteriak frustasi.
.
.
.
ππππ
Likenya jangan lupaπ
Komennya juga yang sopanπ
__ADS_1