Daddy I Love You

Daddy I Love You
DILY Bab 17 ~ Demi Daddy


__ADS_3

Usai berbicara dengan sang Eyang, yang memakan waktu hampir dua jam lamanya. Dengan langkah gontai Ritz menghampiri sang putri yang tertidur begitu pulasnya di atas ranjang milik wanita baya kesayangannya itu.


"Eyang akan turun lebih dulu untuk berbicara dengan Papa dan Mama mu, perihal masalah yang pernah terjadi dulu biar Eyang selesaikan dengan Paman dan juga Bibi mu." Ucap Eyang sebelum akhirnya berlalu keluar kamar di bantu Amalia


Sepeninggal Eyang, masih dengan posisi yang sama Ritz terus menatap intens wajah damai putrinya. Rasa berat dan tidak rela terus bersemayam di hati mengingat mulai besok gadis itu tidak lagi tinggal satu atap dengannya.


_Takdir sungguh mempermainkan hidupku._ Bathin Ritz


Setengah jam kemudian, Ayana bangun dari tidurnya.


Sesekali gadis cantik itu menguap masih merasakan kantuk yang luar biasa, matanya dibuka dengan perlahan langsung mencari sosok yang sangat di sayanginya.


"Daddy," teriak Ayana kaget tidak mendapati Daddy nya dalam kamar.


Ritz yang baru saja keluar dari kamar mandi sampai di buat panik mendengar suara teriakan dari putrinya.


"Huaa, Daddy."


Tangisan Ayana terhenti saat Ritz sudah berlari keluar kamar mandi, menghampiri putrinya yang masih terbaring sambil terisak.


"Ada apa sayang, kenapa teriak-teriak?" Panik Ritz mendekap hangat tubuh mungil putrinya


"Ayana takut Dad." Jawab gadis itu lirih dengan tangan yang bergetar hebat


"Ayana kira tadi tadi Daddy ninggalin Ayana disini, Ayana takut."


Rasa trauma yang pernah di alaminya dulu membuat psikologis gadis itu mudah terguncang.


"Sstt, maafkan Daddy, sayang. Tenanglah! Daddy tidak pergi kemena-mana." Sesal Ritz terus berusaha menenangkan putrinya


Bagaimana ia bisa percaya jika tinggal bersama sang Eyang akan membuat putrinya merasa nyaman, sedangkan gadis itu selama ini sangat bergantung padanya.


Rasa dilema mulai Ritz rasakan, mana kala harus menyampaikan kesepakatan yang sudah dibuat sang Eyang.


Drama tangisan si gadis cantik itupun berakhir dengan rayuan Ritz yang mengatakan ingin membawanya pulang kembali ke rumah.


"Ngga nginap di sini kan, Dad?" Tanya Ayana memastikan


"Hmm, Daddy ada rapat pagi. Arah dari rumah utama ke perusahaan lumayan jauh, kita akan pulang sekarang."


Ritz menggandeng tangan putrinya keluar darinkamar Eyang.


Keduanya berjalan beriringan menuju lantai bawah dimana semua anggota keluarga masih berada disana.


Masih dari atas tangga, Ayana mulai merasa tidak nyaman. Bayangan kejadian masa lalu masih jelas tersimpan di memori otaknya, Ritz tersentak kaget merasakan genggaman putrinya semakin erat.


"Jangan takut, Daddy tidak akan membiarkan mereka menyakitimu." Ritz terus melangkah turun dari tangga menuju ruang tengah


Tatapan matanya begitu tajam dan dingin, seakan tidak peduli dengan beberapa orang tengah berbisik sembari memperhatikan mereka.


Eyang bangkit dari tempat duduk mendekat kearah cucu dan gadis cantik yang sudah berhasil mengambil hatinya itu.


"Sudah bangun sayang?" Tanya Eyang pada Ayana dengan senyum hangat


"Iya, Eyang. Maaf kalau Ayana sudah lancang tidur di kamar Eyang." Jawab Ayana seraya menunduk malu

__ADS_1


"Tidak usah sungkan pada Eyang, justru Eyang sangat senang bisa mengenal mu walau sesaat." Kata Eyang menatap penuh sayang Ayana


Percakapan keduanya terhenti, kala Ritz mengucapkan sesuatu. Dari nada bicaranya seperti tidak ingin di bantah siapapun termasuk sang Eyang.


"Kamu bilang apa barusan, Ritz?" Tanya Eyang meminta Ritz mengulang kalimatnya barusan, wanita baya itu berharap mungkin dia salah dengar.


"Aku dan putriku akan kembali ke rumah sekarang, tinggal lama-lama disini bisa mengganggu mental Ayana." Ulang Ritz kembali tanpa adanya ekspresi


"Kamu akan membawanya pulang? Memangnya rumah ini sangat kecil sampai tidak memiliki kamar untuk kalian tempati?" Tanya Eyang dengan nada menahan kekesalan


Sementara Ritz, kelihatan acuh tidak menghiraukan pertanyaan yang di berikan sang Eyang, keputusannya untuk pulang ke rumah tidak bisa di bantah siapapun.


"Menginaplah di sini, Ritz!" Pinta Eyang memohon, tetapi dengan keras di tolak cucunya.


"Tidak Eyang. Sejak dulu aku paling benci menginjakkan kaki di rumah ini, bukankah aku pernah mengatakan sebelumnya pada Eyang?" Sahut Ritz tetap menolak permintaan sang Eyang


Baru saja wanita baya itu kembali berbicara nyatanya langkah Ritz lebih cepat keluar dari rumah utama, meninggalkan semua orang dengan tatapan tidak percaya kearah pasangan ayah dan anak tersebut.


Papa dan Mama Ritz dengan cepat menghampiri Eyang, untuk menenangkan wanita baya itu.


"Sebegituh bencikah cucuku, sampai ia tidak sudi menginap di rumah ini meski ada aku." Ucap lirih Eyang dengan perasaan sedih


.


.


Selama perjalanan pulang menuju rumah, Ritz tidak henti-hentinya mencium dan memeluk erat putrinya penuh sayang.


Ia sadar telah lancang membantah sang Eyang tadi, rasa takut dan amarah membuat Ritz hampir kehilangan kesabarannya.


"Sayang bangun, kita sudah sampai rumah." Bisik Ritz membangunkan sang putri


Si cantik bukannya bangun, melainkan lebih mempererat pelukannya di tubuh Ritz yang terasa begitu hangat.


"Gendong aja, Dad!" Sahut Ayana tanpa mau membuka matanya


Dengan perasaan gemas, Ritz keluar dari mobil sambil menggendong putrinya, ia melihat seorang pelayan sudah membukakan pintu rumah.


"Terima kasih," ucapnya kemudian masuk kedalam lift yang sudah terbuka menuju lantai atas.


_Tring_


Seperti biasa, Ritz bukan membawa putrinya di kamar gadis itu sendiri melainkan membawanya masuk ke dalam kamar miliknya.


Katakan saja ia sudah gila.


"Bangun sayang, kalau pas bangun terus ngga ada Daddy jangan nangis loh." Bisik Ritz tepat di telinga sang putri yang menggeliat kecil


Perlahan matanya dibuka, menatap intens wajah tampan pria kesayangannya tengah tersenyum manis.


"Daddy jangan senyum gitu," sahut Ayana dengan kedua pipi yang memerah.


"Kenapa? Bukannya Daddy selalu tersenyum seperti ini?" Tanya Ritz dengan sorot mata teduh


Ayana sungguh dibuat melayang jauh, tatapan Daddy nya sekarang menurutnya sedikit berbeda dari biasanya.

__ADS_1


Seperti ada sesuatu yang entah apa itu, yang jelas Ayana begitu penasaran ingin bertanya.


"Are you okay, Dad?"


"No Baby."


"Why?" Ayana dibuat penasaran dengan sikap diamnya sang Daddy.


"Katakan ada apa, Dad?" Tanya Ayana lagi


"Janji ngga akan marah sama Daddy?"


Ayana nampak bingung dengan pertanyaan Daddy nya, apa terjadi sesuatu saat mereka di rumah utama tadi?


"Apa Eyang ngomong sesuatu ke Daddy?" Tebak Ayana langsung di balas anggukan kepala pria itu


"Maafkan Daddy." Ucap lirih Ritz dengan mata sudah berkaca-kaca


Hal itu membuat gadis cantik yang masih terbaring sontak bangkit dari tidurnya, Ayana duduk menghadap kearah Ritz, dengan banyaknya pertanyaan timbul di otaknya.


"Daddy," panggil Ayana sudah memeluk tubuh lemah pria kesayangannya itu penuh sayang.


"Ayana akan terima apapun yang akan Daddy katakan jika Eyang memiliki tujuan yang baik, tentu Ayana dengan senang hati menerimanya." Lanjutnya bicara tanpa melepas pelukan erat di tubuh kekar Ritz


Cukup lama Ritz terdiam dalam posisi memeluk erat putrinya, dirasa jantungnnya mulai berdetak normal, ia berusaha mengatakan apa maksud dan tujuan sang Eyang.


"Ayana sayang, dengarkan Daddy!" Pinta Ritz dengan lembut


"Tadi, Eyang membahas soal hubungan kita yang semua orang tahu Ayana merupakan putri angkat Daddy. Dari apa yang kami bicarakan, Eyang ingin agar putri cantik Daddy yang manja ini tinggal bersama Eyang untuk sementara waktu." Jelas Ritz dengan kalimat sehalus mungkin berharap putrinya dapat mengerti


Awalnya, Ritz mengira jika putrinya mungkin akan marah atau menolak keinginan sang Eyang. Tetapi, dugaannya justru salah.


Si cantik yang mulai beranjak dewasa itu nyatanya malah tersenyum manis dengan binar mata antara sedih dan juga terharu.


"Daddy takut ya, karena mulai sekarang Ayana menjadi tahanan rumah Eyang." Kekehnya begitu kuat


"Jangan khawatir Dad, selama Eyang ngga ada niat misahin kita apapun itu Ayana masih bisa kerjasama." Ayana tertawa demi menyembunyikan perasaannya


Mulut Ritz menganga tidak percaya dengan jawaban yang diberikan putri kesayangannya itu.


Dapat ia rasakan betapa jahatnya gadis itu sengaja membuatnya tersiksa menahan rindu setiap saat.


"Are you serious, Baby?" Tanya Ritz sedikit kesal


"Yes, Daddy." Kekeh Ayana sengaja membuat kesal pria kesayangannya tersebut


Raut wajah masam sang Daddy begitu menggemaskan di mata Ayana.


"Demi Daddy." Tegas Ayana


"Jika itu demi Daddy, apapun akan Ayana lakukan selama itu masih pada batas yang wajar, bukankah maksud Eyang sudah baik?" Imbuhnya.


Hari yang di khawatirkan Ayana, akhirnya datang juga. Dia tidak menyangka akan ada saat dimana takdirnya kembali di uji, menjadi satu-satunya gadis yang sangat di sayangi seorang pria tampan dan sangat melindunginya, merupakan anugerah terindah yang sang pencipta berikan pada Ayana. Yang dulunya tidak memiliki keluarga, kini gadis itu mendapatkannya bahkan lebih dari cukup.


🍃🍃🍃🍃🍃

__ADS_1


__ADS_2